Defisit Rp 64 Triliun, Rugi Garuda (GIAA) Bengkak 343,5% jadi Rp 5,46 Triliun
Emiten maskapai penerbangan pelat merah PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) membukukan rugi jumbo sebesar US$ 322,48 juta atau sekitar Rp 5,46 triliun sepanjang tahun buku 2025. Rugi itu membengkak hingga 343,5% year on year (yoy) dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 72,70 juta atau sekitar Rp 1,23 triliun.
Tak hanya rugi, Garuda Indonesia juga mencatatkan difisit atau akumulasi rugi belum dicadangkan sebesar US$ 3,83 miliar atau sekitar Rp 64,84 triliun sepanjang 2025. Di samping itu, pendapatan usaha GIAA juga tercatat US$ 3,21 miliar atau sekitar Rp 223,94 triliun. Angka itu anjlok 5,85% yoy dari periode 2024 sebesar US$ 3,41 miliar atau sekitar Rp 57,82 triliun.
Secara rinci, dari segmen penerbangan berjadwal dari penumpang berkontribusi sebesar US$ 2,34 miliar. Lalu kargo dan dokumen sebesar US$ 165,85 juta sepannjang 2025. Sedangkan dari penerbangan tidak berjadwal dari haji sebesar US% 180,16 juta dan charter sebesar US$ 160,70 juta.
Di samping itu, pemeliharaan dan perbaikan pesawat Garuda Indonesia sebesar US$ 141,61 juta, pelayanan terkait penerbangan US$ 67,74 juta, dan biro perjalanan sebesar US$ 60,50 juta. Kemudian jasa boga sebesar US$ 52,29 juta, fasilitas US$ 17,29 juta, hotel US$ 12,20 juta, transportasi US$ 2,02 juta, dan lain-lain sebesar US$ 7,37 juta. Namun beban usaha Garuda Indonesia tercatat US$ 3,01 miliar atau sekitar Rp 52,53 triliun sepanjang 2025.
Apabila melihat dari sisi neraca, total aset Garuda Indonesia sebesar US$ 7,43 miliar atau sekitar Rp 125 triliun pada 2025. Sedangkan liabilitasnya tercatat US$ 7,33 miliar atau Rp 293,58 triliun dan total ekuisitasnya sebesar US$ 91,91 juta atau sekitar Rp 3,24 triliun tahun buku 2025.
Danantara Benah-Benah Garuda Indonesia
Seiring dengan itu, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia tengah meluncurkan strategi 2026 untuk memastikan keberlanjutan transformasi usai pemegang saham mayoritas Garuda itu menyuntik Rp 23 triliun pada tahun lalu.
Managing Director Stakeholders Management Danantara Indonesia, Rohan Hafas, menyampaikan tahun 2025 menjadi fase penguatan fundamental dan stabilisasi operasional Garuda Indonesia.
Pada periode ini, Danantara menilai 2025 sebagai tahap konsolidasi untuk memperkuat fondasi GIAA dan fokus pada peningkatan kesiapan armada secara bertahap, penguatan struktur permodalan, hingga penataan jaringan dan kapasitas penerbangan dengan pendekatan yang lebih hati-hati untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.
“Langkah-langkah tersebut dilakukan secara disiplin dan terukur, dengan memastikan seluruh proses berjalan sesuai tata kelola perusahaan yang baik serta prinsip komersial yang sehat,” kata Rohan dalam Exclusive Group Interview di Gedung Danantara, Jakarta, Kamis (26/2).
Langkah ini juga merupakan kelanjutan dari penggunaan dana penyertaan modal sebelumnya, di mana sekitar 63% dari injeksi modal senilai Rp 15 triliun dari total Rp23 triliun dialokasikan untuk Citilink. Rohan mengatakan itu dana itu terutama digunakan untuk kebutuhan perawatan armada yang sempat tertunda selama pandemi Covid-19. Ia mengatakan banyak pesawat Citilink yang tidak beroperasi dan jadwal servis menumpuk.
Lebih lanjut, Rohan juga mengaku hingga saat ini seluruh armada Garuda Indonesia dan Citilink belum sepenuhnya selesai menjalani perawatan sehingga jumlah pesawat yang dapat beroperasi masih terbatas. Kondisi ini, menurutnya, juga dialami maskapai swasta setelah pandemi Covid-19, meski dengan rasio yang berbeda.
Di samping itu dari total penyertaan modal sekitar Rp 23 triliun, sebagian dana lainnya digunakan Garuda Indonesia dan sekitar Rp 3 triliun untuk menyelesaikan kewajiban pembayaran bahan bakar pesawat yang tertunda. Hal itu karena selama periode pandemi aktivitas penerbangan menurun dan pendapatan terbatas.
“Tetapi, sisi lainnya, semester 2 tahun 2025, traffic penumpangnya Garuda naik 10,5% dari semester pertama 2025,” kata Rohan.
