Beda Nasib Kinerja Keuangan Emiten Boy Thohir MDKA dan MBMA
Dua emiten yang terafiliasi dengan konglomerat Garibaldi Thohir atau Boy Thohir, yakni PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), baru saja merilis laporan keuangan Tahun Buku 2025. Catatan finansial itu mengungkap kinerja yang beragam antara kedua emiten.
Berdasarkan laporan keuangannya, MDKA mencatatkan rugi bersih sebesar US$ 62,06 juta atau setara Rp 1,05 triliun sepanjang 2025. Angka tersebut naik 11,29% dibandingkan rugi tahun sebelumnya sebesar US$ 55,76 juta. Sejalan dengan itu, pendapatan perseroan juga turun menjadi US$ 1,89 miliar dari US$ 2,23 miliar secara tahunan atau year on year (YoY).
Adapun beban pokok pendapatan perseroan ikut turun dari US$ 2,06 miliar menjadi US$ 1,67 miliar secara YoY.
Di sisi operasional, Tambang Emas Tujuh Bukit yang dikelola MDKA menghasilkan 103.156 ons emas sepanjang 2025. Sementara itu, anak usaha MDKA, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), mencatat kemajuan dalam pengembangan Tambang Emas Pani.
Memasuki 2026, tambang tersebut telah memulai produksi perdana pada 14 Februari 2026 dan merealisasikan penjualan emas pertama kepada PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) pada 16 Maret 2026.
Manajemen menilai dimulainya produksi di Tambang Emas Pani akan menjadi tonggak penting dalam mendorong kinerja keuangan ke depan. Pada 2026, EMAS menargetkan produksi emas sebesar 100.000–115.000 ons, di samping produksi berkelanjutan dari Tambang Tujuh Bukit sebesar 80.000–90.000 ons.
Presiden Direktur MDKA, Albert Saputro mengatakan, Tahun 2025 menjadi periode penting dalam memperkuat fondasi operasional serta penyelesaian berbagai proyek strategis.
“Kami optimistis dapat melanjutkan momentum pertumbuhan dan menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (31/3).
Laba MBMA Naik 29% Jadi US$ 29,56 Juta
Berbeda dengan MDKA, kinerja MBMA justru menunjukkan pertumbuhan laba. Perseroan membukukan laba bersih sebesar US$ 29,56 juta atau setara Rp 501,76 miliar, naik 29,76% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$ 22,78 juta.
Walaupun demikian, pendapatan MBMA tercatat turun menjadi US$ 1,43 miliar dari US$ 1,84 miliar secara YoY. Penurunan ini diikuti oleh berkurangnya beban pokok pendapatan menjadi US$ 1,26 miliar dari US$ 1,73 miliar. Di sisi lain, beban penjualan dan pemasaran meningkat menjadi US$ 4,60 juta dari US$ 3,19 juta. Sementara beban umum dan administrasi turun tipis menjadi US$ 30,62 juta dari US$ 31,09 juta.
Kenaikan laba bersih MBMA turut ditopang oleh bagian keuntungan dari entitas asosiasi yang mencapai US$ 10,58 juta, berbalik dari rugi US$ 476 ribu pada tahun sebelumnya.
Secara operasional, tambang nikel Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) menjadi pendorong utama kinerja dengan peningkatan signifikan pada volume produksi. Produksi bijih saprolit mencapai 7 juta wet metric ton (wmt) dan limonit sebesar 14,7 juta wmt. Kinerja ini mendukung pasokan bahan baku bagi fasilitas hilir serta memperkuat integrasi bisnis.
Di sektor hilir, produksi nickel pig iron (NPI) tercatat sebesar 73.871 ton, sementara high-grade nickel matte (HGNM) mencapai sekitar 19.998 ton. Proyek high pressure acid leach (HPAL) juga menunjukkan progres positif dengan produksi mixed hydroxide precipitate (MHP) sekitar 25.994 ton.
Manajemen menyebut, di tengah pelemahan harga nikel global sepanjang 2025, perseroan mampu menjaga kinerja tetap resilien melalui peningkatan volume produksi, efisiensi operasional, serta optimalisasi integrasi rantai nilai dari hulu ke hilir.
Untuk 2026, MBMA menargetkan produksi bijih saprolit sebesar 8–10 juta wmt dan limonit 20–25 juta wmt. Produksi NPI ditargetkan mencapai 70.000–80.000 ton, sedangkan HGNM diproyeksikan sebesar 44.000–48.000 ton.
Selain itu, MBMA juga menargetkan produksi MHP sebesar 27.000–30.000 ton, seiring peningkatan efisiensi operasional dan penguatan pasokan bijih internal. Perseroan juga tengah mengembangkan proyek HPAL PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) dengan kapasitas 90.000 ton nikel per tahun, dengan target commissioning jalur pertama pada semester kedua 2026.
