Mengintip Peluang PT Timah Tbk (TINS) 2026 di Tengah Melajunya Industri AI

Karunia Putri
23 April 2026, 13:50
PT Timah Tbk
ANTARA FOTO/Andri Saputra/bar
Seorang pekerja menghitung balok timah hasil produksi di gudang penyimpanan di PT Timah Tbk (TINS) di Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (16/10/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Emiten pertambangan dan produksi timah milik negara, PT Timah Tbk (TINS), bakal memulihkan kapasitas produksi pada 2026 lewat hilirisasi. Apalagi. konsumsi timah juga diperkirakan naik terutama karena tumbuhnya permintaan industri manufaktur elektronik dan industri kecerdasan buatan (AI) yang melaju.

Sepanjang 2025, emiten pelat merah itu membukukan laba bersih sebesar Rp 1,31 triliun, naik 5,64% dibandingkan tahun sebelumnya Rp 1,24 triliun. Kinerja tersebut ditopang oleh kenaikan harga jual rata-rata timah.

Pendapatan perseroan tercatat Rp 11,55 triliun, tumbuh 6,41% secara tahunan atau year on year (YoY) dari Rp 10,86 triliun. Seiring dengan naiknya pendapatan perseroan, beban pokok ikut naik menjadi Rp 8,79 triliun. TINS membukukan laba usaha Rp 1,91 triliun dan EBITDA sebesar Rp 2,76 triliun.

Total aset meningkat 6,75% menjadi Rp 13,64 triliun, didorong kenaikan piutang usaha. Liabilitas juga naik tipis menjadi Rp 5,23 triliun dari Rp 5,19 triliun.

Direktur Utama TINS Restu Widiyantoro mengatakan, capaian laba tersebut setara 119% dari target RKAP 2025. “Perseroan kini fokus ke penguatan tata kelola pertimahan, optimalisasi kinerja operasi, pemasaran dan keuangan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (23/4).

Sepanjang tahun lalu, TINS melakukan efisiensi biaya dan pengelolaan liabilitas, termasuk menurunkan utang berbunga untuk menekan beban bunga. Di pasar global, harga timah menunjukkan tren kenaikan.

Rata-rata harga timah di London Metal Exchange (LME) mencapai US$ 34.119 per ton pada 2025, naik 13% secara tahunan. Kenaikan ini didorong oleh permintaan dari sektor semikonduktor, panel surya dan teknologi energi.

Namun, dari sisi operasional, produksi TINS justru menurun. Produksi bijih timah turun 4% menjadi 18.635 ton, sedangkan produksi logam timah turun 6% menjadi 17.815 ton. Penjualan logam juga turun 5% menjadi 16.634 ton.

Penurunan tersebut dipengaruhi oleh maraknya tambang ilegal serta kendala operasional di lapangan. Meskipun demikian, harga jual rata-rata timah naik 13% menjadi US$ 35.240 per ton, sehingga menopang kinerja keuangan.

Mayoritas penjualan TINS masih didominasi ekspor sebesar 95% dengan tujuan utama ke Singapura, Korea Selatan, Jepang hingga Eropa.

Memasuki 2026, perseroan menargetkan pemulihan produksi dan memperkuat hilirisasi. Permintaan timah diperkirakan meningkat seiring pertumbuhan industri elektronik, semikonduktor, dan teknologi digital (AI). Berdasarkan data Bloomberg, perkiraan harga timah pada 2026 berkisar antara US$ 33.500 perton hingga US$ 48.750 per ton.

Sejalan dengan itu, TINS akan fokus pada peningkatan produksi, diversifikasi produk, transformasi digital serta efisiensi berkelanjutan guna memanfaatkan momentum harga timah global yang masih tinggi.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...