IHSG Diramal Turun Lagi, Analis Jagokan Saham BBCA, BBRI hingga BMRI

Karunia Putri
9 Maret 2026, 06:28
ihsg, bbri, bmri, bbca,
ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/rwa.
Pekerja melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

IHSG atau Indeks Harga Saham Gabungan diproyeksikan turun pada perdagangan Senin (9/3). Analis merekomendasikan saham bank jumbo PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) hingga PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).

Analis BinaArtha Sekuritas Ivan Rosanova yakin IHSG turun lagi pada hari ini (9/3). Ia memproyeksikan level support indeks berada di 7.391, 7.140, 6.991 dan level resistance di 7.897, 8.246, 8.527. 

Menurut dia, target ideal koreksi berdasarkan struktur dari tren naik yang terbentuk sebelumnya, yakni di level 7.140. Level ini perlu dipantau, kata dia, karena kemungkinan menentukan peluang beli ataupun tanda pembalikan pasar.

“Indikator MACD menunjukkan adanya momentum bearish,” kata Ivan dalam keterangannya dikutip Senin (9/3).

Support merupakan area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena peningkatan pembelian.

Sedangkan resistance adalah tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar sehingga laju kenaikan harga tertahan.

MACD atau Moving Average Convergence Divergence adalah indikator yang digunakan untuk mengukur kekuatan dan arah tren harga saham. Garis MACD yang terus menanjak menunjukkan tren naik alias positive slope berlanjut dan momentum beli tetap kuat.

Ivan merekomendasikan beberapa saham yang dapat diperhatikan hari ini, di antaranya PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM).

Sementara itu, analis pasar modal sekaligus pendiri Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong lonjakan harga energi dunia, terutama minyak mentah jenis Brent yang sempat menembus US$ 93 per barel.

Bagi negara seperti Indonesia yang masih menjadi net importir minyak, kenaikan harga energi global berpotensi menekan neraca perdagangan, nilai tukar rupiah, serta meningkatkan beban subsidi energi dalam APBN.

“Kondisi ini membuat investor asing cenderung melakukan aksi jual di pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia, yang terlihat dari masih terjadinya arus dana keluar (foreign net sell) di pasar saham,” kata Hendra.

Menurutnya, dalam jangka pendek, IHSG masih berpotensi bergerak fluktuatif dengan support kuat di kisaran 7.450 - 7.500. Jika tekanan global mulai mereda, indeks berpeluang kembali bergerak menuju area 7.900 hingga 8.000 dalam jangka menengah.

Hendra juga menilai saham sektor minyak dan gas serta perkapalan energi berpotensi menjadi defensive play di tengah ketidakpastian geopolitik. Beberapa saham yang dapat dicermati antara lain PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dengan target 1.900, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dengan target 2.000, PT Elnusa Tbk (ELSA) dengan target 900, PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI) dengan target 240 serta PT Sochi Lines Tbk (SOCI) dengan target 650.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...