Bocoran Kinerja Emiten Boy Thohir-Saratoga MDKA, MBMA dan EMAS, Intip Kisi 2025
Sejumlah emiten portofolio Grup Saratoga dan Garibaldi Thohir atau Boy Thohir mengungkap kinerja keuangan hingga operasional sepanjang tahun buku 2025. Di antaranya PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan dua anak usahanya PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) hingga PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS).
Berdasarkan kinerja periode yang berakhir pada 31 Desember 2025, MDKA membukukan pendapatan tidak diaudit sebesar US$ 1,89 miliar atau Rp 31,67 triliun. Pada operasi emas, Tambang Emas Tujuh Bukit (TB Gold) membukukan produksi sebesar 103.156 ounces tahun buku 2025. Kinerja tersebut ditopang oleh penjualan emas mencapai 104.168 ounces dengan harga jual rata-rata US$3.138 per ons atau naik 32% secara tahunan (year on year).
Sementara itu, operasi tembaga di Tambang Wetar mencatatkan produksi 2.990 ton pada kuartal IV 2025 dan total 10.454 ton sepanjang 2025. MDKA masih menjalankan studi untuk mengevaluasi berbagai opsi perpanjangan umur tambang dan peluang peningkatan tingkat perolehan tembaga dalam jangka panjang.
Lalu Proyek Tembaga Tujuh Bukit, salah satu proyek tembaga-emas terbesar di dunia yang belum dikembangkan menunjukkan kemajuan studi kelayakan sepanjang 2025. Perkembangan tersebut mencakup perencanaan tambang terintegrasi, program metalurgi, serta optimalisasi proses pengolahan untuk mendukung jalur pengembangan jangka panjang yang terintegrasi.
Tak hanya itu MDKA menargetkan total produksi emas sebesar 180.000–205.000 ounces pada 2026, dengan menunggu persetujuan RKAB, yang didorong oleh kontribusi Tambang Emas Pani serta produksi berkelanjutan dari Tambang Tujuh Bukit.
Kinerja PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA)
Kemudian anak usaha MDKA, yakni MBMA membukukan pendapatan tidak diaudit sepanjang 2025 sekitar US$ 1,4 miliar atau Rp 23,52 triliun. Capaian ini termasuk solid untuk kinerja 2025.
Adapun kinerja operasional dari tambang nikel PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) produksi saprolit mencapai 7,0 juta wet metric tonnes (wmt). Angka itu melonjak 42% secara tahunan (YoY), serta produksi limonit sebesar 14,7 juta wmt atau naik 45% YoY sepanjang tahun buku 2025. Torehan ini didorong oleh peningkatan produktivitas, penambahan kapasitas armada, dan optimalisasi sistem logistik.
Meski menghadapi kenaikan royalti dan biaya bahan bakar seiring implementasi kebijakan B40, manajemen MBMA mengaku struktur biaya tetap terjaga sebab produktivitas yang lebih tinggi dan peningkatan volume produksi. Operasi limonit tetap menghasilkan margin yang stabil.
Sepanjang 2025, MBMA memproduksi 73.871 ton nikel dalam bentuk Nickel Pig Iron (NPI). Perusahaan meningkatkan margin NPI secara tahunan dengan menekan biaya dan meningkatkan pasokan bijih dari internal.
Tak hanya itu MBMA kembali memulai produksi High-Grade Nickel Matte (HGNM) pada Oktober 2025 setelah mengamankan perjanjian offtake yang ekonomis. Sepanjang 2025, perusahaan memproduksi 19.998 ton HGNM.
Dalam pengembangan hilirisasi, MBMA melalui PT ESG New Energy Material memproduksi 7.177 ton nikel dalam bentuk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) pada kuartal IV 2025. Perusahaan mendukung pencapaian tersebut dengan mengoperasikan Feed Preparation Plant serta pipa slurry yang terhubung langsung dari tambang SCM.
Selain itu MBMA mempercepat penyelesaian proyek HPAL melalui PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC). Proyek dengan kapasitas target 90.000 ton per tahun MHP telah mencapai tingkat penyelesaian 83%. Tak hanya itu MBMA menargetkan commissioning jalur pertama pada paruh kedua 2026.
Di pabrik AIM yang dioperasikan PT Merdeka Tsingshan Indonesia (MTI), MBMA melanjutkan proses commissioning fasilitas klorida dan pabrik katoda tembaga. Pabrik tersebut memproduksi 321 ton pelat katoda tembaga dengan kualitas standar LME.
Direktur Utama Merdeka Battery Materials, Teddy Oetomo, mengatakan sepanjang tahun 2025 kami mencatat kinerja operasional yang kuat sekaligus memajukan infrastruktur utama dan pengembangan HPAL yang akan mendorong fase pertumbuhan berikutnya.
“MBMA menunjukkan eksekusi yang disiplin di seluruh proyek penambangan, pengolahan, dan pengembangan hilir kami,” ucapnya dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (5/2).
Sepanjang 2026 MBMA menargetkan pengiriman bijih saprolit sebesar 8,0–10,0 juta wmt serta penjualan bijih limonit sebesar 20,0–25,0 juta wmt, bergantung pada persetujuan RKAB. Perusahaan juga menargetkan produksi NPI sebesar 70.000–80.000 ton seiring jadwal pemeliharaan CSI. Selain itu, MBMA membidik produksi HGNM sebesar 44.000–48.000 ton dan menargetkan produksi MHP dari PT ESG pada kisaran 27.000–30.000 ton.
Kinerja PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS)
Tambang Emas Pani akan memulai operasi heap leach dengan kapasitas awal 8 juta ton per tahun, lebih tinggi dari rencana awal 7 juta ton per tahun. Manajemen mengatakan EMAS masih mengkaji peningkatan kapasitas hingga 10 juta ton per tahun setelah 2026.
Perseroan juga mempercepat pengembangan fasilitas Carbon-in-Leach (CIL) agar dapat beroperasi pada kapasitas 12 juta ton per tahun mulai 2028, lebih cepat dari rencana sebelumnya. Pekerjaan tanah untuk fasilitas CIL telah dimulai pada Januari 2026.
Anak usaha EMAS memperoleh fasilitas kredit bergulir senilai US$ 350 juta dengan tenor 60 bulan untuk memperkuat fleksibilitas pendanaan proyek.
Hingga kini, progres konstruksi Pani telah mencapai 94%. Kegiatan penambangan dimulai pada Oktober 2025, diikuti proses penghancuran bijih pada November dan penumpukan bijih pada Desember. Fasilitas ADR juga telah memasuki tahap commissioning sehingga proyek siap memulai produksi emas perdana pada awal 2026.
Adapun cadangan bijih emas Pani meningkat signifikan menjadi 190,3 juta ton dengan kandungan 4,8 juta ounces emas. Perseroan telah merealisasikan investasi sekitar US$ 238 juta untuk belanja konstruksi dan pra-produksi.
Pada 2026, Pani menargetkan produksi emas sebesar 100.000–115.000 ounces, bergantung pada persetujuan RKAB.
Presiden Direktur EMAS, Boyke Poerbaya Abidin, mengatakan kuartal ini menjadi fase transisi penting bagi EMAS seiring proyek Pani bergerak dari tahap konstruksi menuju commissioning dan operasi.
“Memasuki 2026, fokus kami adalah mencapai produksi emas perdana secara aman, merealisasikan produksi sesuai panduan, serta terus mengoptimalkan Pani untuk menghasilkan nilai jangka panjang yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan,” ucapnya dalam keterangan resmi.
