Wall Street Perkasa kala Harga Kripto, Emas, dan Perak Runtuh

Nur Hana Putri Nabila
3 Februari 2026, 07:36
Bursa efek New York atau Wall Street
NYSE
Bursa efek New York atau Wall Street
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indeks bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Senin (2/1) meskipun investor masih memantau tekanan pada aset safe haven dan kripto.

Dow Jones Industrial Average naik 515,19 poin atau 1,05% ke level 49.407,66. Lalu S&P 500 menguat 0,54% dan ditutup di 6.976,44 dan Nasdaq Composite naik 0,56% ke 23.592,11.

Di sisi lain, Bitcoin turun ke bawah level US$ 80.000 untuk pertama kalinya sejak April, seiring dengan investor yang mulai mengurangi risiko setelah koreksi tajam pada emas dan perak pada Jumat lalu. Harga perak juga anjlok sekitar 30% dalam satu hari, menjadi penurunan harian terdalam sejak 1980, sementara kontrak berjangka emas merosot sekitar 11%.

Meski begitu kripto dan logam mulia mulai memangkas penurunan dari level terendahnya pada Senin sehingga membantu meredakan tekanan di pasar saham. Bitcoin terakhir diperdagangkan di kisaran US$ 78.000, sementara emas spot dan perak spot masing-masing turun sekitar 4% dan 5%. Sementara itu, saham proksi Bitcoin Strategy tercatat turun 6,7%.

Perhatian investor juga tertuju pada Nvidia di tengah meningkatnya pertanyaan terkait prospek perdagangan kecerdasan buatan (AI). The Wall Street Journal melaporkan rencana Nvidia untuk berinvestasi US$ 100 miliar di OpenAI berhenti karena manajemen perusahaan ragu terhadap kesepakatan tersebut. Imbas dari hal itu saham Nvidia turun hampir 3%.

“Menurut kami, tren besar yang sebagian besar positif masih tetap berlaku,” kata Kepala Investasi Orion, Tim Holland, dikutip CNBC, Selasa (3/2). 

Menurutnya fokus pasar saat ini tertuju pada laporan keuangan perusahaan, arah kebijakan fiskal, serta musim pelaporan laba. Lebih dari 100 perusahaan S&P 500 dijadwalkan merilis laporan keuangan pekan ini, termasuk Amazon dan Alphabet yang sahamnya  juga bergejolak. Secara umum, musim laporan keuangan sejauh ini menunjukkan kinerja solid, meskipun beberapa saham tertekan pasca-rilis laba, termasuk Microsoft.

Sementara itu, Disney membukukan laba di atas ekspektasi analis, namun sahamnya justru turun 7% setelah perusahaan memperingatkan potensi hambatan dari penurunan jumlah wisatawan internasional ke taman hiburan domestik.

Lebih jauh Analis Deutsche Bank mencatat pertumbuhan laba korporasi berpeluang menjadi yang terkuat dalam empat tahun terakhir. Hingga saat ini, sekitar sepertiga perusahaan S&P 500 telah melaporkan kinerja dengan 78% di antaranya melampaui estimasi analis, menurut data FactSet.

“Isu utama yang menjadi kekhawatiran investor adalah valuasi, khususnya pada saham berkapitalisasi besar,” ujar Holland. 

Ia menilai pertumbuhan laba dua digit untuk kuartal kelima berturut-turut akan membantu meredakan kekhawatiran valuasi yang membayangi pasar dalam dua tahun terakhir.

 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...