Saham Minyak ENRG, ELSA dan AKRA Naik Seiring Lonjakan Harga Minyak Dunia
Sejumlah saham sektor energi, khususnya minyak bumi, bergerak naik pada perdagangan Senin (20/4). Kenaikan ini dipicu lonjakan harga minyak dunia setelah Angkatan Laut Amerika Serikat menyita kapal Iran, kemarin. Peristiwa tersebut kembali memanaskan tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 09.26 WIB, saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) melonjak 4,49% atau 80 poin ke level Rp 1.860. Sementara itu, PT Elnusa Tbk (ELSA) tumbuh 2,07% atau 15 poin ke level Rp 740, dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) bertambah 1,01% atau 15 poin ke level Rp 1.495.
Sejalan dengan itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut menguat 0,49% atau 37,40 poin ke posisi 7.671 pada pukul 09.29 WIB. Meski demikian, sejak awal tahun IHSG masih tercatat melemah 11,28%.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi menilai, ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah terutama karena adanya potensi gangguan di Selat Hormuz. Perairan tersebut menjadi jalur distribusi sekitar 20% minyak dunia telah meningkatkan sensitivitas pasar energi global.
Menurutnya, tekanan pasokan ini bukan sekadar sentimen, melainkan kondisi riil yang mendorong harga minyak mentah Indonesia (ICP) melonjak hingga US$ 102 per barel pada Maret lalu.
Ia menambahkan, meskipun Amerika Serikat berupaya meredam inflasi energi melalui kebijakan pembelian minyak Rusia, fundamental pasar masih menunjukkan pasokan yang ketat. Hal ini tercermin dari menipisnya cadangan di pusat penyimpanan utama seperti Cushing, AS.
“Harga energi secara struktural diprediksi akan tetap bertahan di level tinggi, meski terjadi koreksi jangka pendek,” ujar Imam dalam keterangannya dikutip Senin (20/4).
Dia menjelaskan, kenaikan harga energi juga mulai berdampak pada kualitas pertumbuhan ekonomi global yang tidak merata. Cina, misalnya, masih mencatat pertumbuhan solid sekitar 5%, namun mulai menghadapi tekanan dari sisi konsumsi domestik dan eksternal. Jika konflik di kawasan berlanjut, risiko terhadap permintaan global dinilai semakin besar.
Untuk periode 20–24 April 2026, Imam memperkirakan pergerakan pasar akan tetap didominasi sentimen geopolitik, khususnya perkembangan konflik di Timur Tengah dan dinamika di Selat Hormuz.
Sebelumnya, Angkatan Laut AS menyita kapal Iran di Teluk Oman setelah kapal tersebut tidak mengindahkan peringatan saat meninggalkan Selat Hormuz. Insiden ini terjadi di tengah aksi saling serang dan pengetatan kontrol di jalur pelayaran strategis tersebut.
Dampaknya, harga minyak Brent melonjak 5,8% menjadi US$ 95,65 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 7,0% ke level US$ 89,75 per barel. Harga gas di Eropa juga meningkat hingga 11%.
Situasi memanas setelah Iran kembali menutup akses Selat Hormuz, hanya beberapa hari setelah sempat membukanya pada Jumat (16/4). Penutupan ini dipicu blokade AS terhadap kapal-kapal yang berkaitan dengan Iran, yang dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Presiden AS Donald Trump menyatakan kapal tersebut ditembaki dan disita di Teluk Oman setelah mengabaikan peringatan. Insiden ini menjadi yang pertama dalam rangkaian blokade selama sepekan terakhir dan terjadi di tengah tarik-ulur peluang perundingan damai di Islamabad. Trump menyebut masih ada peluang kesepakatan, sementara Iran menilai prospek perjanjian belum jelas.
Kendati demikian, sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan impor minyak mentah (crude) asal Rusia kemungkinan dikirim ke Indonesia mulai bulan ini. Dia menyebut pemerintah memang menargetkan agar impor asal Rusia tiba secepatnya.
“Insyaallah kalau untuk crude mungkin bisa (dikirim) bulan ini,” kata Bahlil saat ditemui di kantornya, Jumat (17/4).
Impor komoditas energi Rusia ini merupakan salah satu hasil pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin pekan lalu. Dilanjutkan dengan pertemuan dirinya dengan Menteri Energi Rusia, Sergei Tsivilev. Bahlil mengatakan alasan impor Rusia ini dilakukan karena kondisi geopolitik dunia tidak menentu.
“Kita tidak bisa mengharapkan (pasokan) hanya dari satu negara, harus ada diversifikasi. Insyaallah (stok) crude kita akan semakin baik,” ujarnya.
Bahlil tak menjelaskan lebih lanjut apakah impor minyak mentah ini menggunakan pihak ketiga. Dia hanya menyebut kerja sama ini saling menguntungkan dan sesuai dengan aturan perundang-undangan.
