IHSG Rawan Turun, Analis Rekomendasikan Saham CDIA, BMRI, PTRO, PANI
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan pada perdagangan saham hari ini, Rabu (22/4). Pada perdagangan Selasa (21/4) kemarin, IHSG ditutup terkoreksi 0,46% ke level 7.559 dan tekanan jual masih mendominasi pergerakan pasar.
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai koreksi IHSG telah mencapai target minimal yang sebelumnya diproyeksikan sekaligus menutup gap terdekat.
Secara teknikal ia memperkirakan posisi IHSG saat ini berada di fase akhir wave [iv] pada skenario label hitam, atau sebagai alternatif di akhir wave [a] dari wave B pada label merah.
Dengan kondisi tersebut, IHSG dinilai masih berpotensi melanjutkan koreksi, dengan area terdekat diperkirakan menguji kisaran 7.245 hingga 7.447, sekaligus menutup sejumlah gap yang masih tersisa.
“Meskipun menguat, dalam jangka pendek kami perkirakan akan menguji 7.580–7.601,” tulis Herditya dalam risetnya, Rabu (22/4).
MNC Sekuritas menetapkan support IHSG berada di 7.488 dan 7.351. Sementara resistance terdekat IHSG berada di 7.700 dan 7.861.
Support adalah area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena daya beli saham naik.
Sementara resistance adalah tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar hingga laju kenaikan harga tertahan.
MNC Sekuritas merekomendasikan buy on weakness sejumlah saham. Salah satunya PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) dengan akumulasi beli di rentang Rp 1.045–Rp 1.115 dengan target harga di Rp 1.400–Rp 1.510, sementara level stop loss di bawah Rp 895.
Kemudian, PT Petrosea Tbk (PTRO) direkomendasikan buy on weakness pada area Rp 6.025–Rp 6.275 dengan target harga di Rp 6.950–Rp 7.600, serta stoploss di bawah Rp 5.900.
Sentimen IHSG
Phintraco Sekuritas menyebut secara teknikal, histogram MACD pada IHSG masih berada di area positif, meskipun mulai menunjukkan penyempitan. Sementara itu, Stochastic RSI tercatat masih berada di zona overbought dan mulai bergerak turun menuju area pivot.
Di sisi lain, IHSG juga telah menutup gap down di level 7.527 dan sejauh ini masih mampu bertahan di atas level psikologis 7.500.
“Sehingga diperkirakan IHSG akan bergerak pada kisaran 7.500–7.650.” tulis Phintraco dalam analisisnya, Rabu (22/4).
Di samping itu, MSCI mengumumkan masih membekukan rebalancing indeks saham Indonesia untuk periode Mei 2026. Namun, MSCI tidak lagi menyinggung potensi penurunan status pasar modal Indonesia ke frontier market sehingga meredakan salah satu kekhawatiran investor.
MSCI juga menyatakan masih akan mengevaluasi konsistensi dan efektivitas kebijakan baru, terutama terkait peningkatan transparansi data kepemilikan saham serta rencana kenaikan batas minimum free float menjadi 15%. Selain itu, pasar menantikan langkah MSCI dalam meninjau saham dengan kategori high shareholding concentration (HSC).
Sejalan dengan itu, saham seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) berpotensi dikeluarkan dari MSCI Global Standard Indexes, meskipun potensi tersebut dinilai sudah diantisipasi pelaku pasar. MSCI dijadwalkan memberikan pengumuman lanjutan pada Juni 2026.
Di sisi domestik, investor juga mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan (BI rate) di level 4,76% pada 22 April 2026. Selain itu, pasar menunggu rilis data pertumbuhan kredit Maret 2026 yang diproyeksikan melambat menjadi 7,5% dari 9,37% pada Februari 2026.
Phintraco merekomendasikan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), PT Petrosea Tbk (PTRO), PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), serta PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES).
