Tak Kena Pangkas RKAB, Ini Prospek Saham Batu Bara PTBA, BUMI, AADI hingga INDY

Karunia Putri
20 Februari 2026, 14:28
Batu bara
ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/bar
Foto udara sejumlah alat berat dioperasikan untuk mengumpulkan batu a di salah satu tempat penampungan (stockpile) batu a kawasan pantai Desa Peunaga Cut Ujong, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, Aceh, Jumat (9/1/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kebijakan pemerintah memangkas kuota produksi batu bara dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 memicu perhatian pelaku pasar. Langkah ini diambil untuk menjaga keseimbangan pasokan dan harga di tengah dinamika energi global. Namun, tidak semua perusahaan tambang terdampak kebijakan tersebut.

Pemerintah memastikan ada dua kelompok perusahaan yang tetap memperoleh kuota penuh, yakni pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B) generasi I dan izin usaha pertambangan (IUP) milik BUMN. Kepastian ini dinilai menjadi angin segar bagi emiten-emiten besar yang masuk kategori tersebut. 

Di tengah kekhawatiran pasar terhadap potensi pengetatan produksi, kepastian kuota justru memberi visibilitas kinerja bagi sejumlah saham batu bara. Emiten seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), dan PT Indika Energy Tbk (INDY) dipandang berada pada posisi yang lebih diuntungkan untuk menjaga volume produksi dan arus kas tahun depan.

BUMI memiliki dua anak usaha pemegang PKP2B Generasi I yaitu PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia. Sementara itu, perusahaan terafiliasi INDY yaitu PT Kideco Jaya Agung juga memegang PKP2B Generasi I. 

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama menilai kepastian kuota penuh bagi emiten-emiten besar tersebut memberikan sinyal positif bagi kinerja ke depan. Menurut dia, perusahaan-perusahaan itu dinilai memenuhi aspek kepatuhan terhadap regulasi serta memiliki kapasitas operasional yang kuat.

“Hal ini memberikan kepastian terhadap volume penjualan, meningkatkan efisiensi dan memungkinkan tercapainya economy of scale,” kata Nafan kepada Katadata, Jumat (20/2).

Ia menambahkan, kepastian produksi juga berpotensi mempertebal margin keuntungan sekaligus meningkatkan kepercayaan investor karena emiten dinilai memiliki praktik pertambangan yang kredibel di mata regulator.

Pendapat senada juga disampaikan pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana. Menurut dia, tidak dipangkasnya kuota produksi dalam RKAB 2026 menjadi katalis positif karena volume produksi merupakan fondasi utama bagi arus kas dan laba bersih emiten tambang.

“Ketika sebagian pelaku pasar sempat mengkhawatirkan adanya pengetatan produksi demi menjaga harga global, emiten yang tetap memperoleh kuota penuh justru berada pada posisi yang lebih diuntungkan karena dapat menjaga skala operasional dan memaksimalkan momentum harga batu bara yang masih relatif stabil di tengah dinamika energi global,” ujar Hendra.

Dalam konteks masing-masing emiten, PTBA sebagai perusahaan pelat merah yang terintegrasi dengan pasar domestik kuat melalui skema domestic market obligation (DMO) berpotensi menjaga stabilitas margin berkat struktur biaya yang kompetitif dan neraca yang solid.

AADI yang memiliki eksposur ekspor besar juga diuntungkan karena dapat mempertahankan kontrak jangka panjang dan memaksimalkan momentum harga global. Sementara BUMI memperoleh katalis dari sisi sentimen dan perbaikan fundamental pascarestrukturisasi utang, karena kuota yang tetap membuka ruang optimalisasi aset tambang.

Adapun INDY, kata Hendra, kini semakin terdiversifikasi ke sektor non-batu bara. Emiten ini tetap mendapat dukungan dari stabilitas produksi batu bara sebagai penopang arus kas untuk ekspansi bisnis energi baru seperti energi terbarukan dan kendaraan listrik.

Jelasnya, secara keseluruhan, kepastian kuota dinilai menjaga utilisasi alat berat dan infrastruktur tambang, sekaligus meningkatkan visibilitas pendapatan emiten pada tahun depan.

“Di tengah dinamika global dan transisi energi, emiten yang memiliki kombinasi volume terjaga, biaya efisien, dan neraca sehat akan menjadi pilihan utama investor,” ujarnya.

Prospek Emiten Batu Bara

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut perusahaan yang tidak terkena pemangkasan adalah yang dikenakan royalti dan menyetorkan laba bersih kepada negara. 

“(Mereka tidak kena pangkas) karena dikenakan royalti 19% dan penyetoran 10% keuntungan bersih kepada negara,” kata Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Tri Winarno saat ditemui di Hotel Borobudur Jakarta, Kamis (12/2). Dari porsi tersebut, 4% disetor ke pemerintah pusat dan 6% ke pemerintah daerah.

Kuota produksi batu bara nasional pada 2026 ditetapkan sekitar 600 juta ton, turun sekitar 190 juta ton dibandingkan realisasi 2025 yang mencapai 790 juta ton. Kebijakan ini ditempuh untuk mencegah kelebihan pasokan sekaligus menjaga harga batu bara. Selain itu, pemerintah juga memangkas kuota produksi nikel menjadi 250–260 juta ton atau turun sekitar 30% dari penetapan tahun sebelumnya sebesar 379 juta ton.

Mengenai prospek dan target harga masing-masing emiten, Hendra menilai saham PTBA masih menarik untuk trading buy dengan target harga Rp 3.000, seiring valuasi yang relatif murah dan potensi arus dana asing ke sektor energi. Untuk AADI, strategi buy on weakness di level Rp 9.025 dengan target Rp 10.000 dinilai relevan bagi investor jangka pendek.

Sementara itu, saham BUMI dinilai cocok untuk speculative buy dengan target Rp 382 karena pergerakannya sensitif terhadap harga batu bara global. Adapun INDY direkomendasikan buy on weakness di area Rp 3.720 dengan target Rp 4.000 seiring diversifikasi bisnis yang semakin kuat.

Di sisi lain, Nafan merekomendasikan akumulasi saham AADI, INDY dan PTBA dengan target harga masing-masing Rp 10.125, Rp 4.090 dan Rp 2.980.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...