IHSG Dibuka Melemah 2,29% seusai Moody’s Pangkas Outlook Indonesia Jadi Negatif
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG dibuka melemah hingga 2,29% bahkan ke level 7.918 pada perdagangan saham hari ini, Jumat (6/2).
Volume yang diperdagangkan tercatat 1,87 miliar, dengan nilai transaksi Rp 1,01 triliun, dan kapitalisasi pasarnya sebesar Rp 14.311 triliun. Merosotnya IHSG usai lembaga pemeringkat kredit Moody’s Ratings mengubah outlook peringkat utang Pemerintah Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil.
Tak hanya itu, indeks bergengsi LQ45 anjlok 2,02%. Seluruh sektor juga turut melemah. Sektor teknologi tergelincir 3,77%, energi 2,56%, dan infrastruktur turun 2,72%. Kemudian diikuti sektor bahan baku melemah 3,02%, transportasi 1,61%, kesehatan 0,66%.
Tak hanya itu, sektor industri juga merosot 2,06%, finansial 1,10%, konsumer siklikal sebesar 2,90%, properti 1,44%, dan nonsiklikal turun 1,13%.
Sebelumnya Moody’s Ratings mengubah outlook peringkat utang Pemerintah Indonesia menjadi negatif meski tetap mempertahankan peringkat kredit jangka panjang mata uang lokal dan asing di level Baa2. Keputusan ini diumumkan Moody’s pada Kamis (5/2) kemarin.
Perubahan outlook tersebut didorong oleh menurunnya prediktabilitas dalam perumusan kebijakan pemerintah, yang dinilai berisiko melemahkan efektivitas kebijakan sekaligus kualitas tata kelola pemerintahan. Moody’s menilai, jika tren ini berlanjut, kredibilitas kebijakan Indonesia yang selama ini menjadi penopang stabilitas makroekonomi dan pertumbuhan ekonomi dapat tergerus.
Kendati demikian, Moody’s menegaskan bahwa penegasan peringkat Baa2 mencerminkan ketahanan fundamental ekonomi Indonesia. Hal ini didukung oleh kekuatan struktural seperti kekayaan sumber daya alam dan bonus demografi.
"Terlepas dari munculnya risiko, penegasan (peringkat Baa2 untuk Indonesia) tersebut juga didukung oleh kebijakan fiskal dan moneter yang bijaksana yang telah menghasilkan stabilitas makroekonomi," tulis lembaga itu dalam pengumumannya.
Moody’s mencatat, dalam setahun terakhir terjadi peningkatan volatilitas di pasar saham dan nilai tukar, yang antara lain dipicu oleh komunikasi kebijakan yang dinilai kurang efektif serta melemahnya konsistensi proses pengambilan kebijakan. Kondisi ini sejalan dengan penurunan skor Indonesia pada indikator efektivitas pemerintahan dan kualitas regulasi dalam Worldwide Governance Indicators.
Dari sisi fiskal, fokus pemerintah pada belanja publik untuk mendorong pertumbuhan dinilai berpotensi meningkatkan risiko, terutama mengingat basis penerimaan negara yang masih lemah. Moody’s menyoroti ekspansi program sosial seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Sampai sejauh ini, program-program unggulan Presiden Prabowo Subianto itu dibiayai melalui realokasi dan pemangkasan belanja kementerian, termasuk anggaran pemeliharaan infrastruktur. Ekspansi lanjutan program-program tersebut dinilai dapat menekan fleksibilitas anggaran negara.
Ke depan, Moody’s menyatakan akan terus memantau perkembangan efektivitas dan kredibilitas kebijakan, termasuk kebijakan fiskal dan moneter, kinerja Danantara, serta indikator utama seperti arus investasi asing, volatilitas nilai tukar dan suku bunga, pertumbuhan ekonomi, serta inflasi.
