Harga Emas Turun di Tengah Memanasnya Timur Tengah

Karunia Putri
16 Maret 2026, 15:58
harga emas
Unsplash
Perang yang terjadi di Timur Tengah saat ini tidak serta-merta memicu kenaikan harga emas (ilustrasi).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga emas spot turun di tengah memanasnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Pada perdagangan hari ini, Senin (16/3)  harga emas tercatat turun 0,97% ke level US$ 5.012 per troy ons.

Tekanan tersebut membuat sederet saham industri emas juga mengalami penurunan pada perdagangan sesi I. Sebut saja saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) turun 4,20% ke level Rp 3.650; PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) rontok 10,76% ke level Rp 705, dan; PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) turun 5,02% ke level Rp 3.030. 

Direktur PT Trijaya Pratama Futures, Ibrahim Assuaibi menjelaskan, perang yang terjadi di Timur Tengah kali ini tidak mendorong kenaikan harga emas, justru sebaliknya. Menurutnya, dalam keadaan perang saat ini, investor justru lebih memilih dolar AS sebagai aset safe haven (lindung nilai).

Lebih lanjut, dia menerangkan, harga komoditas yang naik pada saat perang berlangsung adalah minyak mentah. Sehingga, apabila harga minyak mentah melambung, maka akan berdampak kepada harga komoditas turunannya. Hal tersebut menyebabkan inflasi sehingga kemungkinan bank sentral AS akan menaikkan suku bunga.

“Sehingga dampak dari perang Timur Tengah ini bukan berdampak positif terhadap harga emas, emas dunia logam mulia, tetapi berdampak negatif,” kata Ibrahim kepada Katadata, Senin (16/3).

Ibrahim menilai kekhawatiran pasar menjelang pertemuan bank sentral pada Maret ini juga menjadi faktor yang menekan harga emas. Pasar memperkirakan otoritas moneter AS masih akan mempertahankan suku bunga di level tinggi.

Kendati demikian, Ibrahim masih optimistis harga emas berpotensi melonjak apabila konflik meningkat menjadi perang darat secara langsung antara Amerika Serikat dan Iran.

“Saat ini, perang ini adalah perang teknologi. Bukan perang secara fisik. Ini kita lagi melihat bahwa bisa-bisa dalam minggu depan (akan terjadi perang darat). Itu yang akan membuat harga emas dunia kembali melonjak,” ujarnya.

Prospek Emas dan Strategi Investasi Investor

Ibrahim menilai prospek emas dalam jangka menengah hingga panjang masih positif. Ia menyebut ketidakpastian geopolitik global dan dinamika kebijakan ekonomi Amerika Serikat akan tetap menjadi faktor pendorong kenaikan harga emas.

Ia juga menilai pergerakan harga emas saat ini dipengaruhi oleh peralihan minat investor ke komoditas energi, terutama minyak mentah seperti Brent dan crude oil. Menurutnya, banyak investor yang mengalihkan dana dari investasi logam mulia ke minyak mentah karena potensi keuntungan yang dinilai lebih menarik di tengah konflik geopolitik.

“Investor saat ini lebih fokus ke minyak mentah, sehingga sebagian dana yang sebelumnya masuk ke logam mulia beralih ke minyak,” ujarnya.

Kendati begitu, Ibrahim tetap optimis harga emas berpotensi naik dalam jangka panjang. Ia memperkirakan harga emas dunia berpeluang menembus level US$ 6.000 per troy ons.

“Saya masih optimis ya. Saya masih optimis ke US$ 6.000. Saya masih optimis. Ini tinggal menunggu waktu saja,” kata Ibrahim.

Ia menyarankan investor yang ingin berinvestasi di emas untuk menggunakan dana jangka panjang dan tidak terburu-buru mengambil keuntungan.

Untuk strategi investasi emas dalam gejolak geopolitik seperti saat ini, Ibrahim menyarankan investor untuk wait and see terlebih dahulu. Dia pun menyarankan investor tidak terburu-buru mengambil keuntungan (take profit). Menurutnya, kondisi pasar saat ini justru lebih tepat dimanfaatkan untuk menunggu momentum kenaikan harga emas.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...