Mengintip Arah Bisnis United Tractors (UNTR) di Proyek WtE Legok Nangka

Nur Hana Putri Nabila
16 April 2026, 19:08
Ilustrasi waste to energy
Vecteezy.com/Oleh Bilovus
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Emiten Grup Astra PT United Tractors Tbk (UNTR) tenggah menggencarkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) atau waste to energy (WtE) Legok Nangka, Bandung, Jawa Barat. Bisnis itu berjalan lewat anak usaha UNTR, PT Energia Prima Nusantara (EPN).

Dalam pelaksanaanya EPN merupakan bagian konsorsium PT Jabar Environmental Solutions yang memenangkan lelang PLTSa Legok Nangka pada 2023. Mayoritas saham Jabar Environmental Solutions digenggam Sumitomo Corporation sebesar 60%, EPN sebesar 30%, dan sisanya Hitachi Zosen Corporation.

Corporate Secretary United Tractors, Ari Setiawan, mengatakan kapasitas WtE itu saat ini sekitar 40 megawatt (MW) dan diharapkan bisa commercial operation date (COD) pada 2029 mendatang. 

“Yang diharapkan nanti pembangunan kemudian beroperasi pada tahun 2029, diharapkan ya,” kata Ari ketika ditemui di Menara Astra, Jakarta, Kamis (16/4). 

Adapun United Tractors pada 26 Maret 2026, bersama PT Jabar Environmental Solutions (JES) menandatangani perjanjian pinjaman senilai US$ 10 juta atau sekitar Rp 170 miliar (kurs 17.000 per dolar AS). Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung kegiatan operasional JES.

“Secara bisnis bagi UNTR akan lebih menguntungkan apabila memberikan pinjaman ini, dibandingkan apabila harus menyimpan dana kasnya di bank dengan rate deposito bank pada saat ini,” ucap Ari. 

Ari menjelaskan penempatan dana itu untuk mendukung operasional sekaligus pembangunan proyek waste-to-energy. Ia berharap dengan dana itu proyek tersebut dapat segera beroperasi.

Saat ini progresnya masih dalam tahap finalisasi penandatanganan Power Purchase Agreement (PPA) dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN). 

Meski begitu, kinerja United Tractors saat ini masih ditopang dari empat lini bisnis utama meski menghadapi tekanan. Tahun buku 2025 United Tractors membukukan pendapatan bersih konsolidasian sebesar Rp 131,3 triliun, turun 2% dibandingkan tahun sebelumnya.

Kontribusi terbesar berasal dari segmen kontraktor penambangan sebesar Rp 54,1 triliun, diikuti mesin konstruksi Rp 36,6 triliun. Selain itu juga ada pertambangan batu bara termal dan metalurgi Rp 24,2 triliun, dan pertambangan emas dan mineral lainnya Rp 14 triliun. 

Di antara seluruh segmen, hanya bisnis emas dan mineral lainnya yang mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 41%. 

Sejalan dengan itu, laba bersih UNTR turun 24% menjadi R p14,8 triliun. Penurunan ini terutama dipicu melemahnya kontribusi dari segmen kontraktor penambangan akibat curah hujan tinggi dan turunnya kinerja segmen batu bara karena harga jual yang lebih rendah.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...