IHSG dan Bursa Asia Pasifik Menghijau Terkerek Pernyataan Trump Akhiri Perang
Pasar saham Asia Pasifik menghijau pada pembukaan perdagangan Selasa (10/3). Penguatan indeks di kawasan ini dipicu oleh turunnya harga minyak dunia setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan perang melawan Iran kemungkinan segera berakhir, sehingga meningkatkan sentimen investor.
Pada saat yang sama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 2,17% ke level 7.496 pada pukul 09.05 WIB. Seluruh sektor di Bursa Efek Indonesia mencatat kenaikan.
Sektor industri dasar menjadi yang menguat paling tinggi, yakni sekitar 3%. Kenaikan sektor ini ditopang oleh lonjakan saham perusahaan tambang emas, di antaranya PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang masing-masing naik lebih dari 3%.
Bursa negara kawasan juga menghijau. Saham-saham di Jepang, Korea Selatan dan Australia mencatat kenaikan signifikan. Kondisi ini mendorong indeks MSCI Asia Pacific yang lebih luas naik 3,2% setelah sebelumnya anjlok 3,7% pada perdagangan sebelumnya.
Kenaikan terjadi secara luas, dengan sekitar tujuh saham naik untuk setiap satu saham yang turun. Pemulihan di pasar Asia juga mengikuti rebound di Wall Street setelah saham-saham teknologi di Amerika Serikat melonjak dan menghapus kerugian sebelumnya.
Di kawasan Asia, indeks Nikkei 225 Jepang naik 3,18% ke level 54.405 pada perdagangan intraday pukul 11.18 GMT. Indeks Hang Seng di Hong Kong juga tumbuh 0,93% ke level 25.644.
Sementara itu, indeks KOSPI Korea Selatan melonjak 6,26% ke level 5.580 setelah sebelumnya sempat anjlok lebih dari 8% pada perdagangan sehari sebelumnya. Penurunan tajam tersebut bahkan sempat membuat Korea Exchange menghentikan sementara perdagangan indeks KOSPI selama 20 menit melalui mekanisme trading halt.
Harga Minyak Mentah Turun ke US$ 89 per Barel
Mengutip Bloomberg, sentimen positif muncul setelah Trump menyatakan konflik dengan Iran kemungkinan tidak akan berlangsung lama. Meski ia tidak memastikan perang akan berakhir dalam pekan ini, Trump menyebut operasi militer Amerika Serikat berjalan lebih cepat dari jadwal dan tujuan militer disebut hampir selesai.
Seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap konflik geopolitik, harga minyak mentah global turun tajam. Minyak mentah jenis Brent tercatat merosot sekitar 10% menjadi US$ 89,03 per barel, jauh di bawah puncak US$ 119,50 yang sempat tercapai pada sesi perdagangan Senin.
Pergerakan ini juga memicu perubahan di sejumlah pasar lain. Dolar Amerika Serikat melemah terhadap seluruh mata uang utama G10, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik satu basis poin menjadi 4,11% setelah menghentikan tren kenaikan selama lima hari.
