Data Indeks Harga Produsen Amerika Serikat Panas, Wall Street Berguguran
Indeks bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) anjlok pada perdagangan Jumat (27/2) setelah data inflasi produsen melonjak.Dow Jones Industrial Average turun 521,28 poin atau 1,05% ke level 48.977,92. S&P 500 melemah 0,43% menjadi 6.878,88
Sementara itu Nasdaq Composite terkoreksi 0,92% ke posisi 22.668,21. Sepanjang bulan itu, S&P 500 dan Nasdaq Composite juga berakhir di zona merah.
Kekhawatiran pasar meningkat terhadap dampak perkembangan kecerdasan buatan (AI) terhadap sejumlah sektor industri dan perekonomian. Apalagi perusahaan fintech Block milik Jack Dorsey mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) lebih dari 4.000 karyawan atau hampir setengah dari total tenaga kerjanya.
Saham yang terkait kredit swasta juga tertekan setelah kolapsnya penyedia hipotek asal Inggris, Market Financial Solutions. Saham Apollo Global Management dan Jefferies Financial Group masing-masing merosot lebih dari 8% dan 9%. Sementara itu, saham Blue Owl Capital melemah sekitar 6% di tengah tekanan likuiditas dan penjualan aset.
Sejumlah saham perangkat lunak berkapitalisasi besar turut melemah pada perdagangan Jumat dan menutup Februari dengan kinerja negatif. Saham Salesforce turun lebih dari 2%, diikuti Microsoft yang juga terkoreksi dan membebani indeks Dow Jones Industrial Average.
Sementara itu, perusahaan keamanan siber Zscaler anjlok 12% setelah pendapatan tertunda dan nilai tagihan pada kuartal fiskal kedua tidak memenuhi ekspektasi pasar. Saham CoreWeave juga merosot 18% setelah perusahaan memberikan panduan kinerja yang mengecewakan.
Di sektor semikonduktor, saham Nvidia kian turun pascarilis laporan keuangan dengan terkoreksi 4% pada Jumat. Sehari sebelumnya, saham produsen chip tersebut sudah terkoreksi lebih dari 5% hingga mengejutkan sebagian investor yang sebelumnya optimistis terhadap kinerja perusahaan setelah positifnya laporan kuartal keempat dan prospek siklus produk baru.
Pelaku pasar juga mengaitkan penurunan saham Nvidia dengan keraguan atas potensi kesepakatan perusahaan dengan OpenAI. Selain itu, sentimen terhadap perdagangan berbasis kecerdasan buatan (AI) juga melemah dalam beberapa waktu terakhir.
Lonjakan Indeks Harga Produsen (IHP) AS.
Tingginya data Indeks Harga Produsen (IHP) Amerika Serikat dari ekspektasi memicu kekhawatiran investor terhadap inflasi. Sentimen tersebut menekan pasar yang sepanjang Februari sudah diliputi volatilitas. Apalagi IHP AS Januari menunjukkan inflasi grosir meningkat 0,5% secara bulanan. Angka itu lebih tinggi dari perkiraan ekonom sebesar 0,3% berdasarkan survei Dow Jones.
Lebih jauh, inflasi inti IHP yang tidak memasukkan harga makanan dan energi, melonjak 0,8%, jauh di atas proyeksi ekonom sebesar 0,3%. Hal itu menambah kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi yang masih kuat.
Kepala investasi di Integrated Partners, Stephen Kolano, menilai laporan Indeks Harga Produsen (PPI) AS menjadi sentimen tambahan bagi investor di tengah kekhawatiran pasar. Menurut dia, pasar sebelumnya sudah diliputi kekhawatiran terkait besarnya pengeluaran modal untuk kecerdasan buatan (AI), potensi disrupsi industri, hingga tekanan mulai muncul di pasar kredit swasta.
Kolano juga menilai naiknya inflasi tampaknya lebih banyak didorong oleh sektor jasa. Kondisi ini menunjukkan kemungkinan perusahaan mulai meneruskan biaya tarif kepada konsumen akhir untuk menjaga margin keuntungan.
Selain itu ia menegaskan inflasi masih belum sepenuhnya terkendali. Situasi tersebut menciptakan dilema bagi Federal Reserve untuk memutuskan apakah akan menurunkan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi atau mempertahankannya untuk terus menekan inflasi.
“Ini hanya menciptakan ketidakpastian tentang arah kebijakan yang akan diambil sisa tahun ini,” ucap Kolano dikutip CNBC International, Senin (2/3).
Kolano juga menyebut kekhawatiran pasar juga mencakup kondisi pasar tenaga kerja. Meski pertumbuhan lapangan kerja bulan lalu melampaui perkiraan, kepala investasi di Integrated Partners itu menilai stabilitas pasar tenaga kerja masih dipertanyakan seiring mulai meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK).
Ia menunjuk laporan dari Challenger, Gray & Christmas yang menyebut jumlah PHK pada Januari mencapai level tertinggi untuk bulan tersebut sejak Krisis Keuangan Global 2008.
“Saya tidak melihat tanda yang jelas bahwa tingkat pengangguran tidak akan naik lebih tinggi untuk saat ini,” katanya.
Adapun Nasdaq Composite turun lebih dari 3% sepanjang Februari, menandai kinerja bulanan terburuk sejak Maret tahun lalu. ETF sektor perangkat lunak, iShares Expanded Tech-Software ETF (IGV), merosot hampir 10% sepanjang bulan ini sehingga memperdalam kerugian tahun berjalan menjadi hampir 23%. Sementara itu, S&P 500 mencatatkan turun sekitar 1% pada Februari. Sebaliknya Dow Jones Industrial Average masih mencatat kenaikan sekitar 0,2%.
