Pasar RI Kembali Merah Sehari Setelah Rilis FTSE, IHSG Turun Apa Pemicunya?

Karunia Putri
9 April 2026, 12:47
Layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (9/3/2026). IHSG ditutup melemah 3,27% ke 7.337 pada perdagangan awal pekan ini dengan nilai transaksi saham sebesar Rp 23,76 triliu
Katadata/Fauza Syahputra
Layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (9/3/2026). IHSG ditutup melemah 3,27% ke 7.337 pada perdagangan awal pekan ini dengan nilai transaksi saham sebesar Rp 23,76 triliun, volume 46,63 miliar saham dan frekuensi sebanyak 2,47 juta kali.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Sehari setelah pengumuman yang disampaikan pengelola indeks global Financial Times Stock Exchange atau FTSE Russell tidak menggeser status pasar saham Indonesia dari posisi pasar pengembangan sekunder Indonesia atau secondary emerging market, pasar kembali merah. Padahal keputusan FTSE kemarin tampak disambut positif oleh pelaku pasar. 

Sentimen tersebut langsung tercermin pada perdagangan Rabu (8/4), ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melonjak 4,45% atau 308,18 poin ke level 7.279.

Mengacu data Bursa Efek Indonesia, volume transaksi perdagangan mencapai 42,90 miliar saham dengan frekuensi 2,42 juta kali. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp 12.774 triliun, sementara total nilai transaksi menyentuh Rp 22,55 triliun. Kendati demikian, IHSG turun 0,15% atau 11,18 poin ke level 7.268 pada perdagangan sesi pertama, Kamis (9/4). 

Dalam laporannya, FTSE Russell menilai Indonesia masih layak berada di kelompok pasar berkembang sekunder. “Pada tahap ini, status pasar berkembang sekunder Indonesia atau secondary emerging market status tidak berubah,” tulis FTSE dalam pengumumannya, Selasa (7/4).

Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia David Sutyanto menilai, keputusan tersebut sebagai sinyal penting bagi pasar saham RI. Dia mengatakan, kepastian status dari FTSE Russell memberikan fondasi psikologis yang kuat di tengah ketidakpastian global.

“Keputusan FTSE Russell untuk mempertahankan Indonesia pada kategori Secondary Emerging Market merupakan sinyal positif yang sangat penting bagi stabilitas dan kredibilitas pasar modal nasional,” ujar David dalam keterangan dikutip Rabu (8/4).

Menurut David, di tengah dinamika global yang fluktuatif, pengakuan ini menunjukkan arah reformasi pasar modal Indonesia sudah berada di jalur yang tepat. Ia juga menilai fundamental pasar domestik masih cukup solid.

Dia melanjutkan, dari sisi data, kapitalisasi pasar saham Indonesia tetap menjadi salah satu yang terbesar di kawasan ASEAN. Pada saat yang sama, basis investor domestik terus tumbuh signifikan dalam beberapa tahun terakhir, terutama didorong peningkatan partisipasi investor ritel.

“Pertumbuhan jumlah investor ritel yang pesat, didukung oleh digitalisasi dan inklusi keuangan, menjadi bantalan penting dalam menjaga stabilitas pasar di tengah potensi volatilitas aliran dana asing,” kata David.

Adapun FTSE Russell mencatat sejumlah perbaikan signifikan di pasar saham Indonesia, mulai dari peningkatan keterbukaan informasi pemegang saham, perluasan kategori klasifikasi investor hingga penyesuaian persyaratan minimum free float. Selain itu, penguatan alat pengawasan pasar menjadi faktor penting dalam mendorong transparansi dan integritas pasar modal Indonesia.

Langkah-langkah tersebut, kata David, dinilai mampu memperkuat tata kelola pasar secara menyeluruh, sekaligus meningkatkan kepercayaan investor global terhadap ekosistem investasi di dalam negeri.

David turut menyoroti peran Otoritas Jasa Keuangan, Bursa Efek Indonesia serta Kustodian Sentral Efek Indonesia dalam mendorong reformasi struktural yang dinilai menyasar akar persoalan pasar.

Ia mengapresiasi empat agenda utama yang telah dituntaskan, yakni keterbukaan data kepemilikan saham di atas 1%, implementasi sistem holding statement confirmation (HSC), penguatan klasifikasi investor hingga 39 kategori serta peningkatan batas minimum free float menjadi 15%.

“Hal ini merupakan langkah konkret yang langsung menyasar akar permasalahan pasar,” ujarnya.

Lebih lanjut, David menilai arah kebijakan tersebut sejalan dengan praktik terbaik global. Negara-negara yang berhasil naik kelas dalam klasifikasi indeks umumnya konsisten dalam memperbaiki transparansi, aksesibilitas, dan perlindungan investor.

“Dalam hal ini, Indonesia telah menunjukkan komitmen yang kuat untuk bergerak ke arah tersebut,” katanya.

Dengan kombinasi reformasi struktural dan dukungan fundamental pasar yang kuat, status Secondary Emerging Market tidak hanya berhasil dipertahankan, tetapi juga menjadi pijakan bagi Indonesia untuk melangkah ke level yang lebih tinggi dalam peta pasar modal global.

Pasar Asia juga Merah

Bukan hanya IHSG, indeks pasa kawasan Asia juga terpantau merah hari ini. Indeks Nikkei di Jepang turun 0,55% ke level 56.000, Hang Seng di Hong Kong turun 0,59% ke level 25.741 dan Shanghai Composite dari Cina turun 0,46% ke level 3.976.

Mengutip CNBC, lemahnya pasar Asia hari ini karena meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dinamika geopolitik di Timur Tengah. Sentimen negatif muncul setelah Ketua Parlemen Iran menuduh Amerika Serikat melanggar ketentuan dalam kesepakatan gencatan senjata yang baru berlangsung dua pekan.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu (8/4) mengumumkan kesepakatan gencatan senjata dua sisi, lebih dari sebulan sejak konflik dengan Iran memanas.

Dalam pernyataannya melalui platform Truth Social, Trump menyebut Amerika Serikat sepakat menangguhkan serangan terhadap Iran selama dua pekan. Ia juga mengungkapkan bahwa Washington telah menerima proposal 10 poin dari Teheran yang dinilai dapat menjadi dasar untuk membuka jalur negosiasi.

Namun demikian, implementasi gencatan senjata tersebut bergantung pada komitmen Iran untuk membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz. Pemerintah Iran menyatakan akan menghentikan operasi pertahanan apabila serangan terhadap wilayahnya benar-benar dihentikan.

Sementara itu, Israel dilaporkan turut menyetujui kesepakatan gencatan senjata tersebut, meski perkembangan di lapangan masih terus menjadi perhatian pelaku pasar global.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...