Manajemen INA Respons Kabar Ridha Wirakusumah Mundur dari Kursi CEO
Indonesia Investment Authority (INA) akhirnya buka suara menyusul kabar Ridha Wirakusumah yang disebut mundur dari jabatannya sebagai petinggi di lembaga pengelola investasi nasional itu. Menurut manajemen, Ridha akan berakhir jabatannya sebagai CEO INA pada Minggu (15/2) ini.
"Ridha Wirakusumah akan menyelesaikan masa jabatan penuhnya/purnabakti sebagai Ketua Dewan Direktur Indonesia Investment Authority (INA) pada 15 Februari 2026," tulis manajemen INA kepada Katadata.co.id, pada Jumat (13/2).
Di bawah kepemimpinan Ridha, INA telah menginvestasikan lebih dari US$ 4,5 miliar bersama mitra investasi global di berbagai sektor prioritas. Hal ini sejalan dengan mandat INA untuk berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi berkelanjutan Indonesia dan membangun kekayaan bagi generasi mendatang.
Tak hanya itu, aset kelolaan INA di bawah Ridha juga meningkat dari sekitar US$ 5 miliar menjadi mendekati US$ 10 miliar. INA juga telah membangun fondasi kelembagaan yang kuat sebagai sovereign wealth fund yang kredibel dan tepercaya, didukung oleh tim yang profesional dan kapabel serta berada pada posisi terbaik untuk terus menjalankan misinya.
Manajemen menilai torehan itu menjadi bagian dari fondasi kelembagaan INA sebagai pengelola dana kekayaan negara yang kredibel, didukung tim profesional yang siap melanjutkan misi ke depan.
Sesuai dengan tata kelola INA, Dewan Pengawas akan segera menunjuk pelaksana tugas (plt) ketua Dewan Direktur alias CEO sementara untuk memastikan kesinambungan operasional.
"INA tetap berkomitmen pada mandat jangka panjangnya untuk memobilisasi modal, memberikan dampak nasional, serta mendukung prioritas strategis Indonesia," kata manajemen INA.
Sebelumnya, beberapa sumber Katadata.co.id mengatakan Ridha telah menyampaikan pengunduran dirinya sebagai CEO INA. Padahal, dia semestinya masih menjabat hingga 16 Februari 2026.
Adapun pemerintah kini tengah mencari kandidat untuk mengisi kursi Dewan Pengawas Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau INA. Ketua Komisi XI Dewan DPR, Mukhamad Misbakhun, menyebut Fauzi Ichsan dan Michael Tjoajadi menjadi kandidat di Dewan Pengawas INA.
“Fauzi Ichsan dan Michael Tjoajadi (calon anggota Dewan Pengawas INA),” kata Misbakhun kepada wartawan, Jumat (13/2).
Mengutip laman resmi INA, Ridha adalah salah satu eksekutif senior nasional di bidang perbankan, jasa keuangan, dan investasi. Ia memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun di berbagai institusi terkemuka, baik di dalam maupun luar negeri.
Sebelum bergabung dengan INA, Ridha menjabat sebagai direktur utama Bank Permata pada 2017 hingga 2021; head of Indonesia di KKR & Co pada 2011 hingga 2014, serta direktur utama Bank Maybank Indonesia dari 2009 hingga 2011.
Ia juga pernah menduduki sejumlah posisi strategis di perusahaan multinasional. Di antaranya sebagai CEO Asia Pasifik AIG Consumer Finance, CEO Asia Pasifik GE Capital Consumer Finance and Banking, CEO GE Capital Thailand, CEO GE Capital Indonesia, head of corporate Finance Bankers Trust, serta head of public sector Citibank Indonesia.
Ridha meraih gelar doktor Administrasi Bisnis dari City University of Hong Kong. Ia juga menyandang gelar MBA di bidang Finance and International Business, serta sarjana Electrical Engineering dari Ohio University.
Selain itu, ia mengikuti Program Manajemen Lanjutan di University of California Berkeley. Sementara itu, berdasarkan laman Linkedin pribadinya, Ridha tercatat menjabat sebagai CEO INA sejak Februari 2021.
