Saham BBCA Melorot hampir 9% saat IHSG Tertekan, Harga Kembali ke Level Covid
Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kini sudah merosot hingga ke level yang sama seperti saat pandemi Covid-19 lalu. Pada perdagangan intraday hari ini, Kamis (29/1) saham BBCA sempat anjlok 8,90% ke 6.400 pukul 09:59 WIB.
Saham BBCA kini sudah merosot hingga 16,10% secara year to date (ytd). Kemudian pukul 11:06, saham BBCA kemudian bangkit ke Rp 6.775 per lembarnya.
Volume yang diperdagangkan tercatat 757,84 juta dengan nilai transaksi Rp 5,03 triliun, dan kapitalisasi pasarnya menjadi Rp 835,19 triliun. Padahal saham BBCA sempat menyentuh level tertinggi Rp 10.950 pada 23 September 2024 lalu.
Di sisi lain, Sucor Sekuritas merekomendasikan beli untuk saham BBCA dengan target harga Rp 11.500. Analis Sucor Sekuritas, Edward Lowis mengatakan, target saham itu mengimplikasikan rasio price to book value (PBV) 2026F sebesar 4,6x dan biaya ekuitas sebesar 11,5%.
“Seiring sektor perbankan memasuki fase pemulihan pada 2026F, kami memandang BBCA sebagai salah satu yang pertama untuk mengalami re-rating.” ucap Edward dalam rilisnya, Senin (26/1).
Merespons hal itu, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk, Hendra Lembong, menyampaikan bahwa manajemen BCA kini fokus memastikan kinerja perusahaan tetap terjaga secara optimal. Adapun sekitar 70–80% kepemilikan saham BBCA saat ini berada di tangan investor asing.
Hendra menjelaskan, pergerakan harga saham adalah hal yang wajar karena dipengaruhi oleh dinamika pasar. Dengan porsi kepemilikan asing yang dominan pada saham berstatus free float, fluktuasi harga saham BBCA bergantung pada kondisi global hingga sentimen investor.
“Jadi memang pertanyaannya ini agak sulit untuk dijawab apakah ini saatnya beli atau tidak. Karena ini tergantung bagaimana para investor asing melihat prospek ekonomi Indonesia kedepannya,” ucap Hendra kepada wartawan dalam paparan publik tahun buku 2025 secara virtual, Selasa (27/1).
Turunnya harga saham BBCA juga seiring dengan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG yang kian anjlok. Indeks rontok 5% meninggalkan level 8.000 pada pembukaan perdagangan hari ini, Kamis (29/1).
Sentimen pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) soal hasil penilaian terkait perubahan metodologi perhitungan porsi saham publik atau free float di pasar saham Indonesia masih membayangi laju IHSG.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) IHSG ambruk 4,14% atau 426,03 poin ke level 7.977 pukul 9.01 WIB. Volume transaksi perdagangan mencapai 4,04 miliar saham, frekuensi sebanyak 308 ribu kali dan kapitalisasi pasar sebesar Rp 14.323 triliun.
Adapun salah satu hasil pengumuman MSCI tersebut adalah MSCI memutuskan membekukan sementara sejumlah perubahan indeks yang melibatkan saham-saham Indonesia. Hal ini dilakukan menyusul kekhawatiran investor global terhadap transparansi data kepemilikan saham serta aspek kelayakan investasi (investability) pasar.
BBCA Buyback Saham Rp 5 Triliun
Di tengah penurunan IHSG dan harga saham, manajemen BBCA juga berencana melakukan pembelian saham kembali atau buyback. Emiten perbankan swasta ini akan mengeluarkan dana maksimal Rp 5 triliun untuk mengeksekusi aksi korporasi itu.
Manajemen BBCA menjelaskan, jumlah saham yang dibeli kembali oleh perseroan tidak akan melebihi 10% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan. Selain itu, jumlah porsi saham publik atau free float BBCA setelah buyback, tidak akan kurang dari 7,5% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.
“Perseroan bermaksud melaksanakan buyback dalam rangka mendukung stabilitas pasar modal Indonesia pada 2026, meningkatkan kepercayaan investor, serta memberikan tingkat pengembalian yang lebih optimal bagi para pemegang saham,” kata manajemen BBCA dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip Kamis (29/1).
Aksi korporasi itu akan dibahas oleh para pemegang saham BBCA dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada 12 Maret. Langkah ini akan dilaksanakan setelah memperoleh restu dari RUPST hingga 12 bulan setelah rencana disetujui, kecuali diakhiri lebih cepat oleh perseroan dengan memperhatikan ketentuan.
Buyback akan dilakukan di BEI melalui pasar reguler dan hanya digelar melalui PT BCA Sekuritas. Dalam pelaksanaan buyback, BBCA akan menggunakan dana internal dan bukan berasal dari pinjaman atau dana hasil penawaran umum. Hasil pembelian kembali saham ini akan dicatat sebagai saham treasuri yang menjadi pengurang ekuitas perseroan.
"Kegiatan usaha perseroan dalam bidang perbankan menghasilkan laba dan arus kas yang baik," kata manajemen.
