Wall Street Melorot Imbas Melonjaknya Harga Minyak dan Data Lapangan Kerja AS

Karunia Putri
9 Maret 2026, 06:35
Bursa Wall Street, harga minyak,
ANTARA
Bursa Wall Street
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup turun pada perdagangan Jumat (6/3) waktu setempat. Penurunan terjadi di tengah lonjakan harga minyak dunia dan respons pasar terhadap penurunan tak terduga pada data penciptaan lapangan kerja baru di AS.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 453,19 poin atau 0,95% menjadi 47.501,55. Sepanjang perdagangan, indeks ini bahkan sempat merosot hampir 950 poin atau sekitar 2%. Sementara itu, S&P 500 merosot 1,33% ke level 6.740,02. Adapun Nasdaq Composite turun 1,59% ke posisi 22.387,68.

Tekanan di pasar terjadi seiring lonjakan harga minyak mentah. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) menembus US$ 90 per barel dan menutup pekan kemarin dengan kenaikan sekitar 35%. Kenaikan ini menjadi lonjakan mingguan terbesar sejak perdagangan kontrak berjangka minyak dimulai pada 1983.

Kenaikan harga minyak terjadi ketika investor menimbang dampak konflik antara Amerika Serikat dan Iran terhadap pasokan energi global.

Harga minyak melonjak pada Jumat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan lewat platform Truth Social, bahwa tidak akan ada kesepakatan untuk mengakhiri perang AS - Iran tanpa penyerahan tanpa syarat dari negara Timur Tengah itu.

Profesor emeritus Wharton Jeremy Siegel mengatakan pasar kini berada dalam posisi yang sangat berhati-hati.  “Jika tidak ada terobosan selama akhir pekan, saya pikir kita akan melihat harga minyak mencapai US$ 100 minggu depan,” kata dia dikutip dari CNBC Internasional, Senin (9/3).

Menteri Energi Qatar Saad al-Kaabi mengatakan bahwa produsen energi di kawasan Teluk kemungkinan perlu memberlakukan force majeure dalam beberapa hari ke depan. Langkah itu berarti penghentian produksi sementara dan berpotensi mendorong harga minyak hingga US$ 150 per barel.

Ia memperingatkan bahwa konflik di Timur Tengah dapat menjatuhkan perekonomian dunia.

Manajer portofolio Argent Capital Management Jed Ellerbroek menilai rentang antara harga tertinggi dan terendah minyak kini melebar signifikan. Bahkan jika proyeksi harga US$ 150 per barel dari al-Kaabi dipangkas sekitar 20%, harga minyak tetap berada pada level yang mengkhawatirkan.

“Jika saya seorang trader, saya tidak terlalu bersemangat memegang banyak saham yang sensitif terhadap kondisi ekonomi selama akhir pekan ketika perang dengan Iran masih berlangsung, dengan volatilitas dan ketidakpastian dari Presiden Trump,” kata Ellerbroek. 

Menurutnya, semakin lama situasi ini berlangsung, semakin besar dampaknya terhadap perilaku pasar saham.

Beberapa saham yang sensitif terhadap biaya energi ikut tertekan. Saham operator kapal pesiar Royal Caribbean yang telah turun lebih dari 10% sepanjang pekan ini kembali melemah sekitar 1% pada Jumat. Sementara itu, saham produsen alat berat Caterpillar turun lebih dari 3% pada akhir perdagangan.

Selain lonjakan harga minyak, pasar saham merosot karena data ketenagakerjaan terbaru. Bureau of Labor Statistics melaporkan bahwa jumlah nonfarm payrolls turun 92.000 pada Februari.

Angka ini berbalik dari kenaikan Januari yang telah direvisi turun menjadi 126.000 dan jauh di bawah ekspektasi ekonom yang disurvei Dow Jones sebesar 50.000. Tingkat pengangguran juga naik menjadi 4,4% dari sebelumnya 4,3%.

Sepanjang pekan ini, indeks S&P 500 di Wall Street tercatat turun sekitar 2%. Sementara itu, Dow Jones yang berisi 30 saham melemah sekitar 3%, sedangkan indeks teknologi Nasdaq terkoreksi 1,2%.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...