Wall Street Naik Terbatas, Investor Mulai Rotasi ke Saham Perbankan
Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) naik pada perdagangan saham Selasa (17/2). Rencana The Fed yang akan mengeluarkan rilis dalam waktu dekat turut mempengaruhi gerak wall street.
S&P 500 naik 0,1% ke level 6.843,2 dan Nasdaq Composite menguat 0,14% ke 22.578,38, dan Dow Jones Industrial Average bertambah 32,26 poin atau 0,07% menjadi 49.533,19.
Pergerakan sektor menunjukkan terjadi rotasi investor dari saham perangkat lunak ke saham sektor keuangan. Saham Citigroup melonjak 2,6%, sementara JPMorgan Chase naik lebih dari 1%.
Sebaliknya, anjloknya saham perangkat lunak masih berlanjut. ServiceNow turun lebih dari 1% atau merosot secara year to date (ytd) hingga sekitar 31%. Autodesk dan Palo Alto Networks masing-masing melemah lebih dari 2%.
Sepanjang tahun ini, Autodesk telah terperosok sekitar 24%, sementara Palo Alto Networks merosot 11%. Saham Salesforce dan Oracle juga tergelincir, masing-masing turun hampir 3% dan 4%, sehingga kerugian tahunan hingga 30% dan 21%.
Di sisi lain, ETF iShares Expanded Tech-Software Sector ETF melemah lebih dari 2% dan mencatat penurunan sekitar 23% sepanjang tahun berjalan. Tekanan di sektor perangkat lunak dipicu kekhawatiran bahwa perkembangan alat kecerdasan buatan berpotensi menggeser kebutuhan terhadap penyedia perangkat lunak khusus industri.
Kepala strategi investasi di Concurrent Investment Advisors, Leah Bennett, mengatakan perusahaan yang tidak mampu bersaing dan tidak memiliki keunggulan kompetitif yang kuat berpotensi mengalami penurunan kinerja.
Menurutnya, disrupsi yang terjadi saat ini juga akan mendorong pasar untuk semakin selektif dalam mengidentifikasi perusahaan-perusahaan yang berpotensi menjadi pemenang di sektor tersebut.
“Pasar hanya perlu waktu untuk melihat seperti apa kinerja keuangan dari beberapa perusahaan ini,” ucap Bennet dikutip CNBC, Rabu (19/2).
Di samping itu kekhawatiran terhadap potensi disrupsi kecerdasan buatan (AI) menekan sejumlah sektor. Mulai dari perangkat lunak, properti, truk, hingga layanan keuangan sepanjang pekan lalu. Hal itu mendorong pasar saham Amerika Serikat kembali melemah.
Indeks acuan S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average masing-masing turun lebih dari 1% dalam sepekan, sementara Nasdaq Composite tergelincir lebih dari 2%. S&P 500 dan Dow mencatat empat pekan di zona merah dari lima pekan terakhir. Sedangkan Nasdaq membukukan turun selama lima pekan penurunan berturut-turut dan ini menjadi rentetan negatif terpanjang sejak 2022.
Strategis ekuitas AS di Citigroup, Scott Chronert, mengatakan inovasi AI dan potensi gangguannya membuat pelaku pasar mempertanyakan rasio valuasi jangka panjang di berbagai sektor.
Menurutnya, kondisi ini membuat investor lebih berhati-hati dan cenderung menilai risiko di masing-masing perusahaan, alih-alih mengubah strategi investasi secara besar-besaran. Ia menilai pergerakan pasar saat ini belum sepenuhnya mencerminkan tren fundamental jangka menengah yang masih positif, sehingga perusahaan perlu meyakinkan investor tentang kekuatan daya saing jangka panjangnya.
Chronert menambahkan tema rotasi sektor itu kemungkinan akan mendominasi musim laporan keuangan kuartal pertama. Ia menyebut kecuali perhatian pasar beralih pada prospek ekonomi.
Di sisi lain, kekhawatiran AI tampak menutupi rilis data inflasi terbaru. Data Indeks Harga Konsumen (IHK) Januari menunjukkan angka yang lebih lemah dari perkiraan ekonom, menyusul laporan ketenagakerjaan yang sebelumnya lebih kuat dari ekspektasi.
Pekan ini, investor menantikan petunjuk lanjutan mengenai arah inflasi melalui laporan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi, serta mencermati notulen rapat Federal Reserve yang dijadwalkan rilis pertengahan pekan.
