Purbaya hingga Bos Danantara Pede IHSG Bakal Rebound Hari Ini
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa hingga CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi bangkit atau rebound pada perdagangan hari ini, Senin (2/2). Investor asing dinilai akan merespons positif langkah reformasi pasar modal Indonesia yang telah disiapkan regulator.
“Enggak (kebakaran). Pasti bergerak naiklah,” kata Purbaya kepada wartawan di Wisma Danantara, akhir pekan lalu.
Meski terjadi dinamika pada Bursa Efek Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan, menurut dia, kedua lembaga ini telah memiliki sistem yang dirancang agar pergantian pejabat dilakukan secara efisien tanpa gangguan terhadap pasar keuangan.
Purbaya juga menyebut nama Jeffrey Hendrik telah dipilih sebagai Pejabat Sementara atau Pjs Direktur Utama BEI. Menurut Purbaya, Jeffrey bersama timnya bakal menjadi representasi BEI dalam pertemuan bersama Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Senin (2/2).
Menkeu menyatakan pemerintah tidak ikut andil dalam pertemuan tersebut. “Dia menyelesaikan masalah sesuai dengan prosedur di internal mereka. Pemerintah nggak ikut campur,” kata dia.
Purbaya menekankan, fundamental perekonomian Indonesia saat ini sangat bagus. IHSG pun masih memiliki ruang kenaikan yang besar.
Sementara itu, OJK pada akhir pekan lalu telah mengumumkan Friderica Widyasari Dewi sebagai Anggota Dewan Komisioner pengganti sementara posisi Ketua dan Wakil Ketua.
Para petinggi di sektor keuangan mengumumkan pengunduran diri dari jabatan secara beruntun dalam satu hari pada Jumat (30/1). Iman Rachman mengumumkan pengunduran diri dari jabatannya sebagai Direktur Utama BEI pada Jumat pagi.
Selanjutnya pada Jumat sekitar pukul 18.30 WIB, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar bersama dua petinggi bidang pasar modal mengumumkan pengunduran diri, yang disusul oleh pengunduran diri Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara pada pukul 21.00 WIB.
Sementara itut, CEO Danantara Rosan Roeslani memproyeksikan indeks akan pulih seiring respons positif investor asing terhadap langkah reformasi pasar modal Indonesia. Ia mengaku berkomunikasi intensif dengan investor global dalam beberapa hari terakhir dan mayoritas menunjukkan pemahaman dan kepercayaan terhadap kebijakan yang tengah ditempuh pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan PT Bursa Efek Indonesia (BEI).
"Kalau reformasi dijalankan, mereka akan semakin confidence dengan pasar kita. Dengan aksi yang kami lakukan beberapa hari ini mereka juga meresponnya sangat positif," kata Rosan Minggu (1/2).
Ia mengatakan, salah satu masukan utama dari investor asing adalah permintaan agar ambang batas (threshold) keterbukaan data investor di pasar modal diturunkan dari ketentuan saat ini sebesar 5 persen. Investor menilai aturan tersebut belum sejalan dengan praktik di sejumlah negara lain yang menerapkan ambang batas lebih rendah, seperti 1% hingga 2%.
Permintaan tersebut sejalan dengan evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang meminta BEI membuka data kepemilikan investor secara lebih mendalam, khususnya bagi pemegang saham di bawah 5%. Selama ini, keterbukaan informasi hanya diwajibkan bagi pemegang saham di atas ambang batas tersebut, sehingga dinilai belum cukup transparan untuk menghitung porsi saham publik (free float) secara akurat.
Maka dari itu, Rosan meyakini penurunan ambang batas keterbukaan kepemilikan akan kian meningkatkan kepercayaan investor global terhadap pasar modal Indonesia. Selain itu, investor asing juga mengapresiasi kebijakan peningkatan minimum free float emiten dari 7,5% menjadi 15%.
Menurut Rosan, kombinasi kebijakan struktural tersebut menjadi sinyal kuat bahwa otoritas serius memperbaiki tata kelola pasar modal yang pada akhirnya diharapkan mampu memulihkan sentimen.
