Jurus Wika Beton (WTON) Dapat Jaga Laba tatkala BUMN Karya Lain Merugi

Karunia Putri
7 April 2026, 10:02
Wika Beton
Wika Beton
Logo Wika Beton (WTON).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) atau Wika Beton membeberkan strategi perseroan dapat mencetak laba di kala emiten BUMN di bidang konstruksi lainnya merugi. Meskipun meraup untung, laba WTON pada 2025 tercatat menurun dibandingkan tahun sebelumnya.

Direktur Utama WTON, Kuntjara mengatakan, banyaknya lini portofolio bisnis menjadi kunci catatan kinerja positif perseroan. Adapun WTON memiliki lini usaha mulai dari produksi beton yang didukung 14 pabrik dan satu mobile concrete hingga jasa konstruksi.

Di jasa konstruksi, perseroan terlibat dalam sejumlah proyek infrastruktur strategis, seperti MRT dan LRT Jakarta. Dalam proyek tersebut, WTON menyuplai berbagai komponen mulai dari box girder, spun pile hingga bantalan rel dan ballast-less slab track untuk meningkatkan stabilitas jalur, termasuk pada proyek LRT Fase 1A dan 1B serta MRT Fase 2A CP205.

Selain memperkuat portofolio, WTON juga melakukan transformasi proses produksi dalam dua tahun terakhir. Kuntjara menyebut penerapan lean process dilakukan secara nyata untuk meningkatkan efisiensi operasional.

“Dua tahun terakhir WTON melakukan transformasi di proses produksi, sehingga yang dinamakan lean process itu bukan jargon, memang kita lakukan betul-betul,” kata Kuntjara kepada wartawan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (6/4).

Adapun upaya efisiensi dilakukan dengan menekan biaya produksi, termasuk menggunakan beton yang lebih kompetitif. Perseroan juga fokus mengurangi pemborosan (waste) yang selama ini menjadi tantangan dalam proyek konstruksi.

Dia menjelaskan, pengendalian waste dilakukan dengan memanfaatkan teknologi digital, seperti perangkat lunak dan kecerdasan buatan (AI) serta sistem manajemen konstruksi. Langkah, kata dia, dapat meningkatkan efisiensi sekaligus menekan biaya operasional.

Di sisi lain, WTON juga mulai menggunakan material ramah lingkungan berupa fly ash sebagai pengganti sebagian komponen semen. Selain lebih efisien secara biaya, penggunaan fly ash juga mendukung aspek keberlanjutan.

Menurut Kuntjara, penggunaan fly ash sebelumnya terkendala statusnya sebagai limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Namun, perubahan regulasi memungkinkan material tersebut dimanfaatkan, dengan catatan tetap memperhatikan komposisi agar kekuatan beton tetap terjaga.

“Inovasi produksi, inovasi proses. Alhamdulillah, kita 2025 masih positif,” kata dia.

Adapun WTON mencatatkan laba bersih sebesar Rp 40,02 miliar sepanjang 2025, turun 38% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 65 miliar. Hal itu seiring dengan pendapatan usaha perusahaan yang  turun dari Rp 4,9 triliun menjadi Rp 3,59 triliun.

Kendati demikian, WTON tercatat telah mengamankan omzet kontrak baru sebesar Rp 4 triliun hingga akhir 2025. Berdasarkan laporan kinerja tahunan, perolehan kontrak tersebut didorong oleh strategi diversifikasi portofolio dengan sektor infrastruktur berkontribusi mendominasi sebesar 55,53%. 

Selain itu, sektor industri menyumbang 17,19%, diikuti sektor kelistrikan 11,17%, serta sektor pendukung lainnya sebesar 16,11%. Jika melihat komposisinya, pelanggan WIKA Beton didominasi oleh sektor swasta dengan porsi mencapai 54,86%.  

Sementara itu, kontribusi dari BUMN tercatat sebesar 21,65%, kemitraan strategis melalui skema KSO atau JO sebesar 18,32%, dan serapan internal dari induk usaha sebesar 5,17%. 

Adapun dari sisi neraca, WIKA Beton berhasil melakukan aksi deleveraging dan menurunkan total liabilitas sebesar 25,76% dari Rp 3,5 triliun pada 2024 menjadi Rp 2,60 triliun. Penurunan ini dipicu oleh pelunasan sebagian utang usaha senilai Rp 548,64 miliar dan pengurangan utang jangka panjang sebesar Rp 134,32 miliar.

Perusahaan juga melakukan perbaikan struktur modal yang terefleksi pada penurunan rasio utang terhadap ekuitas atau debt to equity ratio (DER) dari 95,15% menjadi 70,66% pada akhir 2025. Dari sisi likuiditas, tingkat kesehatan perusahaan juga membaik dengan kenaikan current ratio ke level 130,42%. 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...