BNI (BBNI) Sepakat Bagikan Dividen Rp 349 per Saham, Siapkan Dana Rp 13 Triliun
Perbankan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sepakat untuk membagikan dividen Rp 13 triliun atau Rp 349 per saham dari tahun buku 2025. Hal itu diputuskan lewat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang diselenggarakan hari ini, Senin (9/3).
Investment Analyst Stockbit Sekuritas, Everson Sugianto, mengatakan besaran dividen tersebut mencerminkan dividend yield sekitar 8,2%, dengan asumsi harga saham Bank Negara Indonesia (BBNI) pada perdagangan intraday berada di level R p4.240 per saham. Nilai dividen itu juga setara dengan dividend payout ratio (DPR) sebesar 65%, sama seperti realisasi pada 2024.
“Cum date dan tanggal pembayaran belum diumumkan,” tulis Everson pada Senin (9/3).
Bila merujuk riwayat dividen, jumlah yang diterima pemegang saham kali lebih kecil dibanding tahun buku 2024 yang dibagikan pada April 2025 senilai Rp 374 per lembar saham. Sementara pada tahun buku 2023 yang dibagikan Maret 2024 senilai Rp 280 per saham.
Menilik kinerja keuanganya tahun buku 2025, hingga akhir 2025 BNI mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 15,9% secara tahunan (Year on Year/YoY), didukung ekspansi kredit ke sektor-sektor produktif. Di samping itu BNI membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 20 triliun sepanjang 2025.
Sementara itu Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengungkapkan, kinerja intermediasi BNI tumbuh positif dan berimbang secara keseluruhan.
"Strategi pertumbuhan kredit yang terdiversifikasi menjadi kunci dalam menjaga kualitas portofolio di tengah perlambatan ekonomi global," ujar Paolo.
Paolo menambahkan pengelolaan neraca BNI sepanjang 2025 difokuskan pada keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi biaya dana, dan permodalan yang kuat. Fokus utama diarahkan pada penguatan pendanaan berbasis CASA.
Hingga akhir 2025, pertumbuhan kredit sebesar 15,9% YoY sepenuhnya didanai oleh dana murah dengan pertumbuhan CASA sebesar 28,9% YoY. Capaian ini ditopang oleh pertumbuhan giro sebesar 43,8% YoY dan tabungan yang mencatat pertumbuhan 11,2% YoY.
Struktur pendanaan yang sehat tersebut menopang pengelolaan likuiditas secara optimal Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 20,7%, jauh di atas ketentuan regulator, sehingga memberikan ruang yang memadai bagi BNI dalam mendukung ekspansi bisnis ke depannya serta mengantisipasi risiko.
Momentum akselerasi bisnis terlihat terutama di kuartal IV tahun 2025 dengan membukukan Pendapatan Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) Rp 9,4 triliun. Pencapaian PPOP ini merupakan tertinggi dibandingkan dengan tiga kuartal sebelumnya. Akselerasi PPOP di kuartal IV ini disupport dari pertumbuhan net interest income (NII) dan fee based income (FBI).
Secara kumulatif 2025, NII dibukukan sebesar Rp 40,3 triliun, dengan loan yield yang tertekan sebagai dampak penurunan suku bunga acuan. Sementara pendapatan non bunga tumbuh 5,2% YoY menjadi Rp 24,6 triliun, didorong oleh peningkatan aktivitas transaksi melalui digital channel, treasury, trade finance, serta peningkatan produktivitas cabang.
Dari sisi kualitas aset, BNI mencatatkan perbaikan berkelanjutan yang tercermin dari penurunan rasio non-performing loan (NPL) dan Loan at Risk (LaR). NPL bruto tercatat sebesar 1,9% atau membaik 10 bps YoY, sementara Loan at Risk (LaR) 8,5% atau membaik 1,8% YoY, mencerminkan penurunan eksposur risiko kredit secara menyeluruh dan sudah kembali ke kondisi sebelum pandemi.
Di sisi lain, NPL coverage ratio mencapai 205,5% dan LaR coverage ratio mencapai 46,9%, menunjukkan tingkat pencadangan yang kuat dan prudent dalam mengantisipasi potensi tekanan risiko ke depan.
"Kami terus memperkuat proses underwriting, pemantauan portofolio secara granular, serta penanganan kredit bermasalah secara dini. Pemanfaatan data analytics dan early warning system menjadi kunci untuk menjaga kualitas aset tetap terkendali," jelas Paolo.
