Aksi Baru Danantara: Terbitkan Surat Utang Jangka Menengah Rp 7 Triliun
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) akan menerbitkan instrumen surat utang jangka menengah atau medium term notes (MTN). Nilai total surat utang yang bakal dikeluarkan lewat PT Danantara Investment Management itu mencapai Rp 7 triliun.
MTN adalah instrumen utang yang diterbitkan perusahaan untuk memperoleh pendanaan dengan tenor umumnya 1 hingga 10 tahun. Instrumen ini biasanya diterbitkan melalui skema private placement kepada investor institusi tanpa melalui penawaran umum. Dengan begitu, prosesnya relatif lebih cepat dan fleksibel dibandingkan obligasi konvensional.
Merujuk data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dengan nomor KSEI-1874/DIR/0326, penerbitan MTN oleh Danantara kali ini terbagi menjadi dua seri, yakni Seri A dan Seri B. Tenor masing-masing lima dan tujuh tahun.
Secara terperinci, MTN Seri A dengan kode efek DNTR02A1JP memiliki nilai nominal Rp 3,5 triliun dengan tanggal jatuh tempo pada 18 Maret 2031 atau bertenor lima tahun.
Sementara itu, MTN Seri B dengan kode efek DNTR02B1JP juga memiliki nilai nominal Rp 3,5 triliun, namun menawarkan tenor lebih panjang yakni tujuh tahun dengan jatuh tempo pada 17 Maret 2033.
“Oleh karenanya, penerbit efek (Danantara) serta pihak terkait dalam penerbitan EBUS bertanggung jawab atas kesesuaian penerbitan EBUS tersebut dengan peraturan perundang-undangan,” ungkap Direktur Penyelesaian, Kustodian dan Pengawasan KSEI, Eqy Essiqy, dalam pengumuman KSEI, dikutip Senin (16/3).
Sebelumnya, Danantara telah menerbitkan Obligasi Patriotik atau Patriot Bond senilai US$ 3,1 miliar atau sekitar Rp 50 triliun. Instrumen ini digunakan untuk mendanai proyek waste to energy (WtE) atau pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa).
Dalam skema tersebut, Patriot Bond dimanfaatkan sebagai pembiayaan ekuitas. Melalui mekanisme ini, Danantara akan membeli saham perusahaan patungan yang mengoperasikan fasilitas WtE guna mendukung pendanaan proyek.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Patria Sjahrir mengatakan, kontribusi Patriot Bond dalam skema pembiayaan ekuitas tersebut masih belum dapat dipastikan secara terperinci.
Namun, dia memberi sinyal kepemilikan Danantara dalam setiap proyek WtE setidaknya mencapai 30%. Meski demikian, kepemilikan saham bukan menjadi fokus utama selama proyek dapat diselesaikan tepat waktu pada kuartal pertama tahun depan.
Ia memperkirakan sebagian besar pendanaan proyek WtE akan berasal dari pinjaman perbankan yang porsinya dapat mencapai 70%. Menurutnya, sejumlah bank baik dari dalam maupun luar negeri telah menunjukkan minat untuk terlibat dalam pembiayaan proyek tersebut.
Pandu menilai tingginya minat lembaga keuangan terhadap proyek WTE didorong oleh potensi tingkat pengembalian investasi yang dinilai menarik secara komersial. Namun, ia tidak merinci besaran tingkat pengembalian tersebut.
“Secara formasi modal, proyek WTE termasuk bagus karena banyak bank swasta nasional, bank asing, maupun bank pelat merah yang berminat. Proyek ini akan menjadi contoh pendanaan proyek dengan skema crowding-in,” ujar Pandu.
