Saham Danamon (BDMN) Tembus ARA 25% di Tengah Kabar Merger dengan MUFG

Nur Hana Putri Nabila
22 April 2026, 16:25
Gedung Bank Danamon
Istimewa
Gedung Bank Danamon
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Saham PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) ditutup menyentuh batas tertinggi atau auto reject atas (ARA) 25% pada perdagangan saham hari ini, Rabu (22/4). Volume perdagangan tercatat 44,86 juta dengan nilai transaksi Rp 163,60 miliar dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 37,63 triliun. 

Secara performa dalam seminggu terakhir saham BDMN naik 55,24% dan melesat 62,45% dalam enam bulan terakhir. Kenaikan saham BDMN terjadi di tengah beredarnya kabar aksi korporasi terbaru. 

Berdasarkan rumor pasar, BDMN disebut akan merger dengan Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG).MUFG dikabarkan akan memasukkan asetnya ke dalam BDMN dengan valuasi sekitar Rp 8.000 per saham. Selain itu, beredar pula informasi bahwa pengumuman resmi berpotensi dilakukan pada 12 Mei.

Apabila skenario penggabungan tersebut terealisasi, entitas hasil merger disebut akan menempatkan MUFG sebagai bank terbesar kelima di Indonesia dari sisi aset.

Penulis Katadata telah meminta konfirmasi kepada Bank Danamon Indonesia. Chief Strategy Officer Danamon Reza Iskandar Sardjono mengatakan Danamon senantiasa berfokus dalam mengelola kegiatan usahanya sejalan dengan prioritas strategisnya. Meski begitu ia tak merespons atas kabar yang beredar. 

“Kami tidak dapat berkomentar terhadap rumor atau spekulasi. Pergerakan harga saham Danamon di pasar modal dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran dalam mekanisme pasar, yang seluruhnya berada di luar kendali Danamon," ujar Reza kepada Katadata.co.id. 

Adapun MUFG saat ini merupakan pemegang saham terbesar Bank Danamon dengan kepemilikan saham 91,47%. Adapun UBS AG London menggenggam saham 1,64%. 

Kinerja Tahun Buku 2025

Apabila menilik kinerja keuangan terakhir, PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) membukukan laba bersih konsolidasian setelah pajak dan kepentingan minoritas sebesar Rp 4 triliun pada 2025, tumbuh 14% dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan laba ditopang pertumbuhan pendapatan, efisiensi biaya, serta perbaikan biaya kredit (cost of credit) yang turun 10% secara tahunan. 

Chief Financial Officer (CFO) Danamon, Theresia Adriana mengatakan, laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) konsolidasian mencapai Rp 9,6 triliun, meningkat 4% secara tahunan. Kinerja tersebut mencerminkan pertumbuhan pendapatan operasional yang tetap solid di tengah dinamika industri perbankan. 

Dari sisi profitabilitas, margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) konsolidasian tercatat sebesar 7,7%. Perseroan juga menekankan prinsip kehati-hatian dalam ekspansi bisnis. “Ini tercermin pada kualitas aset Danamon yang tetap terjaga dengan baik pada semester kedua tahun 2025,” kata Theresia dalam paparan kinerja keuangan 2025 secara virtual, Kamis (19/2). 

Dia menyebutkan, kualitas aset menunjukkan perbaikan. Rasio loan at risk (LAR) turun 230 basis poin menjadi 8,3%. Sementara rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) membaik 20 basis poin menjadi 1,7%. Rasio pencadangan terhadap NPL (NPL coverage) mencapai 280,7%. Sementara cakupan LAR meningkat 560 basis poin menjadi 54,9%.

Likuiditas dan permodalan tetap kuat, tercermin dari liquidity coverage ratio (LCR) sebesar 158,9%, net stable funding ratio (NSFR) 117,9%, serta rasio kewajiban penyediaan modal minimum (KPMM) konsolidasian sebesar 25,4%. 

Total kredit dan trade finance konsolidasian Danamon mencapai Rp 212,7 triliun hingga 31 Desember 2025, tumbuh 9% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan kredit didorong oleh seluruh lini bisnis, mulai dari Enterprise Banking dan Financial Institution, SME Banking, Consumer Banking hingga Adira Finance.

Dana pihak ketiga (DPK) konsolidasian tumbuh 16% menjadi Rp 176,9 triliun. Simpanan giro dan tabungan atau current account and saving account (CASA) naik 18% secara tahunan menjadi Rp 75,2 triliun. 

Theresia menjelaskan, kinerja keuangan 2025 telah memperhitungkan dampak penggabungan usaha Mandala Finance dan Adira Finance yang berada dalam pengendalian yang sama oleh MUFG sejak 1 April 2024. Karena itu, terdapat perbedaan basis perbandingan dengan laporan keuangan 2024 yang dipublikasikan sebelumnya. 

Jika dampak penggabungan usaha tersebut dikecualikan, total kredit dan trade finance konsolidasian per akhir 2025 tercatat Rp 206,9 triliun, tumbuh 9% secara tahunan. Dana pihak ketiga meningkat 15% menjadi Rp 176,9 triliun. 

Pendapatan operasional konsolidasian mencapai Rp 19,5 triliun atau tumbuh 3% secara tahunan. PPOP tercatat Rp 8,6 triliun, naik 4%, sementara laba bersih setelah pajak sebesar Rp 3,9 triliun atau melonjak 21% dibandingkan tahun sebelumnya. 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...