Wall Street Loyo Usai Reli Panjang, Konflik Iran-AS Memanas Lagi

Nur Hana Putri Nabila
21 April 2026, 06:33
Ilustrasi - Bursa Wall Street. ANTARA/Reuters/Mike Segar
Antara
Ilustrasi - Bursa Wall Street. ANTARA/Reuters/Mike Segar
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) terkoreksi usai reli panjang pada perdagangan Senin (20/4). Hal ini seiring meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran sepanjang akhir pekan.

Indeks S&P 500 turun 0,24% ke level 7.109,14 dan Nasdaq Composite melemah 0,26% ke 24.404,39. Penurunan ini mengakhiri reli selama 13 hari, yang menjadi tren kenaikan terpanjang sejak 1992. 

Adapun Dow Jones Industrial Average terkoreksi tipis 4,87 poin atau 0,01% ke 49.442,56. Berbeda arah, Russell 2000 justru naik 0,58% ke 2.792,96 dan mencetak rekor penutupan baru, serta menyentuh rekor intraday tertinggi sepanjang masa.

Pelaku pasar dinilai masih kesulitan memperhitungkan skenario terburuk dari konflik, mengingat indeks saham telah pulih dari area koreksi dan kembali mendekati level tertinggi sepanjang masa. Saham-saham teknologi masih mencatatkan kenaikan, tercermin dari kinerja  iShares Expanded Tech-Software Sector ETF (IGV) yang naik lebih dari 1%. 

Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa AS telah menembaki dan menyita kapal kargo berbendera Iran di Teluk Oman. Langkah ini diambil usai Iran menolak mengikuti putaran lanjutan pembicaraan damai yang direncanakan berlangsung di Pakistan. 

Trump juga menyebut kapal tersebut berada di bawah sanksi Departemen Keuangan AS dan kini berada dalam kendali penuh otoritas AS.  Trump juga mengancam akan menghancurkan infrastruktur penting Iran jika tidak ada kesepakatan. Adapun masa gencatan senjata kedua negara disebut akan segera berakhir pekan ini.

Kondisi itu langsung mendorong lonjakan pada harga minyak. Kontrak berjangka West Texas Intermediate naik 6,87% ke US$ 89,61 per barel, sedangkan Brent crude menguat 5,64% ke US$ 95,48 per barel.

Wall Street sempat mencatatkan kinerja positif dengan S&P 500 dan Nasdaq menyentuh rekor tertinggi, didorong meredanya ketegangan pasca gencatan senjata Iran-Lebanon dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, pembatasan kembali jalur pelayaran strategis tersebut memicu kekhawatiran baru di pasar.

Meski demikian, Kepala Ekuitas dan Manajer Portofolio Aptus Capital Advisors, David Wagner, menilai konflik dengan Iran kini tidak lagi menjadi faktor utama bagi pasar. Ia menilai reli saham masih berpotensi berlanjut, ditopang oleh kinerja laba perusahaan dalam S&P 500 yang dinilai cukup kuat untuk mendorong pasar ke level yang lebih tinggi.

“Sebenarnya ada prospek yang cukup baik untuk imbal hasil pasar ekuitas dalam waktu dekat berdasarkan ekspansi valuasi dan pertumbuhan laba,” ucap Wagner dikutip CNBC International, Selasa (21/4).

 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...