Jelang Merger dengan MyRepublic, Laba MORA Tumbuh 23%
PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) atau Moratelindo mencetak laba bersih Rp 128,82 miliar sepanjang kuartal pertama 2026. Angka tersebut tumbuh 23,16% dibandingkan laba bersih MORA pada periode yang sama tahun 2025 sebesar Rp 104,59 miliar.
Kinerja keuangan perseroan tercatat tumbuh menjelang efektifnya penggabungan usaha atau merger dengan entitas anak Grup Sinar Mas PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yaitu PT Eka Mas Republik atau MyRepublic. Penyelesaian merger ditargetkan rampung pada semester pertama tahun ini.
Dari pos operasional, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 962,60 miliar dari Rp 895,45 miliar secara tahunan atau year on year (YoY). Pendapatan perseroan berasal dari pendapatan dari kontrak dengan pelanggan penyelenggaraan telekomunikasi sebesar Rp 711,67 miliar dan non-penyelenggaraan telekomunikasi sebesar Rp 224,53 miliar.
Dengan begitu, jumlah pendapatan dari kontrak dengan pelanggan sebesar Rp 936,21 miliar kemudian ditambah dengan indefeasible right of use sebesar Rp 26,39 miliar.
Seiring dengan naiknya pendapatan perseroan, beban pokok pendapatan juga meningkat menjadi Rp 370,11 miliar dari Rp 327,57 miliar secara tahunan. Sementara itu, beban bunga dan keuangan perseroan berkurang dari Rp 132,86 miliar pada kuartal I 2025 menjadi Rp 108,04 miliar pada triwulan pertama tahun ini.
Adapun total aset perseroan sebesar Rp 14,92 triliun, naik dari Rp 14,76 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, jumlah ekuitas dan liabilitas pada triwulan pertama 2026 sebesar Rp 14,92 triliun.
Di pasar saham, harga saham MORA tercatat turun tipis 0,48% ke level 5.200 per saham. Apabila melihat lebih jauh, harga saham MORA anjlok 56,86% sejak awal tahun atau year to date (ytd).
Analis Phintraco Sekuritas menilai, meskipun pertumbuhan pendapatan tidak terlalu agresif, efisiensi pada beban keuangan mampu mendorong pertumbuhan laba yang lebih tinggi. “Menunjukkan adanya peningkatan kualitas laba melalui optimalisasi struktur pendanaan,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya dikutip Rabu (22/4).
Dari sisi valuasi, MORA saat ini diperdagangkan pada price to earnings ratio (PER) 275,49 kali dan price to book value (PBV) 15,61 kali, jauh di atas rata-rata subsektor telekomunikasi yang masing-masing berada di level 18,11 kali dan 2,21 kali.
