Unilever Indonesia (UNVR) Tepis Isu Penjualan Buavita, Apa Rencana Perseroan?

Karunia Putri
14 April 2026, 09:57
Unilever
Unilever Indonesia
Grha Unilever, kantor pusat PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) di kawasan SCBD, Jakarta.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) merespons rumor tentang rencana penjualan bisnis jus bermerek Buavita. Perseroan menegaskan, hingga saat ini tidak ada transaksi penjualan yang dilakukan.

Sekretaris Perusahaan UNVR, Mario Abdi Amrillah mengatakan, bisnis jus Buavita masih sepenuhnya dimiliki Unilever Indonesia. Dia juga memastikan belum ada penandatanganan perjanjian jual beli UNVR dengan pihak mana pun.

“Bisnis jus Buavita masih dimiliki oleh perseroan dan hingga saat ini, perseroan tidak pernah menandatangani perjanjian jual beli apa pun terkait transaksi penjualan bisnis jus Buavita kepada pihak mana pun,” ujarnya dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Selasa (14/4).

Dia menuturkan, jia ke depan terdapat aksi korporasi, perseroan akan menyampaikannya melalui keterbukaan informasi sesuai ketentuan yang berlaku.

“Pada tanggal surat ini tidak ada informasi atau kejadian material yang dapat memengaruhi kelangsungan hidup maupun harga saham perseroan yang harus disampaikan kepada masyarakat,” tuturnya.

Merujuk laporan keuangan Tahun Buku 2025, UNVR masih mencatatkan merek Buavita sebagai aset tak berwujud yang diperoleh pada 2008.

Sebelumnya, kabar mengenai potensi divestasi Buavita oleh UNVR mencuat setelah laporan DealStreetAsia menyebut emiten barang konsumsi itu tengah mempertimbangkan langkah tersebut. Upaya itu dikatakan menjadi bagian dari strategi perseroan untuk merampingkan operasional dengan keluar dari kategori noninti dan fokus pada segmen dengan pertumbuhan serta margin lebih tinggi di pasar domestik.

Sumber DealStreetAsia juga menyebut UBS kemungkinan telah ditunjuk sebagai penasihat dalam rencana divestasi tersebut. Bahkan, sempat muncul wacana untuk menggabungkan penjualan bisnis teh SariWangi dan Buavita dalam satu proses transaksi.

“Namun pada akhirnya memilih untuk menjalankannya secara terpisah, mengingat kategori produk yang berbeda dan profil calon pembeli yang berbeda pula,” kata sumber anonim itu, dikutip DealstreetAsia, Kamis (9/4).

Di sisi lain, perkembangan global juga terjadi di tubuh grup induk UNVR, Unilever PLC. Raksasa consumer goods global itu dikabarkan telah mencapai kesepakatan dengan McCormick & Company untuk menggabungkan bisnis Unilever Foods.

Entitas gabungan tersebut akan mencakup sejumlah merek global seperti McCormick, Knorr, dan Hellmann’s serta merek dengan potensi pertumbuhan tinggi seperti Cholula, Maille dan Frank’s RedHot. Portofolio itu disebut memiliki total pendapatan mencapai US$ 20 miliar.

Pemisahan bisnis Unilever Foods tersebut akan memosisikan Unilever sebagai perusahaan yang fokus pada segmen home and personal care (HPC). Setelah transaksi rampung, Unilever akan beroperasi di sektor kecantikan, kesehatan, perawatan pribadi, serta perawatan rumah tangga.

Laba Bersih UNVR Naik Jadi Rp 7,6 Triliun 

Naik sepanjang 2025, UNVR mencatatkan laba bersih Rp 7,64 triliun. Jumlah tersebut meningkat signifikan dengan kenaikan 126,87% dibandingkan dengan laba bersih UNVR pada 2024 senilai Rp 3,36 triliun. 

Merujuk laporan keuangan hingga Desember 2025 yang diterbitkan perusahaan, UNVR membukukan penjualan bersih sebesar Rp 31,94 triliun, naik 4,31% dibanding pendapatan perseroan pada tahun sebelumnya sebesar Rp 30,62 triliun. 

Produk-produk UNVR mayoritas banyak dijual di pasar domestik dengan raupan dana sebesar Rp 31 triliun, dibandingkan dengan penjualan bersih impor sebesar Rp 942,13 miliar.  

Hingga akhir 2025, kontributor terbesar perusahaan masih berasal dari segmen kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh sebesar Rp 23,35 triliun. Sementara itu, segmen makanan dan minuman mencatatkan penjualan Rp 8,58 triliun.  

Sementara itu, harga pokok penjualan perseroan tercatat naik dari Rp 16,06 triliun menjadi Rp 16,94 triliun secara tahunan atau year on year (YoY). Sehingga, laba bruto perseroan menjadi Rp 14,99 triliun dari Rp 14,55 triliun. 

Kemudian, setelah dikurangi beban pemasaran dan penjualan sebesar Rp 7,39 triliun, beban umum dan administrasi sebesar Rp 2,96 triliun dan beban lain-lain sebesar Rp 44,68 triliun, alhasil perseroan mencetak laba usaha sebesar Rp 4,59 triliun. 

Dari sisi neraca, total sset perusahaan sebesar Rp 20,01 triliun dan jumlah liabilitas sebesar Rp 15,54 triliun.

Rencana UNVR 2026

Dalam paparan publik UNVR yang digelar pada 12 Februari 2026 lalu, Direktur Utama UNVR Banjie Yap mengatakan, memasuki 2026, UNVR mengaku tetap fokus dan percaya diri dengan strategi yang dijalankan. Perseroan akan terus berinvestasi pada merek-merek utama dan saluran distribusi masa depan, sembari menjaga disiplin biaya dan kualitas eksekusi.

Untuk mengejar target pertumbuhan, UNVR mempertahankan sejumlah strategi utama. Di sisi portofolio produk, perseroan akan memperkuat merek-merek unggulan dan mengarahkan portofolio ke segmen dengan pertumbuhan lebih cepat.  

Pada sisi distribusi, UNVR mendorong ekspansi di saluran e-commerce serta kanal kesehatan dan kecantikan yang tengah berkembang pesat. Perseroan juga akan memperluas jangkauan ke perdagangan umum serta mentransformasikan model pemasaran agar bisnis lebih menguntungkan dan berkelanjutan.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...