Net Sell Asing Tembus Rp 13,9 T Sepekan, Investor Lepas Saham BBCA hingga BMRI
Investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) bernilai jumbo sepanjang perdagangan 26–30 Januari 2026. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai net sell asing pada periode tersebut mencapai Rp 13,92 triliun.
Tekanan jual investor asing menguat setelah pengelola indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan penangguhan proses rebalancing indeks saham Indonesia. Keputusan tersebut diambil karena MSCI menilai tingginya konsentrasi kepemilikan saham sehingga berpotensi menurunkan bobot Indonesia ke kategori Frontier Market.
Aksi jual terbesar terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid yang tergabung dalam indeks LQ45. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi yang paling banyak dilepas dengan nilai jual bersih mencapai Rp 8,11 triliun, disusul PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 2,71 triliun.
Selain itu, investor asing juga mencatatkan penjualan pada PT Bumi Resources Tbk (BUMI) senilai Rp 1,48 triliun, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) sebesar Rp 1,10 triliun, serta PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) senilai Rp 1,05 triliun.
“Sepanjang tahun 2026 ini (investor asing) mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp 9,88 triliun,” tulis Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad dalam keterangan resminya dikutip Sabtu (31/1).
Sejalan dengan derasnya aksi jual asing, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 6,94% dan ditutup di level 8.326 dari posisi 8.951 pada pekan sebelumnya. Kapitalisasi pasar BEI turut menyusut 7,37% menjadi Rp 15.046 triliun dari Rp 16.244 triliun.
Selama periode tersebut, BEI mencatat kenaikan tertinggi terjadi pada rata-rata nilai transaksi harian yang melonjak 29,28% menjadi Rp 43,76 triliun, dibandingkan Rp 33,85 triliun pada pekan sebelumnya. Rata-rata frekuensi transaksi harian juga meningkat 1,59% menjadi 3,82 juta kali transaksi.
Namun, rata-rata volume transaksi harian justru turun 3,69% menjadi 63,3 miliar lembar saham dari 65,73 miliar lembar saham pada pekan sebelumnya. Sejumlah saham menjadi pemberat utama pergerakan IHSG selama sepekan. Saham PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) menekan IHSG sebesar 28,86 poin setelah turun 32,58%. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menyeret indeks 28,69 poin, sementara PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membebani IHSG sebesar 26,48 poin.
Tekanan pasar yang tajam bahkan membuat BEI memberlakukan penghentian sementara perdagangan atau trading halt sebanyak dua kali dalam sepekan, saat IHSG anjlok hingga 8%.Trading halt adalah pembekuan sementara perdagangan bursa dengan kondisi seluruh pesanan yang belum teralokasi (open order) akan tetap berada dalam sistem perdagangan efek otomatis JATS dan dapat ditarik oleh Anggota Bursa.
Dalam aturan baru tersebut, BEI menetapkan bahwa trading halt akan dilakukan selama 30 menit jika IHSG turun lebih dari 8% dalam satu hari perdagangan. Jika penurunan berlanjut hingga lebih dari 15%, maka akan diberlakukan trading halt tambahan selama 30 Investor asing mencatatkan aksi jual bersih atau net sell dengan nilai jumbo Rp 13,92 triliun pada periode 26 - 30 Januari 2026.
Di sisi lain, terdapat sejumlah saham yang menjadi top leaders atau penopang IHSG sepanjang pekan ini. Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menyumbang 12,14 poin, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menambah 7,89 poin, serta PT Merdeka Gold Resources Tbk (MDKA) menyumbang 4,06 poin ke indeks.
