Tunggu Lelang PLN, TOBA Bidik Proyek PLTB 22 MW di NTT Senilai Rp 1,1 Triliun
PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) tengah mengincar proyek pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) di Nusa Tenggara Timur (NTT). SVP Corporate Finance & Investor Relations TBS Energi, Mirza Hippy mengatakan, target kapasitas pembangkit bayu itu sebesar 22 megawatt (MW).
Secara terperinci, capital expenditure (capex) atau anggaran belanja modal mencapai US$ 2–3 per megawatt atau sekitar Rp 33 miliar–Rp 50 miliar. Apabila dikalkulasikan, nilai untuk 22 MW itu sekitar Rp 739 miliar hingga Rp 1,11 triliun (kurs: Rp 16.800 per dolar AS).
Mirza mengatakan, proyek sini sudah masuk di pipeline perusahaan dan saat ini tengah menunggu dibuka tender lebih lanjut dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Menurut dia, proyek tersebut masih tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) meski sempat dua kali masuk proses tender dan kemudian dibatalkan PLN. Ia berharap lelang proyek angin itu dapat kembali dibuka pada tahun ini.
“Jadi kami masih berharap ini akan ditender kembali mudah-mudahan di tahun ini, tapi yang jelas ini masih ada di RUPTL, jadi chances buat dibuka tender pun cukup besar, mungkin kami masih menunggu lebih lanjut,” kata Mirza di Jakarta, Senin (9/3).
Sepanjang 2025, TBS Energi menata ulang portofolio bisnis sebagai bagian dari langkah strategic repositioning untuk memperkuat fondasi keuangan dan membangun struktur usaha yang lebih resilien.
Langkah ini dilakukan dmi meningkatkan kualitas neraca serta mengarahkan portofolio ke sektor dengan pertumbuhan pendapatan lebih stabil dan potensi valuasi jangka panjang yang lebih tinggi.
Secara operasional, TOBA mencatatkan EBITDA disesuaikan sebesar US$ 47,2 juta. Perseroan juga menjaga posisi kas pada level sehat sebesar US$ 102,3 juta, meningkat 15% dibandingkan 2024.
Salah satu tonggak TOBA pada 2025 adalah penyelesaian akuisisi Sembcorp Environment, yang kini beroperasi dengan nama Cora Environment. Akuisisi ini memperkuat posisi TBS di bisnis pengelolaan limbah di Singapura sekaligus meningkatkan kapasitas aset untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.
Sepanjang 2025, segmen pengelolaan limbah menyumbang US$ 155,4 juta atau sekitar 41% dari total pendapatan perseroan. Sementara itu, segmen pertambangan dan perdagangan batu bara mencatat pendapatan US$ 194,6 juta atau 51% dari total pendapatan, turun dari kontribusi 81% pada tahun sebelumnya.
Meski demikian, perseroan membukukan rugi bersih US$ 162 juta, yang dipengaruhi oleh penurunan harga batu bara global sepanjang 2025 serta kerugian non-kas dan tidak berulang dari divestasi aset PLTU sebesar US$ 97 juta sebagai bagian dari transformasi menuju bisnis rendah karbon.
