BCA (BBCA) Raup Laba Bersih Rp 57,5 T di 2025, Bagaimana Prospek Kinerja 2026?

Karunia Putri
28 Januari 2026, 16:16
Saham
ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/tom.
Staf BCA memberikan penjelasan kepada pengunjung tentang program pembiayaan KKB Refinancing pada Fin Expo 2025 di Pontianak Convention Center, Kalimantan Barat, Sabtu (18/10/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) baru saja merilis laporan keuangan konsolidasian yang diaudit untuk tahun buku 2025. Hasilnya, BBCA membukukan pertumbuhan laba bersih dan sejalan dengan ekspektasi pelaku pasar.

Mengacu pada laporan keuangan Desember 2025, BBCA mencatatkan laba bersih tahun berjalan yang diatribusikan untuk pemilik sebesar Rp57,5 triliun. Dengan capaian ini laba bersih BBCA masih bisa tumbuh hingga 4,9% secara year-on-year (yoy).

Kinerja ini sejalan dengan ekspektasi pasar yang tercermin dari konsensus analis yang memperkirakan BBCA bakal meraup laba bersih sebesar Rp57,7 triliun.  Merujuk laporan, pertumbuhan laba bersih BBCA juga ditopang pendapatan bunga bersih yang masih naik.

Hingga 31 Desember 2025, bank dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar di BEI tersebut mencatatkan pendapatan bunga bersih sebesar Rp85,8 triliun atau naik 4,0% yoy.  Tak hanya itu, BBCA telah sukses melakukan efisiensi yang tercermin dari penurunan beban operasional. Di sepanjang 2025, BBCA mencatatkan beban operasional sebesar Rp14,3 triliun atau turun 7,7% yoy.

Prospek BBCA di 2026

Memasuki 2026, banyak pihak yang menilai sektor perbankan Indonesia menghadapi berbagai tantangan. BRIDanareksa Sekuritas bahkan memberikan rating netral terhadap sektor perbankan. Broker tersebut bahkan menyebut kualitas aset masih menjadi tantangan tersendiri.

Meski demikian, BRIDanareksa Sekuritas justru menjadikan BBCA sebagai saham pilihan utama untuk sektor perbankan. BRIDS bahkan mengapresiasi kinerja BBCA dalam menjaga kualitas aset miliknya.

“BBCA secara umum mempertahankan tingkat NPL yang paling rendah dan paling stabil, yang mencerminkan penerapan kebijakan penyaluran kredit yang konservatif serta pengendalian risiko yang kuat, bahkan pada periode tekanan atau kondisi ekonomi yang menantang.” Tulis Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis analis BRIDanareksa Sekuritas dalam laporan risetnya.

Dalam riset tersebut, mereka menyoroti BBCA yang mencatat tingkat net write-off tertinggi dalam empat tahun terakhir pada 2025, dengan akselerasi yang tajam sejak pertengahan tahun. Menurut Victor dan Naura, hal ini justru mencerminkan pembersihan neraca yang proaktif, bukan penurunan kualitas aset yang mendasarinya. Apalagi, BBCA pada umumnya melakukan write-off lebih awal (front-loading) ketika tingkat pemulihan dinilai rendah.

“Tingginya write-off tersebut merefleksikan kepercayaan terhadap ketahanan laba dan kekuatan permodalan, sehingga BBCA mampu secara agresif menghapus kredit bermasalah lama sambil tetap menjaga rasio NPL pada level struktural yang rendah.” tambah mereka dalam laporan risetnya.

Sementara itu, BRIDanareksa turut menyoroti BBCA yang masih akan fokus pada segmen penyaluran kredit ke segmen korporasi blue chip. Di tengah kondisi perbankan yang dibayangi dengan risiko kualitas aset, pendekatan BBCA yang prudent membuat broker lokal terkemuka tersebut kepincut pada sahamnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...