Jejak Toto Sugiri di Balik Indointernet (EDGE) yang Bersiap Delisting Sukarela
Emiten pusat data PT Indointernet Tbk (EDGE) kembali menjadi sorotan setelah mengumumkan rencana perubahan status menjadi perusahaan tertutup melalui skema go private atau delisting sukarela (voluntary delisting). Langkah ini menandai fase baru perjalanan bisnis perusahaan yang selama beberapa tahun terakhir mengalami perubahan kepemilikan, strategi, hingga arah pengembangan bisnis di tengah kompetisi industri pusat data yang kian ketat.
Dalam pengumuman kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) manajemen EDGE mengungkapkan alasan di balik rencana perubahan status perseroan menjadi perusahaan tertutup melalui skema go private atau delisting sukarela. Keputusan tersebut muncul seiring perubahan dinamika industri serta kebutuhan restrukturisasi strategi bisnis di bawah kendali grup Digital Edge.
Direktur Utama Indointernet (EDGE), Andrew Joseph Rigoli, mengatakan perseroan merupakan bagian dari grup Digital Edge yang bergerak di bidang infrastruktur digital, termasuk pusat data (data center) dan jaringan serat optik (fiber optic). Meski sektor ini terus bertumbuh, tingkat persaingan di industri tersebut juga semakin ketat.
Menurutnya, kondisi tersebut menuntut integrasi yang mulus antarentitas dalam grup untuk menyederhanakan proses pengambilan keputusan, menjalankan rencana investasi jangka panjang, serta memastikan penyelarasan strategi bisnis. Langkah-langkah tersebut dinilai akan lebih optimal dilakukan di luar kerangka regulasi dan kepatuhan sebagai status perusahaan terbuka.
Selain itu ia menyebut saham EDGE saat ini sudah tidak diperdagangkan secara aktif di Bursa Efek Indonesia (BEI) sehingga likuiditas menjadi terbatas dan status sebagai perusahaan tercatat dinilai kurang efektif.
“Proses go private dan voluntary delisting juga memberikan kesempatan keluar yang adil dan teratur bagi pemegang saham publik,” tulis Andrew dalam keterbukaan informasi BEI yang dikutip Rabu (11/2).
Seiring rencana delisting sukarela otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) langsung menghentikan sementara perdagangan saham EDGE. Kebijakan ini merujuk pada surat resmi perseroan terkait permohonan suspensi perdagangan saham sejalan dengan perubahan status menjadi perusahaan tertutup.
“Berdasarkan hal tersebut, maka bursa memutuskan untuk melakukan penghentian sementara perdagangan efek perseroan (EDGE) di seluruh pasar efektif mulai sesi pra-pembukaan perdagangan efek tanggal 10 Februari 2026,” tulis otoritas BEI, Selasa (10/2).
Dari sisi kinerja saham, EDGE saat ini berada di level Rp 4.790 dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp 9,68 triliun. Dalam satu pekan terakhir, saham EDGE turun 5,62%. Namun secara bulanan masih mencatat kenaikan 9,11% dan menguat 11,66% dalam tiga bulan terakhir, mencerminkan volatilitas di tengah ketidakpastian arah korporasi.
Delisting sukarela merupakan permohonan penghapusan pencatatan saham yang diajukan oleh perusahaan tercatat. Dalam skema ini, BEI tidak lagi mengatur kewajiban untuk memperoleh persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) maupun mengenai perhitungan harga pembelian kembali saham, karena ketentuannya telah diatur dalam POJK 3/2021.
Jejak Toto Sugiri dan Perubahan Arah Indointernet
Perjalanan Indointernet tidak lepas dari sosok Otto Toto Sugiri, pionir pusat data Indonesia yang mendirikan Indonet pada 1994 sebagai salah satu penyedia layanan internet (ISP) pertama di Tanah Air. Ia mundur dari jabatan Wakil Komisaris Utama dan menjual seluruh sahamnya di Indonet pada Desember 2023.
Kepergian Toto Sugiri pada 15 Desember 2023 menjadi titik balik penting dalam perjalanan perusahaan. Ia mengundurkan diri dari jabatan Wakil Komisaris Utama sekaligus melepas seluruh 334.490.500 lembar sahamnya di Indointernet dengan nilai sekitar Rp1,16 triliun. Setelah itu, fokus bisnisnya beralih ke PT DCI Indonesia Tbk (DCII), yang dikenal sebagai salah satu pemain pusat data terbesar di Indonesia.
Seiring keluarnya Toto Sugiri, Digital Edge (Hong Kong) Ltd menjadi pemegang saham pengendali tunggal di Indointernet dan membawa arah strategi baru yang menekankan integrasi infrastruktur digital dalam satu grup. Meski tidak lagi terlibat langsung dalam Indonet, pengaruh Toto Sugiri tetap kuat di industri pusat data nasional. Figur yang kerap dijuluki “Bill Gates Indonesia” tersebut masih memainkan peran penting dalam perkembangan ekosistem teknologi informasi melalui kiprahnya di DCI Indonesia.
Langkah go private EDGE mencerminkan akrobat strategi korporasi di tengah pertumbuhan industri infrastruktur digital yang agresif. Bagi Digital Edge sebagai pemegang saham pengendali, integrasi penuh tanpa beban regulasi perusahaan terbuka dipandang sebagai strategi untuk mempercepat ekspansi dan investasi jangka panjang.
Di sisi lain, bagi pasar modal Indonesia, langkah delisting sukarela EDGE mengingatkan pentingnya keseimbangan antara kebutuhan ekspansi korporasi dan perlindungan investor publik. Selanjutnya proses delisting dan go private akan menjadi fase krusial yang menentukan arah baru Indointernet.
