TBS Energi (TOBA) Bersiap Right Issue 1,3 Miliar Saham, Apa Dampak ke Investor?
PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) tengah mempercepat langkah transformasi bisnisnya di tengah tren transisi energi. Emiten yang bergerak di bidang energi itu menyiapkan tambahan modal melalui aksi korporasi penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau right issue.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pendanaan untuk ekspansi bisnis baru yang digarap perusahaan. Dalam rencana tersebut, perseroan akan menerbitkan hingga 1,39 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp 50 per saham.
Jika seluruh saham terserap, dana yang diperoleh akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan sekaligus mendukung pengembangan sejumlah lini usaha strategis yang kini menjadi fokus perusahaan. Aksi korporasi ini juga menjadi penopang bagi strategi transformasi TBS Energi Utama yang mulai menggeser portofolio bisnisnya dari batu bara menuju sektor yang lebih berkelanjutan.
Manajemen TOBA menyampaikan apabila terdapat pemegang saham yang tidak menggunakan haknya untuk menebus right issue, maka kepemilikan sahamnya berpotensi terdilusi hingga maksimal 14,23%. Di samping itu seluruh dana yang diperoleh dari pelaksanaan right issue setelah dikurangi biaya emisi akan digunakan untuk mendukung pengembangan dan ekspansi bisnis, terutama pada sektor pengelolaan limbah, energi terbarukan, serta kendaraan listrik.
Selain itu, tambahan modal tersebut juga diharapkan dapat memperkuat struktur permodalan perusahaan sekaligus menunjang pertumbuhan usaha TOBA ke depan.
“Peningkatan modal TOBA dalam jangka panjang diharapkan dapat meningkatkan daya saing usaha dan meningkatkan imbal hasil nilai investasi bagi pemegang saham TOBA,” tulis manajemen dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip Kamis (12/3).
Manajemen juga menyampaikan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) terkait rencana Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) akan dilaksanakan pada 16 April 2026.
Tiga Bisnis TOBA di Tengah Transisi dari Batu Bara ke Energi Bersih
Seiring dengan itu TBS Energi Utama mulai mengembangkan beberapa sumber pendapatan baru di tengah upaya beralih dari bisnis batu bara. Perseroan kini mendorong tiga pilar bisnis utama, yakni kendaraan listrik, energi baru terbarukan, hingga pengelolaan limbah.
SVP Corporate Finance & Investor Relations TBS Energi Utama Mirza Hippy mengatakan, pada sektor kendaraan listrik, perusahaan tidak hanya menyediakan armada, tetapi juga membangun rantai nilai yang mencakup infrastruktur baterai hingga stasiun penukaran baterai.
Perusahaan membentuk usaha patungan dengan GOTO Group pada 2021 untuk membangun ekosistem kendaraan listrik. Setelah melalui proses uji coba dan pengembangan selama sekitar dua tahun, perusahaan meluncurkan produk kendaraan listrik pertamanya, Electrum H5 pada November 2023.
Saat ini, jumlah kendaraan listrik yang telah beroperasi sekitar 7.500 unit, dengan lebih dari 350 stasiun penukaran baterai yang tersebar di Jakarta dan kawasan Jabodetabek serta Surabaya.
Demi mendukung pengembangan bisnis EV, perusahaan juga memperoleh pembiayaan blended concessional financing dari Asian Development Bank yang bekerja sama dengan Australia Climate Fund Partnership serta DBS Indonesia. Dana ini akan digunakan untuk pengembangan bisnis kendaraan listrik, termasuk penyediaan armada dan infrastruktur baterai ke depan.
“Proceed-nya itu hanya boleh digunakan untuk pengembangan all EV business termasuk penyediaan fleet dan juga untuk battery infrastructure kami ke depan,” kata Mirza di Jakarta, Senin (9/3).
TBS Energi Utama juga mulai mengalihkan fokus dari bisnis lama seperti batu bara dan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang kini telah sepenuhnya didivestasi. Perusahaan berhasil menekan emisi karbon setelah melepas dua unit PLTU yang sebelumnya menyumbang sekitar 86% emisi portofolio pembangkit, atau setara 1,4 juta ton CO2 per tahun berdasarkan profil emisi 2024.
Pada pilar energi baru terbarukan, TBS Energi Utama memiliki satu pembangkit listrik tenaga mini hidro di Lampung dengan kapasitas 6 megawatt (MW) yang mulai beroperasi secara komersial atau commercial operation date (COD) pada Januari 2025.
Selain itu, melalui anak usahanya, perseroan tengah membangun proyek pembangkit listrik tenaga surya terapung (PLTS) di Batam dengan kapasitas 46 MWp. Proyek tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal keempat tahun ini. TBS Energi Utama juga memasuki sektor waste management pada Agustus 2023, melalui akuisisi Asia Medical Environment Services (AMES) yang bergerak di pengelolaan limbah medis.
Kemudian perusahaan mengakuisisi Arah Environmental Indonesia pada Desember 2023 untuk memperkuat lini bisnis pengelolaan limbah di dalam negeri. Mirza mengatakan langkah ekspansi berlanjut pada Maret 2025, ketika perseroan menuntaskan akuisisi Sembcorp Environment, yang kini berganti nama menjadi Cora Environment.
Perusahaan ini merupakan salah satu pemain besar di bisnis pengelolaan limbah domestik di Singapura. Melalui bisnis itu, perseroan mengembangkan konsep energy from waste, yakni mengolah limbah menjadi energi berupa uap (steam) yang kemudian dijual ke kawasan industri di Singapura melalui kontrak jangka panjang.
“Ini mungkin tiga pilar bisnis baru, saat ini kami harusnya bisa out track untuk mencapai target karbon netralitas pada 2030,” katanya.
