Katalis Baru Kinerja Amman (AMMN), Produksi Tambang Batu Hijau Menuju Normal

Karunia Putri
24 Februari 2026, 08:54
Kepulan asap keluar dari cerobong pabrik smelter PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) di Dusun Otak Keris, Kecamatan Maluk, Sumbawa Barat, NTB, Kamis (31/10/2024). Fasilitas smelter dan pemurnian logam mulia Amman berdiri di kawasan seluas 272 hektare de
ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/foc.
Kepulan asap keluar dari cerobong pabrik smelter PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) di Dusun Otak Keris, Kecamatan Maluk, Sumbawa Barat, NTB, Kamis (31/10/2024). Fasilitas smelter dan pemurnian logam mulia Amman berdiri di kawasan seluas 272 hektare dengan kapasitas pengolahan mencapai 900 ribu ton per tahun yang memproses konsentrat tembaga dari tambang Batu Hijau dan tambang Elang serta fluks silika sebanyak 139 ton per tahun.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kinerja PT Amman Mineral Tbk (AMMN) diproyeksikan berbalik pulih pada 2026 seiring normalisasi operasi penambangan emas dan tembaga di Batu Hijau setelah masa transisi ke Phase 8. Peningkatan volume penjualan tembaga dan emas diperkirakan mendorong penyerapan biaya tetap, menurunkan biaya per unit serta memperbaiki margin dan profitabilitas perseroan.

Emiten yang dikendalikan Agoes Projosasmito itu dinilai akan mencatat perbaikan fundamental yang berpotensi mengangkat pergerakan sahamnya. Berdasarkan riset Phintraco Sekuritas, AMMN direkomendasikan buy dengan target harga Rp 8.700 per saham atau naik 11,53% dibandingkan posisi penutupan Rp 7.800 pada Senin (23/2).

Phintraco mencatat saat ini kapitalisasi pasar AMMN mencapai Rp 551,13 triliun. Adapun rekomendasi beli didasarkan pada metode discounted cash flow dan perbandingan relatif. Rasio price to book value (P/BV) AMMN saat ini masih berada di bawah rata-rata lima tahun sebesar 6,97 kali, dengan estimasi valuasi mencerminkan 9,39 kali price to earnings ratio (P/E) dan 5,12 kali P/BV.

Meski AMMN belum melaporkan kinerja keuangan 2025 secara penuh, Phintraco Sekuritas memproyeksikan kinerja AMMN masih berada dalam tekanan. Pendapatan pada 2025 diperkirakan mencapai US$ 1,14 miliar, turun 57% secara tahunan dibandingkan US$ 2,66 miliar pada 2025. 

Penurunan tersebut terjadi sejalan dengan output yang masih rendah pada fase awal Phase 8, ketika penambangan didominasi area permukaan dengan kadar bijih yang belum optimal.

Phintraco menilai, tahun kuda api ini akan menjadi titik balik kinerja AMMN. Produksi tambang tembaga dan emas Batu Hijau yang kembali normal diperkirakan memulihkan volume penjualan dan menekan biaya per unit secara signifikan. 

“Dengan cadangan Phase 8 yang masih besar dan pipeline Proyek Elang, kami menilai AMMN memiliki visibilitas pertumbuhan tembaga emas jangka panjang sekaligus umur tambang yang lebih panjang,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya dikutip Selasa (24/2).

Perbaikan ini juga ditopang oleh penguatan rantai nilai melalui smelter Precious Metal Refinery (PMR) yang mulai berkontribusi pada produk bernilai tambah serta ekspansi konsentrator yang ditargetkan mulai commissioning pada awal 2026.

Meski diproyeksikan cerah, broker ini tetap mewanti-wanti adanya risiko terhadap kinerja AMMN. Risiko tersebut meliputi potensi keterlambatan ramp up produksi Phase 8, volatilitas harga tembaga dan emas serta risiko eksekusi proyek hilirisasi dan ekspansi yang dapat menekan margin dan arus kas.

Operasi Batu Hijau dan Proyek Elang AMMN Dorong Pemulihan

Kegiatan operasional AMMN saat ini dijalankan oleh entitas anak PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT). Entitas inilah yang mengoperasikan Tambang Batu Hijau di Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Tambang terbuka ini menghasilkan konsentrat tembaga dengan kandungan emas dan perak dan telah berproduksi sejak 2000.

Hingga 31 Desember 2024, Batu Hijau mencatat produksi kumulatif sekitar 10.065 juta pon tembaga dan 10,8 juta ons emas. Pada 2024, total material yang ditambang mencapai 322 juta ton, meningkat 2% dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi volume tertinggi sejak awal operasi. Sementara itu, total tonase yang diproses naik 6% menjadi 39 juta ton.

Saat ini Batu Hijau berada pada fase akhir Phase 7 dan memasuki transisi ke Phase 8. Produksi bijih dari Phase 8 diperkirakan mulai pada 2025 setelah aktivitas pengupasan batuan penutup yang dimulai sejak 2021.

“Dengan masuknya Fase 8, Batu Hijau diharapkan tetap menjadi penopang produksi pada jangka menengah,” ujarnya.

Selain proyek tambang Batu Hijau, AMMN memiliki proyek eksplorasi yang disebut sebagai Proyek Elang. Proyek tersebut berlokasi sekitar 60 kilometer di timur Batu Hijau. Studi kelayakan proyek ini telah rampung pada 2025 dengan rencana pemanfaatan infrastruktur Batu Hijau, termasuk fasilitas pengolahan, utilitas energi, Pelabuhan Benete dan akses jalan.

Berdasarkan pembaruan JORC 2024, Elang memiliki sumber daya mineral sekitar 3,8 miliar ton dan cadangan bijih sekitar 2,5 miliar ton. Proyek ini dijadwalkan memasuki tahap pengupasan batuan penutup pada 2026–2031 dan fase produksi pada 2031–2050, sehingga menjadi penopang keberlanjutan produksi AMMN setelah Phase 8.

Di lain sisi, Mirae Asset Sekuritas memberikan target harga saham AMMN ke level 8.000 - 8.575. Broker tersebut menilai prospek kinerja perseroan ditopang oleh transformasi model bisnis dan momentum komoditas.

Senior Market Analis Mirae Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, smelter tembaga AMMN di Sumbawa yang telah beroperasi dengan kapasitas penuh menjadikan perseroan tidak lagi sekadar produsen konsentrat, tetapi beralih menjadi produsen katoda tembaga dengan nilai tambah lebih tinggi melalui proses hilirisasi.

Menurutnya, penambangan Batu Hijau pada Phase 7 saat ini menghasilkan bijih tembaga dan emas dengan kadar di atas rata-rata historis. Sementara pengembangan Phase 8 dinilai mampu menjaga kesinambungan produksi hingga dekade mendatang, sehingga memberikan kepastian bagi investor jangka panjang, khususnya institusi.

Prospek kinerja AMMN juga ditopang oleh tren permintaan tembaga global yang diperkirakan tetap mengalami defisit pada 2026. Kondisi ini seiring ekspansi besar-besaran infrastruktur kendaraan listrik dan pembangunan pusat data untuk mendukung perkembangan teknologi kecerdasan buatan.

Selain itu, kontribusi emas sebagai produk sampingan turut memperkuat arus kas perseroan. “Dengan harga emas global yang bertahan di atas US$ 5000 per ons, emas menjadi mesin kas tambahan yang sangat kuat bagi AMMN,” ujar Nafan dalam risetnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...