Meneropong Sektor Potensial IHSG di Kuartal II 2026, Ada Energi hingga Perbankan
Memasuki kuartal kedua 2026, investor dinilai perlu melakukan penyesuaian portofolio saham setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan beruntun sepanjang tiga bulan pertama tahun ini.
Sejumlah analis melihat sektor energi, komoditas, hingga perbankan bakal naik panggung pada periode April–Juni. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan mengatakan, saham-saham di sektor tersebut berpeluang menguat seiring dinamika global yang mendorong harga energi tetap tinggi.
Beberapa saham yang dinilai menarik antara lain PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA). Ketiganya berpotensi menjadi primadona karena didorong oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang menjaga harga energi tetap tinggi sehingga berdampak positif pada margin emiten.
“Konflik Timur Tengah jaga harga energi tinggi, margin emiten energi membaik,” kata David kepada Katadata, Selasa (31/3).
Selain itu, saham perbankan berkapitalisasi besar atau big caps juga dinilai tetap menarik. Emiten seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dipandang sebagai pilihan defensif. Ketiganya memiliki fundamental yang stabil dan likuiditas tinggi, sehingga berpotensi menjadi pintu masuk aliran dana asing ketika sentimen pasar kembali risk-on.
Di luar itu, sektor kendaraan listrik (EV), nikel, serta infrastruktur digital juga dinilai memiliki prospek cerah. Potensi tersebut ditopang oleh agenda hilirisasi nikel dan pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik, serta pertumbuhan kebutuhan data center dan jaringan fiber.
Investment Specialist Korea Investment Sekuritas Indonesia, Ahmad Faris Mu’tashim, menyoroti peluang di sektor batu bara. Ia menilai kenaikan harga minyak dunia mendorong batu bara menjadi alternatif sumber energi.
“Kami melihat sektor batubara, seiring kenaikan harga minyak dunia yang menyebabkan batubara sebagai subtitusi dalam menjadi sumber energi,” kata dia.
Beberapa saham yang direkomendasikan antara lain PT Indika Energy Tbk (INDY) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Dalam beberapa bulan ke depan, saham BUMI ditargetkan berada di level Rp 280, sementara INDY di kisaran Rp 3.700.
Ahmad menjelaskan, prospek kedua emiten tersebut juga didukung diversifikasi bisnis. INDY, misalnya, telah mengembangkan bisnis kendaraan listrik melalui entitas ALVA. Sementara BUMI mulai memperluas portofolio ke mineral tanah jarang setelah mengakuisisi Wolfram dan Jubilee.
