Dana SAL Rp 276 Triliun Guyuran Purbaya Belum Cukup Dorong Kredit Perbankan

Nur Hana Putri Nabila
19 Februari 2026, 15:16
Kredit
ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/nz
Pekerja membuat adonan untuk produksi kerupuk di sentra industri pengolahan kerupuk Riung Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa (7/10/2025). Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga triwulan III 2025 ttelah terserap Rp 203,5 triliun dari total target Rp 300 triliun yang disalurkan sebanyak 60,05 persen kepada sektor produksi yang meliputi pegiat usaha pengolahan, pertanian, dan perikanan.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebanyak Rp 276 triliun yang digelontorkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ke sejumlah bank BUMN, beberapa bulan lalu, ternyata belum cukup mendorong kredit perbankan. Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Mari Elka Pangestu mengatakan, saat ini pertumbuhan kredit masih di bawah 10%, tepatnya di sekitar di 7,9%.

Menurut dia, sejumlah kebijakan pemerintah yang memengaruhi perekonomian tahun ini, termasuk peningkatan likuiditas melalui penempatan dana SAL di perbankan, belum sepenuhnya berdampak pada penyaluran kredit. Menurutnya, tambahan likuiditas tersebut sejauh ini belum diterjemahkan ke perbankan.

“Jadi belum kelihatan dampaknya kepada peningkatan kredit,” kata Mari dalam acara OJK Institute Economic Outlook 2026 secara virtual, Kamis (19/2). 

Di samping itu, Mari mengatakan pelonggaran kebijakan moneter juga belum mampu mendorong pertumbuhan kredit perbankan domestik. Ia menjelaskan Bank Indonesia telah memangkas suku bunga acuan (BI rate) dari 6% menjadi 4,75% sepanjang 2025.

Namun, kebijakan tersebut belum cukup efektif menurunkan suku bunga kredit yang dinilai masih relatif tinggi. Ia menilai tingginya bunga kredit itu menjadi salah satu faktor yang menahan laju pertumbuhan kredit perbankan sepanjang 2025.

Selain itu, ia menyebut persoalan daya beli masyarakat juga turut menyebabkan lambatnya permintaan kredit. Defisit neraca pembayaran yang menekan nilai tukar rupiah juga menjadi faktor lain yang membebani stabilitas sektor keuangan dan berdampak pada perlambatan kredit domestik.

Ia menilai kondisi tersebut membuat pelaku usaha dan rumah tangga cenderung menahan ekspansi maupun konsumsi berbasis pembiayaan. Menurutnya, meskipun neraca perdagangan masih mencatatkan surplus, arus keluar modal (capital outflow) justru lebih dominan. Hal itu menyebabkan nilai tukar rupiah melemah sekitar 4% sepanjang tahun lalu.

“Jadi ini apakah masalah supply? Masalah supply sudah teratasi, tapi masalah demand untuk kredit ini mungkin ada kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi dan melemahnya daya beli dan seterusnya,” katanya. 

Seiring dengan itu, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Hery Gunardi mengatakan, pertumbuhan kredit secara tahunan atau year-on-year  (YoY) per Desember 2025 masih berada di level single digit. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi industri perbankan dalam menjalankan fungsi intermediasi.

Berdasarkan data survei Bank Indonesia, kata Hery, melambatnya kredit saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor permintaan (demand). Permintaan kredit baru tercatat menurun di sebagian besar segmen, terutama kredit konsumsi turun dari 62,9% menjadi 13,4%, serta segmen UMKM melemah dari 78,4% menjadi 58,8%.

Di sisi lain, rata-rata undisbursed loan justru meningkat menjadi sekitar 10,22%. Artinya, fasilitas kredit yang telah disetujui bank dan likuiditas sebenarnya tersedia, namun realisasi penarikan dana masih tertahan karena lemahnya permintaan.

“Ini mencerminkan sikap wait and see dari dunia usaha dan juga rumah tangga sebagai nasabah individu,” katanya dalam kesempatan yang sama. 

Selain itu, Hery menegaskan tantangan perbankan saat ini bukan berada pada sisi pasokan dana, melainkan pada tingkat kepercayaan dan prospek usaha ke depan. Menurutnya yang dibutuhkan kini bukan sekadar tambahan likuiditas, tetapi menguatkan keyakinan pelaku usaha agar kembali berani melakukan ekspansi.

Ia menyoroti dua tren yang bergerak berlawanan, khususnya di segmen UMKM. Pertumbuhan kredit terus melambat sepanjang 2024 hingga 2025. Di saat yang sama, rasio kredit bermasalah (NPL) mulai meningkat sejak Desember 2024 dan bertahan di level yang lebih tinggi. 

“Hal ini menunjukkan tekanan arus kas pelaku UMKM belum sepenuhnya pulih,” ucap Hery.

Ia juga menambahkan, pelemahan kredit sangat berkaitan  dengan perlambatan di tiga sektor utama penyumbang produk domestik bruto (PDB), yakni manufaktur, pertanian, dan perdagangan.

“Ketiga hal ini memiliki porsi besar terhadap PDB sekaligus menyerap tenaga kerja signifikan sehingga kami melihat pertumbuhan ini melambat, permintaan pembiayaan juga ikut tertahan,” katanya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...