Geliat Ekspansi Emiten Toto Sugiri (DCII) Dongrak Laba hingga 25,7% di 2025

Nur Hana Putri Nabila
1 April 2026, 12:13
CEO DCI Indonesia Otto Toto Sugiri dalam acara IDE Katadata 2025
YouTube IDE Katadata
CEO DCI Indonesia Otto Toto Sugiri dalam acara IDE Katadata 2025
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Emiten milik para konglomerat Otto Toto Sugiri, Marina Budiman, dan Han Arming Hanafia, PT DCI Indonesia Tbk (DCII) membukukan laba bersih pada 2025 mencapai Rp 1 triliun. Torehan itu meningkat 25,74% secara tahunan atau year on year (yoy) dari tahun 2024 Rp 796,82 miliar.

Sebagai penyedia infrastruktur pusat data di Indonesia, DCII meraup pendapatan sebesar Rp 2,54 triliun pada tahun buku 2025 atau melonjak 40,1% yoy. Sedangkan total aset DCII menjadi Rp 6,65 triliun, dengan total ekuitas sebesar Rp 4 triliun.

Adapun pundi-pundi kinerja DCII salah satunya ditopang dari beroperasinya secara penuh pusat data JK6 yang berlokasi di Kampus H1 Cibitung dengan kapasitas 36 megawatt (MW). Selain itu, DCII juga telah menyelesaikan pembangunan E2 Data Center Surabaya dengan kapasitas IT sebesar 9 MW yang mulai beroperasi secara komersial pada kuartal pertama 2026. 

Hingga saat ini, DCI Indonesia memiliki platform pusat data terbesar di Tanah Air dengan total kapasitas terpasang sebesar 128 megawatt (MW), dengan potensi pengembangan yang dapat mencapai lebih dari 2.000 MW yang tersebar di empat lokasi strategis. Adapun kapasitas layanan yang telah beroperasi saat ini mencapai 128 MW, misalnya di kampus H1 Jibitung, H2 Karawang, E1 Jakarta, dan E2 Surabaya. 

 Secara rinci, untuk segmen hyperscale, DCI memiliki H1 Campus di Cibitung dengan kapasitas IT sebesar 73 MW yang dapat ditingkatkan hingga 220 MW. Lalu H2 Campus di Karawang dengan kapasitas 27 MW yang berpotensi dikembangkan hingga lebih dari 600 MW.  Sementara itu, untuk segmen edge data center, DCI mengoperasikan E1 di Jakarta dengan kapasitas 19 MW dan E2 di Surabaya dengan kapasitas 9 MW.

Tak hanya itu, aksi ini juga sekaligus memperkuat konektivitas digital nasional, khususnya bagi wilayah Indonesia bagian timur. Penambahan kapasitas di Surabaya ini merupakan langkah awal ekspansi DCII untuk terus memperluas platform pusat data di Indonesia kedepannya.

Selain itu pengembangan ini sejalan dengan percepatan transformasi digital nasional seiring pemerataan infrastruktur pusat data yang menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang inklusif. 

Manajemen DCII melihat potensi Surabaya sebagai simpul konektivitas bagi kawasan Indonesia bagian timur. Perseroan memulai pengembangan platform pusat data melalui E2 Data Center Surabaya, sekaligus menghadirkan redundansi terhadap Jakarta serta mendukung kebutuhan trafik berlatensi rendah. 

“Ke depan perseroan akan terus meningkatkan kapasitas di Surabaya seiring dengan perkembangan permintaan pasar,” ungkap manajemen DCII dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (1/4). 

 Direktur Corporate Affairs DCII, Indri Koesindrijastoeti, mengatakan sepanjang 2025 DCII mengeksekusi ekspansi E2 Surabaya yang semakin memperkuat kapasitas dan platform pusat data DCII. 

“Ke depan, Perseroan akan terus mengembangkan infrastruktur pusat data berstandar global untuk mendukung kebutuhan AI, cloud, serta komputasi berdensitas tinggi di Indonesia,” kata Indri. 

Adapun pada 2026 Indri mengatakan DCII akan melanjutkan pengembangan DCI Platform melalui ekspansi kapasitas dengan time-to-market yang cepat dan konsisten. Infrastruktur pusat data DCII juga dirancang untuk mendukung beban kerja AI, komputasi berdensitas tinggi, hingga otomasi berbasis data sejalan dengan peningkatan kebutuhan cloud dan pemanfaatan artificial intelligence di Indonesia.

Strategi di Tengah Pesatnya Bisnis Data Center 

Seiring dengan itu, VP Market Development & Sales Strategy DCI Indonesia (DCII), Abieta Billy, mengatakan dalam persaingan industri pusat data ada sejumlah kriteria utama yang menjadi pertimbangan pelanggan, salah satunya adalah rekam jejak dalam melayani klien.

Ia menyebut saat ini DCII memiliki posisi kuat dengan lebih dari 270 pelanggan dan sekitar 80% merupakan perusahaan multinasional, termasuk perusahaan teknologi dan enterprise global. Ia mengklaim rekam jejak ini menjadi salah satu pembeda utama DCII dibandingkan para kompetitornya. 

“Itu yang pertama. Jadi, memberikan peace of mind bahwa kita sudah melayani banyak customer-customer yang besar dan lain-lain,” kata Billy dalam paparan publik, Senin (30/3).  

Billy juga mengatakan faktor yang menjadi keunggulan DCII adalah speed to market. Ia menjelaskan DCII mampu membangun pusat data dengan waktu yang relatif cepat, yakni kurang dari 12 bulan dari tahap awal hingga siap beroperasi. Menurutnya, keunggulan ini menjadi faktor penting dalam persaingan industri data center. Semakin cepat pembangunan pusat data, kata Billy, pelanggan juga dapat lebih cepat memanfaatkan layanan dan juga cepat menghasilkan pendapatan. 

“Jadi kami dari DCII juga terus berinovasi dari sisi proses kami, dari sisi design dan arsitektur kami supaya kami bisa mendeliver kapasitas pusat data lebih cepat lagi daripada sebelumnya,” ucap Billy.

 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...