Geliat Aksi Jumbo INET Usai Rights Issue Rp3,2 T Oversubscribe, Saham Lompat 10%
Emiten penyedia infrastruktur teknologi, PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) menuntaskan gelaran Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) alias rights issue dengan nilai emisi Rp 3,2 triliun. Dalam pengumuman terbaru perusahaan menyatakan aksi korporasi right issue mengalami kelebihan pesanan atau oversubscribe.
Seiring dengan pengumuman itu saham INET pada perdagangan hari ini, Selasa (3/2) melonjak hingga 10% ke Rp 352 pukul 11:24 WIB. Sementara itu kapitalisasi pasarnya mencapai Rp 7,88 triliun.
Direktur Utama Sinergi Inti Andalan Prima, Muhammad Arif mengatakan pada pelaksanaan rights issue saham INET tercatat ada 99,3% pemegang HMETD yang melaksanakan haknya.
“Sisanya sebesar 0,7% yang tidak dilaksanakan, para pemegang saham melakukan pemesanan tambahan (additional subscription) dengan total dana masuk mencapai 52 kali lipat dari jumlah saham yang tersedia,” ucap Arif dalam keterangannya, Selasa (2/2).
Dalam pelaksanaan rights issue senilai Rp 3,2 triliun, INET menawarkan 12,8 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 250 per saham. Dana hasil aksi korporasi tersebut akan digunakan untuk ekspansi jaringan serta modal kerja perseroan dan entitas afiliasinya.
Adapun pendanaan melalui rights issue ini ditujukan untuk mendukung target kinerja jangka panjang perusahaan. Sekitar Rp 2,94 triliun dari dana rights issue akan disalurkan sebagai setoran modal kepada anak usaha baru, PT Garuda Prima Internetindo (GPI).
Dana tersebut akan dimanfaatkan untuk pengembangan jaringan Fiber to the Home (FTTH) berbasis teknologi WiFi 7 yang ditargetkan menjangkau 2 juta pelanggan di Bali dan Lombok, sekaligus memperkuat modal kerja GPI.
Sementara itu, sekitar Rp 215,38 miliar akan dialokasikan kepada anak usaha lainnya, PT Pusat Fiber Indonesia (PFI), guna melunasi biaya Indefeasible Right of Use (IRU) jaringan kabel bawah laut (submarine cable) kepada PT Jejaring Mitra Persada (JMP). Adapun sisa dana akan digunakan sebagai modal kerja perseroan.
Siapkan Belanja Modal Jumbo Rp 4,2 Triliun pada 2026
Seiring dengan rencana aksi di 2026, manajemen INET juga menyiapkan belanja modal atau capital expenditure jumbo sebesar Rp 4,2 triliun. Arief mengatakan, kebutuhan dana tersebut akan dipenuhi dari pendanaan internal, yang berasal dari aksi right issue senilai Rp 3,2 triliun serta penerbitan obligasi sebesar Rp 1 triliun.
Lebih lanjut, Arief menjelaskan dana hasil penerbitan obligasi akan digunakan untuk memperkuat infrastruktur sekaligus memperluas diversifikasi jaringan INET, khususnya di wilayah Kalimantan Barat. Perseroan menargetkan surat utang tersebut dapat diterbitkan pada awal 2026.
Sementara itu, dana segar dari rights issue akan digunakan untuk mempercepat ekspansi jaringan Fiber To The Home (FTTH) berkecepatan tinggi berbasis teknologi Wi-Fi 7. Sebagian besar dana, yakni sekitar Rp 2,8 triliun akan disalurkan kepada anak usaha PT Garuda Prima Internetindo (GPI) untuk menambah sekitar 2 juta pelanggan baru di Bali dan Lombok.
Selain itu, sekitar Rp 213,44 miliar dialokasikan untuk melunasi biaya sewa jaringan kabel bawah laut. Adapun sekitar Rp 135 miliar akan digunakan sebagai modal kerja pembangunan jaringan FTTH di Pulau Jawa melalui anak usaha INET. Sisa dana rights issue akan dimanfaatkan untuk pengembangan layanan, aktivitas pemasaran, serta kebutuhan operasional dan biaya overhead lainnya.
Target Harga Saham INET
Di sisi lain, Samuel Sekuritas Indonesia memproyeksikan saham INET berpeluang naik hingga Rp 1.350 per saham dan mencerminkan potensi kenaikan sekitar 74,2% dari harga penutupan terakhir di Rp 775. Dalam riset terbarunya, tim analis Samuel Sekuritas mempertahankan rekomendasi speculative buy.
Target harga tersebut didorong oleh revisi ke atas terhadap estimasi laba serta kinerja kuat perusahaan pada kuartal III 2025. Target harga itu juga didasarkan pada valuasi EV/EBITDA 2027F sebesar 25 kali.
Samuel Sekuritas menilai INET sebagai salah satu operator ISP dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia, seiring meningkatnya kebutuhan internet berkecepatan tinggi untuk bekerja, hiburan, dan kebutuhan rumah tangga.
Adapun sepanjang sembilan bulan pertama 2025, INET membukukan pendapatan mencapai Rp 68,6 miliar atau tumbuh 190,5% yoy, sementara laba bersih melonjak 818,9% yoy menjadi Rp 19,4 miliar. Angka ini setara 86% dari proyeksi Samuel Sekuritas Indonesia. Pertumbuhan pendapatan terutama ditopang oleh segmen layanan ISP yang menyumbang Rp 67 miliar, naik 188,4% yoy.
Kinerja yang melesat ini juga didorong oleh ekspansi pelanggan PT Solusi Sinergi Digital (WIFI) selaku mitra INET, yang meningkat signifikan dari 220 ribu pelanggan pada Desember 2024 menjadi 1,5 juta pelanggan pada September 2025.
Dengan dukungan ekspansi besar perusahaan, proyeksi laba INET ke depan semakin agresif. Samuel Sekuritas memperkirakan laba perseroan pada 2026 dapat mencapai Rp 257 miliar, tumbuh 849,2% secara tahunan (yoy).
“Dan untuk tahun 2027 diproyeksikan mencapai Rp 736 miliar atau tumbuh 185,7% yoy,” demikain tertulis dalam riset Samuel Sekuritas.
Adapun sejumlah risiko tetap perlu dicermati, misalnya potensi keterlambatan ekspansi, realisasi pertumbuhan pelanggan yang tidak sesuai ekspektasi, serta tekanan daya beli. Adapun tahun 2026, Samuel Sekuritas memperkirakan pendapatan INET dapat mencapai Rp 942 miliar atau tumbuh 284% yoy, dengan marjin EBITDA diproyeksikan berada pada kisaran 60–70%.
