Babak Belur KInerja BUMN Konstruksi PPRE–PPRO, Rugi Tembus Rp 6 Triliun di 2025
Kinerja dua emiten konstruksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PT PP Presisi Tbk (PPRE) dan PT PP Properti Tbk (PPRO), babak belur sepanjang 2025. Kedua perusahaan di bawah PT PP (Persero) Tbk (PTPP) ini mencatatkan total kerugian jumbo hingga sekitar Rp 6 triliun. Kinerja PPRE malah berbalik dari laba pada tahun sebelumnya.
Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan, PPRE mencatatkan rugi bersih Rp 1,46 triliun sepanjang 2025. Angka itu berbalik dari laba pada tahun 2024 yang sempat mencatatkan keuntungan Rp 90,33 miliar. Jika dikalkulasikan rugi BUMN konstruksi itu terkontraksi 1.719% secara tahunan atau year on year (yoy).
Dari sisi pendapatan, PPRE masih mencatatkan kenaikan 4,09% yoy menjadi Rp 3,94 triliun, meningkat 4,09% dibandingkan Rp 3,79 triliun pada 2024. Namun, beban pokok pendapatan melonjak lebih tinggi, yakni 35,25% yoy menjadi Rp 4,07 triliun dari Rp 3,01 triliun pada 2024. Akibatnya, perseroan berbalik dari laba kotor Rp 778,22 miliar menjadi rugi kotor Rp 128,76 miliar atau anjlok 116,54% yoy.
Dari sisi operasional, beban usaha meningkat 3,95% yoy menjadi Rp 107,09 miliar. Kerugian penurunan nilai melonjak tajam 1.053,49% yoy menjadi Rp 656,03 miliar dari Rp 56,90 miliar. Beban keuangan juga naik 12,83% yoy menjadi Rp 374,27 miliar.
Di sisi lain, pendapatan lainnya tumbuh 34,71% yoy menjadi Rp 84,82 miliar, sementara beban lainnya naik 11,07% yoy menjadi Rp 57,46 miliar. Beban pajak final juga naik 7,61% yoy menjadi Rp102,17 miliar. Alhasil PPRE mencatat rugi sebelum pajak Rp 1,34 triliun, berbalik dari laba Rp 203,63 miliar atau rontok 758,52% yoy.
Setelah pajak, Perseroan membukukan rugi bersih Rp 1,35 triliun, berbalik dari laba Rp 194 miliar atau anjlok 796,55%. Sejalan dengan itu, rugi per saham dasar tercatat Rp 143,06, berbalik dari laba per saham Rp 8,84.
Bagaimana dengan PPRO?
Tak kalah berat, PPRO mencatatkan kerugian jauh lebih dalam. Sepanjang 2025, rugi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak menjadi Rp 4,83 triliun, naik 344,72% yoy.
Tekanan terhadap emiten konstruksi BUMN ini mencerminkan masih beratnya sektor properti dan konstruksi, di tengah tingginya beban bunga, tekanan arus kas, serta lambatnya realisasi proyek.
Tak hanya itu, pendapatan PPRO anjlok 29,51% yoy menjadi Rp 323,22 miliar pada 2025, dari Rp 458,50 miliar pada 2024. Sejalan dengan itu, beban pokok penjualan juga turun 30,92% yoy menjadi Rp 300 miliar dari Rp 434,45 miliar.
Sedangkan laba kotor tercatat Rp 23,14 miliar, turun 3,75% yoy dari Rp 24,04 miliar. Di sisi lain, beban usaha justru meningkat menjadi Rp 105,27 miliar dari Rp 84,35 miliar, atau naik 24,39% yoy.
Tekanan terbesar datang dari pos non-operasional. Perseroan membukukan beban penurunan nilai sebesar Rp 1,50 triliun, melonjak drastis dari Rp 51,6 miliar. Sementara itu, pendapatan lain-lain berbalik menjadi positif Rp 1,58 triliun dari sebelumnya negatif Rp 13,47 miliar.
VP Corporate Secretary PPRO Afrilia Pratiwi menyatakan bahwa langkah penataan yang dilakukan menjadi bagian krusial dalam memperkuat fundamental Perseroan secara menyeluruh.
Dalam upaya tersebut, PPRO juga menempuh sejumlah strategi, di antaranya memperkuat fundamental keuangan dengan menitikberatkan pada perbaikan arus kas operasional serta penurunan liabilitas secara bertahap.
Selain itu, PPRO mendorong pertumbuhan yang lebih berkualitas melalui peningkatan produktivitas dan kinerja operasional, termasuk lewat efisiensi biaya, optimalisasi produktivitas, penguatan pendapatan berulang (recurring income), serta memperluas kerja sama strategis guna mendukung pengembangan proyek-proyek prioritas.
“Percepatan monetisasi aset, dan peningkatan tata kelola perusahaan dan manajemen risiko yang terintegrasi,” ucapnya dalam keterangan resmi.
Manajemen menegaskan langkah restrukturisasi dan monetisasi aset menjadi kunci untuk memperbaiki fundamental, termasuk melalui efisiensi biaya, peningkatan pendapatan berulang, serta penguatan tata kelola dan manajemen risiko.
