Wall Street Turun Saat Konflik AS–Iran Memanas, Harga Minyak Tembus US$80
Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) turun pada perdagangan saham Kamis (5/3) setelah meningkatnya kekhawatiran geopolitik AS–Iran dan lonjakan harga minyak mentah yang menembus US$ 80 per barel.
Dow Jones Industrial Average anjlok 784,67 poin atau 1,61% ke level 47.954,74. Sementara itu, S&P 500 turun 0,56% ke 6.830,71 dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,26% menjadi 22.748,99.
Investor melepas saham-saham siklikal yang sensitif terhadap perlambatan ekonomi global, termasuk Boeing dan Caterpillar.
Selain itu sentimen pasar memburuk setelah harga minyak melonjak tajam. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate crude oil sempat menembus US$80 per barel pada siang hari dan mencapai level tertinggi sejak Juli 2024.
Hal itu setelah Iran menyatakan telah menyerang sebuah kapal tanker minyak dengan rudal. Kontrak WTI akhirnya ditutup melonjak lebih dari 8% di level US$81,01 per barel.
Di sisi lain, kontrak berjangka minyak Brent crude oil yang menjadi acuan global juga naik hampir 5% dan ditutup di US$ 85,41 per barel.
Lonjakan harga minyak memicu volatilitas besar di pasar saham sepanjang sesi perdagangan. Indeks Dow sempat merosot hampir 1.000 poin ketika harga minyak menembus US$ 80 per barel, bahkan sempat anjlok lebih dari 1.100 poin atau sekitar 2,4% pada titik terendah intraday. S&P 500 dan Nasdaq juga bergerak mendekati level terendah sesi setelah sebelumnya sempat diperdagangkan sedikit di atas level netral.
Dalam sepekan terakhir, harga minyak mencatat reli tajam. Minyak WTI melonjak lebih dari 20% sepanjang minggu ini, sementara Brent naik hampir 18% dan mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak Maret 2022.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan Iran tidak meminta gencatan senjata dari Amerika Serikat maupun Israel. Alhasil ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah masih berpotensi meningkat.
“Kami tidak melihat alasan mengapa kami harus bernegosiasi,” ucap Araghchi, dikutip CNBC International, Jumat (6/3).
Kepala Strategi Investasi CFRA Research, Sam Stovall mengatakan investor mulai mempertanyakan sejauh mana Amerika Serikat mampu menangani konflik yang berkembang. Ia menilai pasar kini mempertanyakan apakah Donald Trump benar-benar mampu mengamankan jalur pelayaran energi di Selat Hormuz.
Ia menambahkan, investor juga mencermati potensi dampak konflik terhadap beban fiskal Amerika Serikat.
Sebelumnya, kekhawatiran pasar soal gangguan pasokan minyak dan gas sempat mereda setelah Trump pada Selasa menyatakan AS sedang menyiapkan skema asuransi risiko dan pengawalan bagi kapal-kapal di Teluk Persia agar tetap dapat melintasi Selat Hormuz.
Namun, Gedung Putih belum memberikan kepastian jadwal kapan jalur tersebut akan sepenuhnya aman bagi kapal tanker. Selat Hormuz sendiri menjadi jalur vital yang menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan AS “menang secara telak” dalam konflik dengan Iran. Ia juga menegaskan tengah menambah pasukan untuk dikirim ke kawasan tersebut.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Scott Bessent menyatakan tarif global sebesar 15% yang sebelumnya diumumkan Trump kemungkinan mulai berlaku pada pekan ini.
Lalu di tengah tekanan pasar, saham Berkshire Hathaway justru mencuri perhatian setelah naik lebih dari 2%. Kenaikan terjadi setelah konglomerat tersebut mengumumkan program pembelian kembali saham (buyback) untuk pertama kalinya sejak 2024. CEO Greg Abel juga dilaporkan membeli saham perusahaan secara pribadi senilai US$ 15 juta.
