Menyibak Konglomerasi Astra (ASII), Kisi Dividen - Pergantian Dirut Jelang RUPS

Karunia Putri
23 April 2026, 06:54
Menara Astra
Ilustrasi
Menara Astra
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Emiten raksasa otomotif PT Astra International Tbk (ASII) akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) hari ini, Kamis (23/4). Sejumlah agenda penting akan dibahas dalam rapat tersebut, mulai dari perubahan direksi dan komisaris hingga penetapan pembagian dividen tahun buku 2025.

Astra merupakan salah satu grup konglomerasi terbesar di Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada 1957 oleh William Soerjadjaja dan rekan-rekannya. Awalnya bergerak sebagai perusahaan dagang, Astra kini telah berkembang dengan 321 anak usaha di berbagai sektor, mulai dari otomotif hingga jasa keuangan.

Perjalanan Astra di pasar modal dimulai pada 4 April 1990, saat perusahaan resmi melantai di Bursa Efek Jakarta dengan kode saham ASII. Sejak itu, Astra terus memperluas bisnisnya, termasuk menjadi distributor kendaraan Toyota di Indonesia sejak 1969.

Astra yang saat ini dimiliki oleh keluarga Soerjadjaja mengalami perubahan kepemilikan. Pada 1993, William sebagai pendiri dan pemilik Astra melepas seluruh sahamnya untuk menutup dampak krisis Bank Summa yang dimiliki anak William, Edward Soeryadjaya. Saham tersebut kemudian dibeli oleh konsorsium yang terdiri dari pemerintah dan sejumlah konglomerat seperti Prajogo Pangestu hingga Salim.

Dalam perjalanannya, kepemilikan saham Astra juga sempat berpindah tangan ke Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), sebelum akhirnya dilepas melalui proses tender. Saat ini, sebanyak 50,11% saham Astra dikuasai oleh Jardine Cycle & Carriage Limited yang berbasis di Singapura. 

Seusai era William Soerjadjaja, kepemimpinan Astra sempat dipegang keponakannya Theodore Permadi Rachmat atau TP Rachmat pada 1989–1998 dan kembali menjabat pada 2000–2002.

Dia dikenal sebagai konglomerat pendiri Triputra Group. Kelomok usaha TP Rachmat berkembang menjadi konglomerasi dengan bisnis di sektor agribisnis, pertambangan, manufaktur, hingga distribusi kendaraan. Dia pun fokus ke bisnis pribadi dan keluar dari Astra.

Sementara itu, saat ini pengendali ASII merupakan Benjamin Herrenden Birks. dia memegang posisi senior di bidang retail, automotive, business outsourcing dan IT dalam Jardine Matheson Group. 

ASII Bakal Ganti Dirut, Siapa yang Akan Naik?

Pucuk pimpinan Astra saat ini dipegang oleh Djoni Bunarto Tjondro. Namun, dalam RUPST hari ini, perseroan disebutkan akan melakukan pergantian manajemen. Wakil Presiden Direktur Astra, Rudy disebut-sebut menjadi kandidat kuat untuk menggantikan Djoni.

Rudy bukan sosok baru di lingkungan Astra. Ia memulai karier di Astra sebagai Chief Corporate Planning pada 2000–2009. Kariernya kemudian berlanjut di sektor asuransi sebagai Direktur Keuangan di PT Asuransi Astra Buana, sebelum menjadi Direktur Independen sekaligus Direktur Keuangan di PT Astra Agro Lestari Tbk (ASGR).

Pada periode berikutnya, Rudy kembali ke Asuransi Astra dan menjabat Presiden Direktur pada 2017–2023. Ia kemudian mengemban sejumlah posisi strategis di Grup Astra, termasuk Wakil Presiden Direktur PT Sedaya Multi Investama serta Presiden Komisaris PT Astra Sedaya Finance.

Pada 2024, Rudy sempat menjabat sebagai Direktur Astra, sebelum akhirnya diangkat menjadi Wakil Presiden Direktur pada 2025. Dengan rekam jejak tersebut, ia dinilai memiliki pengalaman yang cukup kuat untuk memimpin Astra ke depan.

Cek Potensi Cuan Manajemen ASII dari Dividen

Saat ini, pemilik ASII adalah perusahaan induk investasi berbasis di Singapura bernama Jardine Cycle & Carriage Limited. Jardine menggenggam sebanyak 20,29 miliar saham ASII atau setara dengan 50,11% dari total saham beredar.

Kemudian, Toyota Motor Corporation memegang 4,74% saham ASII, DJS Ketenagakerjaan Program Jaminan Hari Tua sebesar 2,74%, Citibank New York Orbis Sicav sebesar 1,28%, Employees Provident Fund Board sebesar 1,28% dan ASII memegang 1,04% sahamnya.

Dalam data di atas 1% yang dibuka oleh Bursa Efek Indonesia, tak terlihat nama keluarga Soerjadjaja dalam kepemilikan saham ASII.

