Raksasa Petrokimia Milik Prajogo (TPIA) Nyatakan Force Majeure Imbas Perang Iran

Nur Hana Putri Nabila
4 Maret 2026, 06:28
Chandra Asri
Chandra Asri
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Perusahaan petrokimia Indonesia PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menyatakan force majeure usai terganggunya pengiriman bahan baku melalui Selat Hormuz menyusul pecahnya konflik dengan Iran.

Perusahaan milik konglomerat RI Prajogo Pangestu itu menyampaikan pemberitahuan kepada pelanggan pada 2 Maret terkait gangguan tersebut. Mengutip Bloomberg, dalam pemberitahuan itu disebutkan durasi force majeure masih belum dapat dipastikan.

Manajemen Chandra Asri juga menyatakan tengah memantau perkembangan situasi antara Amerika Serikat dan Iran. TPIA juga telah menerapkan langkah-langkah pencegahan untuk menjaga ketahanan operasional di seluruh unit bisnis.

“Sebagai bagian dari langkah-langkah ini, kami akan menyesuaikan tingkat operasional (run rates) di pabrik-pabrik kami,” ucap manajemen TPIA dikutip Bloomberg, Rabu (4/3).

Konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat mengganggu arus pengiriman minyak di Selat Hormuz. Sejak serangan terjadi di kawasan tersebut, jumlah kapal tanker yang melintas dilaporkan turun signifikan. Padahal, sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati jalur pelayaran sempit tersebut.

Di sisi lain, Chandra Asri Pacific mengoperasikan kompleks petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia yang memproduksi olefin dan poliolefin. Perusahaan juga memiliki dan mengelola fasilitas pengolahan serta industri kimia hilir di Singapura melalui skema joint venture.

Mengacu pada informasi di situs perusahaan, Chandra Asri memiliki kilang dengan kapasitas sekitar 237.000 barel per hari serta fasilitas cracker naphtha berkapasitas sekitar 0,9 juta metrik ton per tahun.

Sebelumnya, manajemen TPIA menyebut sekitar 50% kebutuhan petrokimia nasional masih dipenuhi melalui impor, sementara pertumbuhan permintaan di Indonesia melampaui rata-rata global. 

Kondisi tersebut menjadi dasar bagi TPIA untuk memperkuat kapasitas produksi, mendorong substitusi impor, serta menciptakan nilai tambah bagi perekonomian termasuk pembukaan lapangan kerja di dalam negeri.

Direktur Sumber Daya Manusia & Corporate Affairs Chandra Asri Group, Suryandi, menyampaikan pengembangan ekosistem tersebut menjadi fondasi utama strategi pertumbuhan perusahaan.

Ia mengatakan perusahaan berupaya membangun ekosistem yang saling terintegrasi di sektor energi, kimia, dan infrastruktur sebagai satu kesatuan bisnis yang kuat dan mampu bersaing di tingkat Asia Tenggara.

Tak hanya itu, Suryandi juga menyebut dari sisi kapasitas produksi, perseroan menargetkan kapasitas terintegrasi TPIA meningkat dari sekitar 4,2 juta ton pada 2024 menjadi lebih dari 21 juta ton pada 2027. Angka itu melonjak hampir lima kali lipat seiring ekspansi aset dan integrasi regional yang dijalankan perseroan.

“Dengan rekam jejak pertumbuhan yang konsisten, kami telah berkembang dari akar lokal menjadi perusahaan petrokimia terbesar keempat di Asia Tenggara,” kata Suryandi dalam diskusi bersama media pada 24 Februari 2026.

 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...