Harga Emas Anjlok 8% Setelah Trump Nominasikan Kevin Warsh Sebagai Ketua The Fed
Harga emas anjlok lebih dari 8% setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed). Penurunan ini menjadi pembalikan tajam dari reli yang sebelumnya mendorong harga logam mulia tersebut ke rekor tertinggi sepanjang masa.
Harga emas di pasar spot merosot 8,15% ke level US$ 4.893 per ons pada pukul 22.15 GMT, Jumat (30/1). Padahal sehari sebelumnya, Kamis (29/1), harga emas sempat menyentuh rekor tertinggi di level US$ 5.594 per ons.
Mengutip Bloomberg, tekanan di pasar emas dipicu oleh penguatan dolar AS setelah Trump mengkonfirmasi tengah bersiap menominasikan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed. Penguatan dolar tersebut menekan sentimen investor yang sebelumnya ramai memburu emas, seiring sinyal Trump yang membuka peluang pelemahan mata uang AS.
Pelaku pasar menilai Warsh sebagai kandidat paling agresif dalam memerangi inflasi di antara calon Ketua The Fed lainnya. Persepsi ini meningkatkan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat yang berpotensi menopang dolar AS sekaligus menekan harga emas dan logam mulia lain yang diperdagangkan dalam denominasi dolar.
“Pengumuman Trump yang menunjuk Warsh sebagai kandidat Ketua The Fed berdampak positif bagi dolar AS dan negatif bagi logam mulia,” kata Global Head of Gold and Metals Strategy, dikutip dari Bloomberg, Sabtu (31/1).
Ia menambahkan, tekanan tersebut kemungkinan diperparah oleh penyesuaian portofolio akhir bulan. Pasalnya, posisi jual dolar dan beli logam mulia telah menjadi konsensus strategi makro pelaku pasar dalam dua hingga tiga pekan terakhir.
Analis Oversea-Chinese Banking Corp. Christopher Wong menilai pergerakan ini menjadi pengingat bahwa kenaikan harga yang terlalu cepat kerap diikuti penurunan yang sama cepatnya. Menurut dia, meski kabar penunjukan Warsh menjadi pemicu, koreksi harga emas sejatinya sudah lama dinantikan.
“Ini seperti alasan yang ditunggu-tunggu pasar untuk membongkar pergerakan harga yang sudah terlalu parabolik,” ujarnya.
Sebelum kejatuhan tersebut, pasar logam mulia memang sudah berada dalam kondisi rentan terhadap pergerakan ekstrem. Lonjakan harga dan volatilitas membebani model risiko dan neraca pelaku pasar.
Goldman Sachs Group Inc. juga mencatat adanya gelombang pembelian opsi beli (call options) dalam jumlah besar yang secara mekanis memperkuat momentum kenaikan harga, karena penjual opsi melakukan lindung nilai dengan membeli aset dasar seiring kenaikan harga.
Penurunan harga emas juga diduga dipercepat oleh fenomena gamma squeeze. Dalam kondisi ini, pelaku pasar yang memegang posisi jual harus membeli lebih banyak kontrak berjangka atau saham ETF emas ketika harga naik melewati level tertentu, lalu menjualnya kembali saat harga turun, guna menjaga keseimbangan portofolio.
Aksi jual di pasar logam mulia turut menekan saham-saham perusahaan tambang besar. Saham produsen emas utama seperti Newmont Corp., Barrick Mining Corp., dan Agnico Eagle Mines Ltd. masing-masing ambles lebih dari 10% dalam perdagangan di New York.
Meski mengalami koreksi tajam, harga emas masih mencatatkan kenaikan bulanan sebesar 13%. Sementara itu, harga perak naik 19% sepanjang bulan berjalan.
Lonjakan harga yang sangat tajam sejak awal tahun juga memicu sinyal peringatan dari sejumlah indikator teknikal. Salah satunya adalah relative strength index (RSI), yang dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan bahwa emas dan perak telah berada di wilayah overbought dan rentan terkoreksi. RSI emas bahkan sempat menyentuh level 90, tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.
Volatilitas pasar pun dinilai masih sangat ekstrem. Level psikologis US$ 5.000 untuk emas dan US$ 100 untuk perak telah ditembus berkali-kali sepanjang Jumat, kata Head of Trading Heraeus Precious Metals, Dominik Sperzel.
“Kami perlu bersiap karena pergerakan seperti roller coaster ini kemungkinan masih akan berlanjut,” ujarnya.
