Asing Lego Saham Rp 41 T, HPAM: Domestik Jadi Penyelamat IHSG Jelang Review MSCI
Menjelang tinjauan (review) indeks MSCI pada Mei nanti, langkah regulator dalam mereformasi bursa dinilai krusial untuk menjaga kredibilitas pasar modal Indonesia. Kendati demikian, sentimen global yang kuat dinilai masih menjadi penghalang utama bagi kembalinya arus modal asing secara struktural ke Tanah Air.
Senior Vice President Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi Riawan menyatakan, penyesuaian mekanisme perdagangan dan penguatan integritas pasar yang dilakukan regulator memberikan sinyal positif bagi investor global.
"Langkah regulator sudah berada di arah yang tepat untuk menjaga kredibilitas pasar Indonesia. Reformasi ini cukup penting untuk mempertahankan Indonesia di level emerging market karena yang dinilai MSCI bukan hanya valuasi, tetapi juga aksesibilitas dan stabilitas pasar," ujar Reza kepada Katadata, Senin (20/4).
Meskipun fondasi domestik terus diperkuat, data menunjukkan tekanan jual asing masih membayangi Bursa Efek Indonesia (BEI). Dalam tiga bulan terakhir, tercatat dana asing yang keluar (outflow) telah mendekati angka Rp 41 triliun.
Reza menilai, derasnya arus keluar ini bukan disebabkan oleh kurangnya kepercayaan investor asing terhadap reformasi bursa, melainkan akibat faktor makro global yang tidak menentu. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, penguatan dolar AS, serta ekspektasi suku bunga global yang tetap tinggi menjadi alasan utama investor global menurunkan eksposur mereka di pasar negara berkembang (emerging markets).
"Outflow ini menunjukkan bahwa keputusan investor global saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal dibanding faktor domestik," katanya.
Investor Domestik Jadi Jangkar Stabilitas IHSG
Menariknya, di tengah aksi lepas saham oleh investor asing, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru menunjukkan ketangguhan dengan mencatatkan rebound dalam dua pekan terakhir. Reza melihat fenomena ini sebagai bukti bahwa struktur pasar modal Indonesia kini semakin dewasa.
Daya tahan pasar saat ini tidak lagi sepenuhnya bergantung pada aliran dana asing jangka pendek, melainkan telah ditopang secara kuat oleh institusi lokal dan investor ritel domestik.
"Investor domestik masih menjadi penyangga utama pasar. Ini mencerminkan struktur pasar Indonesia yang semakin mature. Reformasi regulator berperan menjaga fondasi pasar, sementara investor domestik menjadi jangkar stabilitas," tuturnya.
Menutup keterangannya, Reza menekankan bahwa kembalinya dana asing ke pasar modal Indonesia akan sangat bergantung pada meredanya risiko geopolitik dan ekonomi global. Dari perspektif HPAM, kondisi saat ini menjadi fase transisi yang penting.
Ke depan, Indonesia diharapkan terus memperkuat kedalaman pasar dan kualitas likuiditas agar tetap kompetitif di kawasan regional saat sentimen global mulai melandai.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) tengah mempercepat reformasi pasar modal. Upaya itu kian gencar menjelang review indeks MSCI pada bulan depan.
Sejauh ini, regulator pasar modal telah menuntaskan empat langkah strategis untuk memperkuat transparansi. Empat agenda itu antara lain mencakup pembukaan data kepemilikan saham di atas 1% kepada publik, serta kenaikan batas minimum free float menjadi 15% melalui penyesuaian Peraturan Bursa Nomor I-A.
Lalu, ada penguatan granularitas data investor oleh KSEI, hingga implementasi pengungkapan data kepemilikan saham terkonsentrasi atau high shareholding concentration (HSC).
