Ambil Pasar Garuda, Danantara Ungkap 65% Pendapatan Singapore Airlines dari RI
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia menyebut hampir 65% total pendapatan maskapai Singapura atau Singapore Airlines berasal dari penerbangan dari dan ke Indonesia. Hal ini menurut dia menjadi tantangan sekaligus peluang bagi maskapai Tanah Air PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA).
Managing Director Stakeholders Management Danantara Indonesia, Rohan Hafas, menyebutkan pendapatan yang diterima Singapore Airlines dari dan ke Indonesia lebih besar dibanding kontribusi dari sejumlah rute jarak jauh seperti ke New York. Ia menyoroti perbandingan frekuensi penerbangan antara Singapore Airlines dan Garuda Indonesia (GIAA).
Menurut Rohan, saat ini Singapore Airlines mampu melayani sekitar 6–8 penerbangan per hari ke Indonesia. Sementara Garuda hanya 1–2 penerbangan per hari ke Singapura.
“65% pendapatan Singapore Airlines datang dari rute yang 6x sampai 8x dari Indonesia, dibanding dia ke New York, ke segalanya,” kata kata Rohan dalam Exclusive Group Interview di Gedung Danantara, Jakarta, Kamis (26/2).
Rosan menjelaskan bagi Singapore Airlines perjalanan internasional jarak jauh tidak terlalu menguntungkan karena harus bersaing dengan banyak maskapai seperti Qatar Airways dan Emirates. Rohan pun mengaku rute Indonesia–Singapura justru jadi sumber pendapatan besar dengan frekuensi sekitar 7–8 penerbangan per hari dari Indonesia ke Singapura.
“Jadi sayang kalau kita hanya bisa menggerutu Garuda gak beres-beres, ya gak disokong, kami enggak naik Garuda atau naik Citilink, kan pembukuannya satu, Garuda dan Citilink itu anak-anak perusahaan,” ujar Rohan.
Apabila kilas balik ke saat Covid-19 kondisi Garuda Indonesia rapuh. ia menjelaskan biaya sewa pesawat tetap berjalan sementara penumpang hampir tidak ada. Akibatnya pendapatan maskapai hilang, bahkan ada pesawat yang disita sehingga tidak bisa terbang.
Ia juga menyebut saat itu armada yang beroperasi hanya tersisa sekitar tiga hingga empat pesawat. Dalam kondisi itu, kata Rohan, Garuda banyak ditopang oleh anak usahanya Citilink.
Setelah pandemi, Garuda mulai kembali terbang dengan berbagai perbaikan manajemen. Namun ia menilai proses pemulihan maskapai sebesar Garuda membutuhkan waktu. Oleh karena itu, tahun 2025 bukanlah periode untuk mengejar laba, melainkan fokus pada perubahan struktur organisasi, stabilisasi, dan perbaikan operasional.
“Garuda dengan flag carrier kita ya, dicintai seluruh Indonesia, sekaligus sering juga dihujat juga, tetapi tetap dicintai. Paling dicintai pada saat Covid-19 karena pada saat itu Garuda sudah 90% akan ditutup, kurang lebih waktu Covid atau sebelum Covid,” ucap Rohan.
Lalu Danantara tengah melakukan transformasi besar-besaran untuk menyehatkan maskapai pelat merah PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), antara lain dengan menggelontorkan suntikan modal mencapai Rp 23,67 triliun.
Managing Director Non-Financial Holding Operasional Danantara, Febriany Eddy. Ia memastikan, penyelamatan GIAA tak sekedar suntikan dana. “Danantara full akan mendukung Garuda, dalam transformasi ini, komitmen full dari Danantara bukan free lunch, bukan gratis. Kami akan kawal sampai ke dalam, ke bawah,” kata Febriany di Jakarta, akhir pekan lalu.
Seiring dengan itu apabila menilik kinerja keuangannya, emiten maskapai pelat merah itu mencatat rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk hingga kuartal III tahun 2025 sebesar US$ 182,54 juta atau Rp 3,04 triliun. Rugi itu naik 39,3% secara tahunan (yoy).
Mengutip laporan keuangan yang dipublikasikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), pendapatan usaha hingga akhir September 2025 turun jadi US$ 2,39 miliar dari kuartal III tahun 2024 yang sebesar US$ 2,56 miliar.
