S&P 500-Nasdaq Catat Rekor Baru, Wall Street Tersengat Sentimen Damai AS–Iran

Nur Hana Putri Nabila
17 April 2026, 06:25
Wall Street
Unsplash
Ilustrasi pergerakan indeks harga saham Wall Street di AS.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) naik pada perdagangan Kamis (16/4) karena investor optimistis kemungkinan konflik AS–Iran akan usai. Sentimen positif ini membawa S&P 500 dan Nasdaq Composite mencapai rekor tertinggi baru.

S&P 500 naik 0,26% ke level 7.041,28 dan Nasdaq menguat 0,36% ke posisi 24.102,70. Kinerja positif Nasdaq bahkan berlanjut hingga 12 sesi berturut-turut, menjadi reli terpanjang sejak 2009. Dow Jones Industrial Average menguat 115 poin atau 0,24% ke level 48.578,72. 

Secara mingguan, S&P 500 dan Nasdaq masing-masing melonjak 3,3% dan 5,2%, sedangkan Dow naik lebih dari 1%.

Lonjakan pasar didorong sentimen geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump mengungkapkan telah berbicara dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia menyebut Israel dan Lebanon sepakat melakukan gencatan senjata selama 10 hari yang dimulai pukul 17.00 waktu setempat.

Optimisme pasar juga ditopang harapan meredanya konflik di Timur Tengah, seiring peluang dimulainya kembali negosiasi antara AS dan Iran. Trump menyebut pembicaraan lanjutan kemungkinan berlangsung akhir pekan depan. Tak hanya itu Trump mengeklaim Iran ingin segera mencapai kesepakatan.

Merespons hal itu, reli saham dalam beberapa hari terakhir menghapus seluruh kerugian S&P 500 sejak awal konflik Iran. Bahkan, pada Rabu (15/4), S&P 500 untuk pertama kalinya ditutup di atas level 7.000, sementara Nasdaq menembus level 24.000.

Kendatipun begitu, pelaku pasar masih mewaspadai dampak ekonomi dari konflik tersebut. Kepala strategi investasi Sage Advisory, Rob Williams, memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS ke depan belum akan optimal.

Menurutnya, pasar memang menaruh harapan besar pada tercapainya kesepakatan dengan Iran. Namun, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) diperkirakan masih berada di kisaran 2% dan berpotensi turun di bawah level tersebut dalam beberapa kuartal mendatang.

“Saya tidak tahu apakah pasar sudah siap untuk itu,” tulis Williams, dikutip CNBC International, Jumat (17/4). 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...