Para manajemen ASII juga tercatat memiliki sejumlah saham ASII meskipun angkanya di bawah 1%. Misalnya Presiden Direktur ASII Djoni yang memiliki 9,53 juta saham ASII atau setara dengan 0,02% dari total saham ASII yang beredar.

Adapun hal menarik lainnya yang dinantikan dalam RUPST ASII adalah pembagian dividen. Perseroan sebelumnya mengusulkan untuk membagikan dividen tunai sebesar Rp 292 per saham dalam RUPST hari ini. Sepanjang tahun 2025, perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 32,77 triliun. 

Dari laba tersebut, perseroan mengusulkan pembagian dividen tunai sebesar Rp 390 per saham. Jumlah tersebut termasuk dividen interim Rp 98 per saham yang telah dibayarkan pada Oktober tahun lalu.

Berikut estimasi cuan yang dikantongi para manajemen ASII jika perseroan akan membagikan dividen tunai Rp 292 per saham dalam RUPST ini.

Nama Jabatan  Jumlah SahamNilai Investasi (terhadap harga saham ASII Rp 6.600 per saham)Nilai Dividen(Asumsi dividen Rp 292 per Saham)
Djoni Bunarto TjondroPresiden Direktur9,53 jutaRp 62,89 miliarRp 2,78 miliar
SantosaDirektur7,83 jutaRp 51,67 miliarRp 2,28 miliar
Gidion HasanDirektur6,76 jutaRp 44,61 miliarRp 1,97 miliar
Hendry TanotoDirektur4,50 jutaRp 29,7 miliarRp 1,31 miliar
Prijono SugiartoKomisaris4,12 jutaRp 27,19 miliarRp 1,2 miliar
FXL KesumaDirektur3,80 jutaRp 25,08 miliarRp 1,10 miliar
Gita Tiffani BoerDirektur3,34 jutaRp 22,04 miliarRp 975,28 juta
Hamdani Dzulkarnaen SalimDirektur2,21 jutaRp 14,58 miliarRp 645,32 juta
Thomas Junaidi Alim WDirektur1,41 jutaRp 9,30 miliarRp 411,72 miliar
RudyWakil Presiden Direktur1,20 jutaRp 7,92 miliarRp 350,4 juta

(Sumber: olahan penulis)

Diversifikasi Bisnis Astra International (ASII) Sepanjang 2025

Predikat ASII sebagai salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia tak lepas dari strategi diversifikasi bisnis yang konsisten dijalankan perseroan. Sepanjang 2025, ASII tercatat melakukan ekspansi ke berbagai sektor.

Di sektor kesehatan, ASII mulai membangun ekosistem layanan yang lebih terintegrasi. Melalui PT Astra Sehat Nusantara, perseroan mengakuisisi 95,8% saham Rumah Sakit Heartology Cardiovascular senilai Rp 643 miliar. Langkah ini melengkapi investasi Astra sebelumnya di Rumah Sakit Hermina. 

Selain itu, ASII juga memperbesar kepemilikan di platform kesehatan digital Halodoc dengan tambahan investasi Rp 900 miliar pada Februari 2025, sehingga porsinya meningkat menjadi 31,3%. Tak hanya itu, melalui PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), perseroan juga meluncurkan 24 produk alat kesehatan bermerek GRIN untuk mendorong ketersediaan perangkat medis lokal.

Ekspansi juga dilakukan di sektor infrastruktur dan logistik. ASII memperkuat bisnis jalan tol melalui PT Astra Tol Nusantara yang mengelola sejumlah ruas strategis, termasuk jaringan Trans Jawa dan JORR. 

Lalu, sektor logistik. ASII lewat anak usahanya PT Astra Nusa Perdana mengoperasikan pelabuhan Eastkal dan pusat logistik di Penajam, Kalimantan Timur untuk mendukung sektor migas dan pertambangan. Perseroan juga mulai mengadopsi inisiatif berkelanjutan, seperti pemasangan panel surya di ruas tol, penggunaan biofuel, serta penyediaan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di sejumlah rest area.

Di lini otomotif, ASII mempercepat pengembangan ekosistem kendaraan listrik. Perseroan kini menawarkan puluhan model kendaraan berbasis listrik, baik battery electric vehicle (BEV) maupun hybrid electric vehicle (HEV). Untuk mendukung ekosistem tersebut, Astra melalui Astra Otopower juga memperluas jaringan SPKLU di berbagai lokasi strategis.

Sementara itu, ASII juga mulai memperkuat bisnis infrastruktur digital. Perseroan menjalin kemitraan dengan Equinix dengan kepemilikan saham sebesar 25%. Kolaborasi ini difokuskan pada pengembangan teknologi seperti hybrid multicloud, jaringan 5G, hingga kecerdasan buatan (AI). Inisiatif ini sekaligus mendukung pengembangan Internet of Things (IoT) dan memperkuat fondasi digital Astra.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...