Wall Street Babak Belur di Tengah Lonjakan Harga Minyak hingga Potensi Stagflasi
Indeks bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) ditutup anjlok pada perdagangan saham Jumat (13/3) di tengah lonjakan harga minyak. Seiring dengan itu, pasar terus menanti perkembangan konflik AS–Iran.
S&P 500 turun 0,61% ke level 6.632,19 dan Nasdaq Composite melemah 0,93% menjadi 22.105,36. Adapun Dow Jones Industrial Average juga terkoreksi 119,38 poin atau 0,26% ke level 46.558,47.
Secara mingguan, ketiga indeks tercatat di zona merah. S&P 500 merosot 1,6% sepanjang pekan ini dan mencatat penurunan tiga pekan berturut-turut untuk pertama kalinya dalam sekitar satu tahun terakhir. Dow Jones turun sekitar 2%, sedangkan Nasdaq yang didominasi saham teknologi merosot 1,3%.
Di sisi lain, harga minyak dunia melanjutkan kenaikan. Kontrak berjangka West Texas Intermediate naik 3,11% menjadi US$ 98,71 per barel. Sementara kontrak berjangka Brent Crude menguat 2,67% ke US$ 103,14 per barel dan ditutup di atas US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Agustus 2022.
Lonjakan harga minyak itu setelah Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, menyatakan Selat Hormuz harus tetap ditutup sebagai “alat untuk menekan musuh.” Lalu lintas kapal di jalur pelayaran strategis tersebut dilaporkan hampir terhenti sejak Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari.
Pada Jumat lalu, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menepis kekhawatiran penutupan Selat Hormuz yang dinilai akan terus menjadi masalah. Ia menilai gangguan di jalur pelayaran strategis tersebut tidak akan berlangsung lama.
“Kami telah mengatasinya, dan tidak perlu khawatir tentang hal itu,” ucap Hegseth dalam konferensi pers di Pentagon, dikutip CNBC International pada Senin (16/3).
Kepala Investasi Makro Global di Mount Lucas Management, David Aspell mengatakan pasar saat ini dibayangi kekhawatiran di Wall Street. Hal itu karena kenaikan harga minyak dapat memicu lingkungan stagflasi, yakni inflasi yang lebih tinggi disertai melambatnya pertumbuhan ekonomi.
Menurutnya, kekhawatiran tersebut juga mendorong investor menurunkan ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve tahun ini. Perdagangan futures fed funds bahkan tidak lagi memperkirakan pemotongan suku bunga pada September.
Di samping itu, ia mengatakan laba perusahaan cukup baik meski saat ini sentimennya sangat sulit. Ia juga menyebut kenaikan harga minyak juga turut memengaruhi sentimen pasar.
“Sementara valuasi ekuitas sebelumnya juga mencerminkan jalur suku bunga yang kini mulai dipertanyakan,” kata Aspell.
