Wall Street Jeblok Imbas Kekhawatiran Inverstor Terhadap Dampak Negatif AI
Indeks saham Wall Street di Amerika Serikat ditutup merosot pada perdagangan Kamis (12/2) waktu setempat. Penurunan terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dampak negatif pembangunan dan ekspansi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 669,42 poin atau 1,34% dan ditutup di level 49.451,98. Penurunan indeks ini dipimpin oleh saham Cisco Systems yang anjlok 12% setelah produsen perangkat jaringan tersebut merilis panduan kinerja kuartal berjalan yang mengecewakan. Indeks S&P 500 turun 1,57% dan berakhir di level 6.832,76, sedangkan Nasdaq Composite menurun 2,03% ke posisi 22.597,15.
Sejumlah segmen pasar saham terpukul sepanjang tahun ini seiring peluncuran berbagai alat AI yang dinilai mampu meniru bisnis eksisting atau setidaknya menggerus margin keuntungan. AI mulai dinilai berpotensi mengganggu model bisnis lintas industri serta mendorong kenaikan pengangguran.
Saham-saham sektor keuangan, termasuk Morgan Stanley yang tertekan akibat kekhawatiran AI bakal mengganggu bisnis pengelolaan kekayaan.Pada saat yang sama, saham perusahaan truk dan logistik seperti C.H. Robinson anjlok hingga 14% karena kekhawatiran AI akan mengefisienkan operasi pengiriman barang dan menekan sejumlah lini pendapatan.
Kekhawatiran terhadap disrupsi AI juga merembet ke sektor properti. Saham-saham seperti CBRE dan SL Green Realty tertekan seiring anggapan bahwa meningkatnya pengangguran akan menurunkan permintaan ruang perkantoran.
Saham-saham perangkat lunak yang dalam beberapa pekan terakhir dibayangi isu disrupsi meningkatkan penurunan sepanjang tahun berjalan. Saham Palantir Technologies terkoreksi hampir 5%, sehingga total penurunannya sepanjang tahun ini melampaui 27%. Saham Autodesk turun hampir 4%, dengan penurunan sejak awal tahun sekitar 24%.
Sementara itu, iShares Expanded Tech-Software Sector ETF (IGV) melemah hampir 3% dan kini berada sekitar 31% di bawah level tertingginya setelah memasuki fase pasar bearish bulan lalu.
“AI yang sebelumnya menjadi satu-satunya faktor yang mendorong saham-saham ini naik secara parabolik dengan valuasi yang makin ekstrem, kini justru menjadi faktor yang menahan pergerakan mereka,” ujar Kepala Strategi Pasar Freedom Capital Markets Jay Woods, dikutip dari CNBC, Jumat (13/2).
Sentimen penghindaran risiko (risk off) juga tercermin dari aksi jual di pasar komoditas. Harga kontrak berjangka perak, yang tahun ini menjadi salah satu instrumen favorit investor ritel, anjlok 10% pada Kamis.
Di sisi lain, investor mulai beralih ke aset yang lebih defensif. Saham Walmart dan Coca-Cola masing-masing naik 3,8% dan 0,5%. Sektor barang konsumsi primer dan utilitas memimpin penguatan di antara sektor-sektor S&P 500 dengan kenaikan lebih dari 1%, mendorong sektor barang konsumsi primer mencetak rekor penutupan tertinggi baru.
Pada sesi sebelumnya, saham-saham Wall Street juga ditutup melemah setelah sempat menguat berkat laporan tenaga kerja yang solid. Namun, antusiasme pasar memudar setelah sejumlah ekonom meragukan keberlanjutan tren tersebut, terutama karena revisi data menunjukkan tidak ada pertumbuhan lapangan kerja pada paruh kedua 2025.
Pelaku pasar kini menanti rilis data inflasi pada Jumat. Ekonom yang disurvei Dow Jones memperkirakan Indeks Harga Konsumen (CPI) Januari naik 0,3% baik untuk inflasi utama maupun inflasi inti.
“CPI kini sedikit kurang penting setelah kita mendapatkan data tenaga kerja yang kuat, karena hal itu memberi ruang bagi Federal Reserve untuk menahan kebijakan dalam jangka waktu yang lebih lama,” ujar ahli strategi investasi Baird Ross Mayfield.
Namun jika data inflasi dirilis lebih rendah dari perkiraan, Mayfield menilai perdagangan Jumat berpotensi kembali didominasi sentimen risk on. Meski demikian, ia menegaskan dibutuhkan angka inflasi yang benar-benar tinggi untuk memberikan dampak signifikan terhadap pasar saham dan ekspektasi suku bunga The Fed.
