Aksi Austindo (ANJT) dan Jejak Konglomerat Sawit Ciliandra Fangiono di Baliknya
Emiten perkebunan kelapa sawit PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) menjadi perhatian setelah mengumumkan penghentian operasional tiga anak usahanya sekaligus. Tiga anak usaha yang dihentikan kegiatannya adalah PT Austindo Nusantara Jaya Bogor, PT ANJ Agri Papua, dan PT Gilang Mas Indonesia.
Manajemen ANJT menjelaskan langkah ini diambil karena ketiga entitas tersebut dinilai tidak lagi memberikan kontribusi positif dan tidak sejalan dengan arah strategi bisnis perseroan. Mereka menilai ketiga anak usaha yang ditutup secara konsisten mencatatkan kerugian.
“Ketiga anak usaha tersebut secara konsisten mencatatkan kerugian dan tidak memberikan kontribusi positif terhadap laba rugi konsolidasian perseroan,” tulis manajemen ANJT dalam keterbukaan informasi BEI dikutip Senin (26/1).
Menurut penjelasan manajemen ANJT, penghentian operasional ini menjadi bagian dari penyesuaian strategi jangka panjang perusahaan. ANJT kini memilih untuk memfokuskan pengembangan usaha pada kompetensi intinya di bidang perkebunan kelapa sawit, sekaligus mengoptimalkan entitas anak yang terbukti memberikan kontribusi positif.
Aksi berbenah ANJT ini muncul setelah nama konglomerat Ciliandra Fangiono muncul sebagai pengendali baru. Aksi korporasi lewat akusisi yang ia lakukan melalui entitas bisnis First Resources Limited yang berbasis di Singapura membuat ia kini menjadi pengendali baru salah satu emiten sawit Tanah Air PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT).
Di kalangan pelaku pasar, nama Ciliandra bukan sosok yang baru. Ia merupakan salah satu taipan sawit terkaya Asia Tenggara. Merujuk laman Forbes Millionaires, pada akhir 2024 Ciliandra menjadi orang terkaya ke-24 di Indonesia dengan kekayaan mencapai US$ 2,4 miliar atau sekitar Rp 39,31 triliun.
Pengendalian Ciliandra di Austindo disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) ANJT yang digelar di Menara SMBC, Jakarta, Rabu (7/5) tahun lalu. Lewat akuisisi itu memimpin pengambilalihan saham dari PT Memimpin Dengan Nurani, PT Austindo Kencana Jaya, Tuan George Santosa Tahija dan Tuan Sjakon George Tahija
Aksi korporasi industri kelapa sawit Indonesia ini membuat First Resources jadi penguasa 3,057 miliar lembar saham ANJT atau senilai sekitar setara 91,17%. Sementara publik memiliki saham sebanyak 296 juta lembar atau setara 8,32%.
Sebelum pengambilalihan ini, First Resources tercatat hanya memiliki 0,32% saham ANJT secara tidak langsung. Sementara pengendali utama saat itu adalah PT Memimpin Dengan Nurani dan PT Austindo Kencana Jaya, masing-masing menguasai 40,86% saham.
Profil Raja Sawit Ciliandra Fangiono
Ciliandra Fangiono adalah CEO First Resources Limited selama lebih dari satu dekade. First Resources merupakan salah satu perusahaan produsen minyak kelapa sawit terbesar di Singapura. Mengutip laman resmi First Resources, pria berusia 49 tahun ini telah menjadi anggota dewan direksi sejak 2007 dan diangkat menjadi direktur sejak April 2023.
Di bawah kepemimpinannya, perseroan berhasil memperluas aset perkebunan serta mampu mengelola seluruh rantai pasok sawit dengan lebih dari 200.000 hektare lahan perkebunan tersebar di Riau, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat.
Dikenal sebagai Raja Sawit, Ciliandra juga meneruskan bisnis keluarga yang dirintis ayahnya, Pung Kian Hwa alias Martias melalui Surya Dumai Group. Sebelum terjun ke bisnis keluarga, Ciliandra mengawali kariernya di Divisi Perbankan Investasi Merrill Lynch, Singapura. Di sana, ia menangani berbagai transaksi seperti merger, akuisisi dan penggalangan dana perusahaan-perusahaan di kawasan Asia Tenggara.
Menilik latar belakang akademis, Ciliandra meraih gelar Sarjana dan Magister Seni di bidang Ekonomi dari Universitas Cambridge, Inggris. Selama menempuh pendidikan di Cambridge. Ia merupakan sarjana senior di bidang ekonomi dan dianugerahi Penghargaan Buku PriceWaterhouse saat berada di Universitas Cambridge. .
Kinerja Usaha ANJT Austindo
Di sisi lain, ANJT mencatatkan lonjakan piutang usaha per 30 September 2025 menjadi US$ 24,95 juta, meningkat signifikan dibandingkan posisi per 31 Desember 2024 yang sebesar US$ 869.778. Selain itu, terdapat selisih saldo piutang pihak berelasi yang belum dilunasi, yakni sebesar US$ 24,3 juta pada Catatan atas Laporan Keuangan (CALK) 7 dan US$ 21,9 juta pada CALK 41.
Manajemen menjelaskan, peningkatan piutang usaha kepada pihak berelasi terutama disebabkan oleh perubahan ketentuan perdagangan. Penjualan produk yang sebelumnya dilakukan secara tunai kini menggunakan skema pembayaran dengan jangka waktu tertentu.
Di sisi lain, ANJT juga memperoleh fasilitas pinjaman senilai Rp 4,84 triliun dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Fasilitas tersebut akan digunakan oleh empat anak usaha, yakni PT Sahabat Mewah dan Makmur sebesar Rp 1,63 triliun, PT Kayung Agro Lestari Rp 1,39 triliun, PT Austindo Nusantara Jaya Agri Rp 760 miliar serta PT Austindo Nusantara Jaya Agri Siasis sebesar Rp 1,06 triliun.
Manajemen ANJT menilai transaksi pinjaman tersebut sebagai transaksi material, karena nilainya melebihi 50% dari ekuitas perseroan berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 31 Desember 2024. Adapun ekuitas ANJT pada periode tersebut tercatat sebesar US$ 391,89 juta.
Pada perdagangan hari ini secara intraday pukul 9.47 WIB, harga saham ANJT naik tipis 0,85% atau 15 poin ke level 1.780. Pada tiga bulan terakhir, harga sahamnya merosot 18,72%.

