Unilever Indonesia (UNVR) Disebut Berencana Jual Bisnis Jus Buavita
PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk menjual bisnis jus bermerek Buavita. Mengutip Dealstreet Asia, langkah ini menjadi bagian dari strategi perseroan untuk merampingkan operasional dengan keluar dari kategori non-inti dan fokus pada segmen dengan pertumbuhan dan margin yang lebih tinggi di pasar domestik.
Tak hanya itu, rencana ini melanjutkan aksi korporasi UNVR pada Januari lalu. Sebelumnya UNVR telah mengumumkan telah menjual bisnis merek teh legendaris SariWangi kepada Savoria Kreasi Rasa, unit usaha dari Grup Djarum senilai sekitar Rp 1,5 triliun.
Sumber Dealstreet Asia juga menyebut UBS kemungkinan telah ditunjuk sebagai penasihat dalam potensi divestasi Buavita. Adapun UBS sempat mempertimbangkan untuk menggabungkan penjualan SariWangi dan Buavita dalam satu proses transaksi.
“Namun pada akhirnya memilih untuk menjalankannya secara terpisah, mengingat kategori produk yang berbeda dan profil calon pembeli yang berbeda pula,” kata sumber anonim itu, dikutip Dealstreet Asia, Kamis (9/4).
Katadata telah meminta konfirmasi kepada manajemen Unilever Indonesia. Namun belum menjawab hingga berita ini ditayangkan. Meski begitu manajemen global Unilever sebelumnya telah merencanakan langkah strategis untuk memperkuat bisnis.
Dalam pengumuman terbaru Unilever menyebut telah ada kesepakatan antara Unilever PLC dengan McCormick & Company, Inc untuk menggabungkan bisnis makanan Unilever Foods dengan McCormick. Bisnis gabungan ini akan mencakup merek-merek ikonik terkemuka termasuk McCormick, Knorr, dan Hellmann’s, serta merek-merek dengan potensi pertumbuhan tinggi termasuk Cholula, Maille, dan Frank’s, sebagai bagian dari portofolio global dengan pendapatan sebesar US$20 miliar.
“Penggabungan ini akan menciptakan kekuatan global yang berskala besar di bidang makanan, menyatukan dua bisnis makanan terkemuka di industri yang selaras secara budaya dengan momentum yang kuat, pertumbuhan pendapatan yang unggul, dan peningkatan penciptaan nilai,” tulis Unilever seperti dikutip dari penjelasan resmi.
Pemisahan Unilever Foods akan memposisikan Unilever sebagai perusahaan HPC (High Pressure Processing) murni terkemuka. Setelah penyelesaian transaksi, Unilever akan beroperasi di sektor Kecantikan, Kesehatan, Perawatan Pribadi, dan Perawatan Rumah Tangga.
“Transaksi ini merupakan langkah penting lainnya untuk membentuk kembali Unilever menjadi perusahaan yang lebih sederhana, lebih tajam, dan lebih cepat berkembang, yang dibangun di atas kemampuan sinergis di seluruh inovasi berbasis sains, penciptaan permintaan, dan eksekusi operasional,” tulis manajemen lagi.
Strategi Bisnis Unilever
Sebelumnya Unilever Indonesia juga telah menandatangani kontrak penjualan bisnis es krimnya kepada PT The Magnum Ice Cream Indonesia senilai Rp 7 triliun pada 22 November 2024. UNVR menjelaskan, penjualan bisnis es krim tersebut merupakan bagian dari strategi global Unilever Plc.
Nilai transaksi ini (tidak termasuk PPN) mencakup nilai pasar aset tetap sebesar Rp 2,55 triliun, nilai buku bersih per September 2024 sebesar Rp 1,99 triliun, dan nilai persediaan per September 2024 sebesar Rp 172,8 miliar.
Unilever Indonesia juga mencatat total aset bisnis teh bermerek “Sariwangi” setara dengan 2,5% dari total aset perusahaan. Kontribusi laba bersih bisnis ini 3,1% terhadap laba bersih. Sementara pendapatan usaha dari bisnis teh Sariwangi berkontribusi sekitar 2,7% terhadap total pendapatan usaha Unilever Indonesia.
Adapun Unilever Indonesia mencatatkan laba bersih Rp 7,64 triliun sepanjang 2025, atau meningkat 126,87% dibandingkan tahun sebelumnya Rp 3,36 triliun.
Merujuk laporan keuangan perusahaan per Desember 2025, UNVR membukukan penjualan bersih Rp 31,94 triliun atau naik 4,31%. Kontributor terbesar perusahaan masih berasal dari segmen kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh Rp 23,35 triliun, sedangkan makanan dan minuman Rp 8,58 triliun.
Sementara itu, harga pokok penjualan perseroan tercatat naik dari Rp 16,06 triliun menjadi Rp 16,94 triliun. Laba bruto perseroan naik dari Rp 14,55 triliun menjadi Rp 14,99 triliun.
Setelah dikurangi beban pemasaran dan penjualan sebesar Rp 7,39 triliun, beban umum dan administrasi sebesar Rp 2,96 triliun dan beban lain-lain Rp 44,68 triliun, UNVR mencetak laba usaha Rp 4,59 triliun. Dari sisi neraca, total aset perusahaan Rp 20,01 triliun dan jumlah liabilitas Rp 15,54 triliun.
