Menilik Arah Berkah Prima (BLUE) Usai Ganti Pengendali, Bakal Ubah Model Bisnis?

Nur Hana Putri Nabila
25 Februari 2026, 06:50
Bursa suspensi 5 saham hari ini
Unsplash
Bursa suspensi 5 saham hari ini
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Emiten percetakan PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE) berpotensi mengganti fokusnya ke bisnis pertambangan usai Perusahaan asal Hong Kong Dragonmine Mining menjadi pengendali BLUE. Apalagi Dragonmine Mining akan mengakuisisi sebanyak 334,4 juta saham BLUE atau sebanyak 80% dari seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh.

Berdasarkan profilnya, Dragonmine Mining (Hong Kong) Limited merupakan perusahaan swasta yang berkantor pusat di Hong Kong dan dimiliki oleh Huayou Hongkong Limited. Meski BLUE belum mengungkapkan secara rinci identitas Dragonmine Mining, Huayou Hongkong Limited merupakan anak usaha dari Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd. yang fokusnya sebagai kendaraan investasi luar negeri di sektor pertambangan dan mineral.

Huayou memiliki lima pilar bisnis utama yang mencakup seluruh rantai industri material baterai lithium-ion. Dalam strategi globalnya, industri nikel di Indonesia menjadi salah satu sektor yang dinilai strategis. 

Perusahaan asal Tiongkok itu juga terus memperluas ekspansinya di Indonesia untuk membangun ekosistem baterai terintegrasi, salah satunya melalui pengembangan Proyek Titan yang bekerja sama dengan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan Indonesia Battery Corporation (IBC).

Seiring dengan itu Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia Ezaridho Ibnutama melihat ada peluang bagi BLUE untuk mengubah arah bisnis usai ganti pengendali. Menurutnya, langkah seperti ini bisa menjadi cara untuk memperbaiki perusahaan-perusahaan dengan kinerja lemah di Bursa Efek Indonesia (BEI). 

Terlebih pada periode sebelumnya ketika pengawasan pasar masih terbatas, kata Ezaridho, sehingga membuka peluang bagi perusahaan dengan kualitas lebih baik masuk ke bursa lewat skema backdoor listing.

Ia juga menyebut BEI kini sudah merilis aturan baru yang memungkinkan emiten mengganti kode saham (ticker). Apalagi ia menyebut sekitar 30% perusahaan tercatat di BEI saat ini masih membukukan rugi bersih.

“Dengan adanya reformasi pasar modal yang mewajibkan porsi saham publik free float lebih tinggi berdasarkan ukuran kapitalisasi pasar, regulasi baru ini memicu kemacetan baru pada aksi IPO,” ungkap Ezar, Senin (24/2). 

Di samping itu Dragonmine Mining berada dalam jaringan Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd. yang telah menanamkan investasi miliaran dolar pada proyek nikel di Indonesia, termasuk di kawasan Kawasan Industri Morowali dan Pomalaa.

Ia menilai potensi masuknya aset nikel ke dalam struktur bisnis BLUE dinilai terbuka. Seiring kabar akuisisi ini, saham BLUE juga melonjak. Secara year to date harga sahamnya naik sekitar 117% dan melesat hampir 1.900% dalam setahun terakhir.

“Namun harga saham BLUE sempat terkoreksi ditengah kondisi pasar yang fluktuatif saat mengumumkan fakta CSPA ini,” ucapnya. 

Ezaridho menyebut langkah Dragonmine mencaplok BLUE bukanlah fenomena tunggal. Apabila melihat pola serupa, Ezaridho menyebut langkah ini seperti perusahaan produsen material baterai asal Cina CNGR Group menjadi pengendali di PT Solusi Kemasan Digital Tbk (PACK).

Perusahaan yang awalnya bergerak di bisnis kemasan itu kemudian diakuisisi oleh PT Eco Energi Perkasa, perusahaan milik Deng Weiming, pendiri CNGR Advanced Material Co., Ltd. yang dikenal sebagai salah satu produsen baterai terbesar di dunia. 

Setelah akuisisi, kata Ezaridho, PACK berganti nama menjadi PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk dan mengumumkan rencana rights issue jumbo untuk memasukkan aset tambang dan smelter nikel ke dalam bisnisnya.

Ia mengatakan bagi pemain global seperti Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd. dan CNGR Advanced Material Co., Ltd., mengakuisisi emiten berkapitalisasi kecil seperti BLUE dan PACK menjadi jalur cepat untuk masuk ke pasar modal. Menurutnya, langkah ini menawarkan jalur ekspres dibandingkan harus melakukan IPO dari awal yang prosesnya lebih panjang.

“Mereka menggunakan perusahaan listing agar dapat menarik modal dari investor lokal dan institusi melalui rights issue untuk mendanai proyek hilirisasi nikel di Indonesia,” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...